Ada 50 Patahan Aktif di Sulawesi, Potensi Gempa Bermagintudo Hingga 7,1

Peta sebaran Gempa di Sulawesi. (Sumber: BMKG)

PALU, beritapalu | Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG stasiun Geofisika Palu, Hendrik Leopatty mengungkapkan, setidaknya ada 50 patahan aktif di Sulawesi dan berpotensi menimbulkan gempa bermagnitudo hingga 7,1.

Hal itu diungkapkan saat menyampaikan materi presentasinya pada diskusi akhir tahun bertema Tanggap Bencana  di Sulteng 2021 yang digelar secara daring oleh Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Sulteng, Senin (27/12/2021).

Hendrik mencatat, khusus di Sulawesi Tengah selama Januari hingga 23 Desemebr 2021, setidaknya telah terjadi 1.293 kali gempa bumi. Jika indikatornya adalah magnitudo, maka selama periode tersebut terjadi 1.130 kali gempa dengan magnitudo di bawah 4.0, sedangkan di atas 4.0 sebanyak 163 kali.

Jika berdasarkan kedalamannuya, BMKG mencatat 1.075 kali gempa dangkal, 213 mengengah, dan dalam sebanyak lima kali.

“Kalau berdasarkan jarak dari Kota Palu sejauh maksimal 200 kilomter hamper fifty-fifty, 617 kali local, dan 676 kali jauh,” urai Hendrik.

Menanggapi pertanyaan wartawan tentang potensi gempa yang masih tersimpan di sekitar Danau Matano, Hendrik mengiyakan. Menurutnya, sesar Matano punya potensi untuk melepaskan energinya hingga magnitudo 7,1.

“Dan kalau itu terjadi, bukan hanya warga di sekitar Morowali yang merasakan, tetapi juga Poso, Parigi, Donggala, Sigi, bahkan Palu juga akan merasakan,” sebutnya.

Namun kata Hendrik, itu hanya prediksi. Soal waktu, belum ada teknologi yang bisa memprediksinya.

“Jadi kalau ada yang mengatakan sebentar lagi ada gempa di sini atau di sana, pastikan bahwa itu hoax,” kata Hendrik.

Karenanya menurut Hendrik, mitigasi bencana mutlak dilakukan untuk meminimalisir dampak yang ditimbulkannya. Hal terkecil yang bisa dilakukan seperti pemahaman pada keluarga.

“Jika ada gempa, jangan panik. Karena kepanikan itu justru yang bisa melukai,” sebutnya.

Selain Hendrik yang mewakili BMKG Stasiun Geofisika Palu, sejumlah naras umber lainnya juga berbicara pada diskusi tersebut antara lain Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Palu Ridwal Lapasere, Bupati Sigi diwakili BPBD Sigi, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Sulteng Debrina Riawati.

Diskusi itu menyepakati bahwa penanggulangan bencana bukan hanya tanggung jawab satu pihak saja, melainkan semuanya ahrus terlibat di dalamnya. (afd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here