Perubahan Iklim yang Terus Menggerus Petani Padi Sawah

PHOTO STORY:

 

Setelah molor dari jadawal tanam seharusnya, akhirnya petani ini membajak sawahnya untuk ditanami padi. (foto: Basri Marzuki)

SALMAN (43 tahun) meneriaki dua ekor sapinya yang menarik bajak agar terus bergerak menyusuri sawah yang sudah terendam dengan air sejak dua hari lalu. Ia berharap, dalam seminggu ke depan, sawah yang luasnya tidak sampai setengah hektar itu sudah dapat ditanami padi.

Setelah sawah dibajak dan cukup “matang” untuk ditanami, maka saatnya membuat penanda tanam bibit. (foto: Basri Marzuki)

Penanggalan saat Salman membajak sawahnya itu tepat pada 1 November 2021, mundur hampir dua bulan dari waktu seharusnya mempersiapkan penanaman padi seperti lazimnya disuarakan para penyuluh pertanian di wilayahnya.

“Seharusnya September lalu sudah ditanam, tapi belum ada air, jadi mundur. Tidak mungkin kami menanam padi jika tidak ada air,” aku Salman.

Di tempat lainnya di Desa Porame, petani mempercepat waktu tanamnya yang sudah telat tanpa pembibitan lagi. Mereka langsung menaburnya di permukaan sawah. (foto: Basri Marzuki)

Salman yang berusaha tani padi sawah di wilayah administratif Desa Porame, Kecamatan Kinovaro, Kabupaten Sigi itu hanyalah salah satu dari sekian banyak petani yang harus melakukan penyesuaian pola tanam akibat ketidakmenentuan cuaca.

Risiko menanam tidak serentak adalah berhadapan dengan hama. Karenanya pemupukan meski mebebani ongkos usaha tani, namun sudah menjadi bagian yang mutlak dilakukan setiap petani. (foto: Basri Marzuki)

Pola tanam serentak kedua bagi padi sawah yang seharusnya dilakukan antara bulan September dan Oktober setiap tahunnya, terus bergeser mundur. Sebelumnya bergeser ke November, namun belakangan ini mundur lagi hingga ke Desember bahkan melompat ke Januari.

Pemupukan saja tidak cukup, pengaturan air pada tanaman padi mesti seimbang. Persoalan jika saluran irigasi juga ikut rusak. Kementerian Pertanian menyebut, setidaknya 70 persen irigasi di Indonesia mengalami kerusakan. Beban petani kian berat. (foto: Basri Marzuki)

Salman dan juga petani lainnya tak kuasa bertahan, ia harus bertaruh dengan risiko gagal panen atau serangan hama akibat ketidakpatuhannya pada anjuran tanam serentak.

“Mau apalagi, padi butuh air, nah kalau tidak ada air, bagaimana mungkin padi bisa tumbuh,” lanjutnya.

Tanaman padi sudah tumbuh, bukan berarti masalah bagi petani sudah selesai. (foto: Basri Marzuki)

Apa boleh buat, Salman dan juga petani lainnya harus menerima hasil usaha padi sawahnya yang terus menurun. Dua tahun lalu ia masih bisa menikmati hasil sawahnya hingga rata-rata 2 ton untuk setengah hektare. Namun panen terakhir pada Juli 2021 hanya bisa menyukuri sebanyak 1,5 ton.

Masalah petani sawah tidak hanya pada pola tanam serentak, namun juga kerawanan cuaca sebagai dampak dari perubahan iklim. Angin kencang kerap kali membuat tanaman padi harus dipanen lebih awal. (foto: Basri Marzuki)

“Betul, banyak hama karena tidak menanam serentak. Tapi kalau tidak menanam, mau makan apa kami?” sebutnya.

Panen lebih awal tentu akan hasilnya jauh lebih sedikit dibanding dengan usia padi seharusnya di panen. (foto: Basri Marzuki)

Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah mencatat, terjadi trend produksi pada sawah, tidak hanya di wilayah petani Salman Bertani, namun secara keseluruhan di Kabupaten Sigi. 2014 lalu, luasan panen padi sawah dan ladang masih mencakup 32.946 hektare, namun di 2020 tersisa 18.247 hektare.

Meski banyak menemuai kendala dan penurunan hasil produksi, petani tetap bergembira ketika waktunya menuai hasil tanam. (foto: Basri Marzuki)

Penurunan signifikan luasan panen padi itu juga menggerus hasil produksi. Jika di 2014 masih bisa menghasilkan 145.936 ton gabah kering giling, di 2020 hanya mampu berproduksi hingga 82.683 ton gabah kering giling.

Angin meniup bulir padi yang tak berisi, terbang bersama hasil yang diluar ekspektasi para petani. (foto: Basri Marzuki)

Dinas Pertanian setempat menyebut, penurunan luas panen dan juga hasil produksi itu disebabkan banyak factor, terutama bencana yang mendera dan juga perubahan fungsi kawasan dari sawah menjadi kawasan non pertanian.

Untuk ketahanan pangan, jangan tergantung pada padi yang terus merosot hasilnya. Diversifikassi ke tanaman pangan lain seperti ubi dan sejenisnya. (foto: Basri Marzuki)

Trio bencana (gempa, likuifaksi, dan tsunami) pada September 2018 disebut factor yang paling berdampak. Luas lahan banyak yang rusak akibat bencana tersebut, terutama irigasi Gumbasa yang menjadi sumber air bagi usaha pertanian di delapan kecamatan yang ada di Kabupaten Sigi.

Sebagian petani bahkan mengusahak tanaman jagung di sela tidak menanam padi karena kekurangan air. (foto: Basri Marzuki)

Bahkan hingga lebih dari tiga tahun bencana itu, irigasi yang menjadi satu-satunya tumpuan bagi mayoritas petani di wilayah itu tak kunjung selesai seperti sebelum terjadinya bencana.

Produk diversifikasi yang cukup menjanjikan, harga jualnya kian naik dalam semester akhir 2021 ini. (foto: Basri Marzuki)

Cuaca ekstrim yang kerap melanda wilayah Sigi juga disebut sebagai factor penyebab. Banjir bandang dan tanah longsor yang bahkan menjadi “langganan” di wilayah bagian Selatan kabupaten itu sudah menjadi berita penanda bagi kabupaten yang 70 persen wilayahnya adalah cagar biosfer.

Perlahan namun pasti, gerusan perubahan iklim terus terjadi. Pemerintah setempat menganjurkan dilakukannya diversifikasi usaha tani. Tidak semata mengandalkan padi sawah atau ladang, namun juga tanaman hortikultura yang tidak lebih rentan dengan perubahan atau pergeseran pola cuaca.

Naskha dan foto: Basri Marzuki

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here