Sosialisasi OJK dan Indusrti Keuangan ke Guru SMP di Tojo Unauna

Kepala OJK Sulteng Gamal Abdul Kahar (tengah) berpose bersama para guru SMP usai sosialisasi OJK dan Industri Jasa Keuangan di Kabupaten Tojo Unauna, Kamis (26/6/2021). (Foto: HO-OJK Sulteng)

TOJO UNAUNA, beritapalu | Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulteng menggelar sosialisasi dan edukasi terkait lembaga OJK dan Industri Jasa Keuangan kepada guru IPS tingkat SMP se Kabupaten Tojo Una-Una, Kamis (24/6/2021).

Hadir pada kegiatan yang dihadiri sekitar 30 perwakilan guru itu antara lain Kepala OJK Sulteng Gamal Abdul Kahar, Asisten Bidang Administrasi Umum Sekda Kabupaten Tojo Una-Una Hambiah Sutedjo, dan Kepala Dinas Pendidikan dan Olahraga Kabupaten Tojo Una-Una Alimuddin Muhammad.

Kegiatan tersebut bertujuan untuk mengedukasi para guru yang notabene adalah pendidik dan pengajar sehingga dapat memahami dan menyadari peran industri jasa keuangan khususnya di Kabupaten Tojo Una-Una.

Asisten Bidang administrasi Umum Tojo Unauna Hambiah Sutedjo mengapresiasi kegiatan tersebut dan berharap dengan adanya sosialisasi terebut para guru dapat mengetahui produk dan layanan perbankan dan non perbankan serta manfaat dan resiko yang ditimbulkan.

“Ada dua hal utama yang perlu kita dorong yaitu perluasan akses keuangan masyarakat dan peningkatan literasi keuangan. Dalam mewujudkan itu semua, diperlukan sinergitas antara otoritas keuangan, pemerintah dan industri jasa keuangan,” ujar Hambiah.

Perluasan akses keuangan juga telah menjadi fokus dan prioritas Pemerintah dalam mendukung pembangunan nasional Indonesia. Kebijakan peningkatan akses layanan keuangan formal bagi masyarakat diharapkan dapat mendukung Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 terutama dalam upaya untuk memperkuat ketahanan ekonomi untuk pertumbuhan yang berkualitas serta mengembangkan wilayah untuk mengurangi kesenjangan.

Kepala OJK Sulteng Gamal Abdul Kahar mengatakan, Presiden Republik Indonesia mengarahkan bahwa pencapaian target inklusi keuangan pada tahun 2024 menjadi sebesar 90 persen.

“Untuk itu, perlu adanya strategi literasi dan inklusi keuangan yang dapat mendorong masyarakat yang well literate dan financially inclusive salah satunya melalui kegiatan sosialisasi yang terselenggara saat ini,” sebut Gamal. (afd/*)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here