10 Pemuda Cetuskan Kawasan Wisata Alam Buntiede di Desa Padende

Kelompok pemuda yang mengelola kawasan wisata alam perbukitan Buntiede di Desa Padende, Kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Senin (25/10/2021). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

“Beri aku 10 pemuda, aku akan guncang dunia”.. (Bung Karno)

“Beri aku 10 pemuda Desa Padende, aku akan guncang Kabupaten Sigi”.. (Saya)

 

ANGIN sepoi yang berhembus dari balik bebukitan menyambut ketika tiba di kawasan wisata alam Buntiede, Desa Padende, Kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Senin (25/10/2021) sore.

Dua orang perempuan yang salah satunya adalah ibu Sekdes Padende sedang mengumpulkan daun-daun kering untuk dibakar. Seorang perempuan lagi membenahi selang air untuk menyiram tanaman di kawasan yang sudah dipagar keliling dengan paranet itu.

Di pojok kiri atas, tiga pemuda sedang merampungkan pembuatan toilet. Sejumlah pemuda lainnya menanam pohon sejenis palm di area tengah kawasan itu.

Sebuah photo booth menghadap landscape Kota Palu dan sekitarnya berdiri kokoh, lengkap dengan tempat duduk di bawah dekorasi simbol love (cinta) berona merah. Tak jauh dari situ, seorang pemuda lainnya menyirami bunga-bunga yang baru saja ditanam di atas bedengan.

Landscape Kota Palu dan sekitarnya terlihat jelas dari kawasan wisata alam bukit Buntiede ini. bmzIMAGES/Basri Marzuki

“Lega, lapang, sejuk, adem, indah, dan keren,” begitu kesan seorang pengunjung pada kawasan wisata alam perbukitan Buntiede yang saat ini sedang berbenah sebelum resmi dibuka untuk publik.

Destinasi wisata baru yang terletak sekitar 15 menit dari Kota Palu itu diinisiasi oleh 10 pemuda desa setempat. Ke-10 pemuda itu adalah Nofriansyah, Imon Irsyad, Ardal Mantovani, Kifli, Ade Irma, Evayanto, Gusran, Sridewi, Alimin, dan Isran

Ke-10 pemuda itu “gelisah” dengan potensi alam desanya yang begitu “kaya” namun tidak termanfaatkan dengan baik.

“Kami bukan latah karena di desa lain juga dibuka kawasan wisata. Namun ini benar-benar muncul dari kesadaran kami tentang potensi desa kami. Potensi alam kami tak kalah dengan desa lainnya, dan kenapa itu tidak kami manfaatkan untuk kebaikan masyarakat di sini,” ujar Nofriansyah, sang inisiator.

(foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Bersama pemuda lainnya di desanya, kesadaran itu dipresentasikan dalam pertemuan desa bersama pemerintah desa setempat. Alhasil, bak gayung bersambut, ide kawasan wisata alam itu mendapat lampu hijau. Pemdes memperkenankan sekitar lima hektare tanah desa yang terletak di bukit dimanfaatkan untuk kawasan wisata dan dikelola oleh para pemuda tersebut.

“Ide ini sebenarnya sudah dilontarkan sejak tahun lalu (2020), namun baru sekitar Agustus 2021 lalu direalisasikan,” imbuh Isran, salah seorang dari ke-10 pemuda itu.

Sejak mendapat restu dari Pemdes setempat, pembenahan kawasan dilakukan, mulai dari membersihkan lahan, hingga memagarinya dengan paranet, termasuk menatanya sedemikian rupa agar elok dipandang mata dan nyaman sebagai tempat bersantai.

Perampungan pembuatan toilet. bmzIMAGES/Basri Marzuki

Saat ini kata Isran lagi, pihaknya sedang merampungkan pembuatan toilet. Toilet termasuk ketersediaan air bersih adalah prasarana dasar yang harus tersedia untuk sebuah kawasan wisata alam. Beruntung di kawasan itu karena sarana air bersih cukup tersedia.

Jika toilet ini sudah selesai, pembukaan untuk publik sudah dapat dilakukan, meskipun awalnya hanya untuk camping ground.

“Dalam perencanaan kami ke depan, kawasan ini tidak hanya sekadar tempat untuk camping ground semata, tetapi lebih dari itu, semisal menjadi kawasan eko wisata, dan kawasan play game outdoor,” sebutnya.

Penanaman pohon untuk memperindah kawasan. (foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Hingga kini, kesemua fasiltias yang sudah diadakan guna melengkapi kehadiran sebuah kawasan wisata adalah hasil swadaya kelompok pemuda itu.

“Kami tidak membebani Pemdes apalagi meminta dari Dana Desa, karena kami sadar bahwa dana desa itu sudah ada alokasinya masing-masing. Lagi pula, kami ingin menunjukkan dulu ke Pemdes bahwa kehadiran kami bukanlah beban, justru sebaliknya,” ujar Nofriansyah.

Baginya lanjutnya, membuktikan diri untuk “bisa” jauh lebih penting dari sekadar berharap dari dana desa. Apalagi katanya, motivasi utamanya adalah berpartisipasi aktif membangun desa melalui pariwisata.

Diskusi ringan pembenahan kawasan. (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

“Ini sudah menjadi komitmen dari teman-teman untuk secara ekonomi tidak berharap banyak dari kawasan ini karena kita baru memulai. Justeru sebaliknya menanamkan kepercayaan bahwa kalau kita memang sungguh-sungguh, hasilnya pasti akan datang sendiri,” tegasnya.

Kini, kawasan yang diberi nama “Buntiede” yang berarti “Bukit Rendah” itu sedang memoles diri digawangi 10 pemuda desa itu. Berbagai sarana sedang diperlengkapi untuk membuatnya menjadi destinasi wisata utama.

Menjelang petang, menatap atmosfir Kota Palu dari Buntiede. (Foto: bmzIMAGES/basri Marzuki)

Para pemuda itu berharap akan ada multiplier effect yang lebih besar dan cukup signifikan bagi kehidupan masyarakat sekitarnya dari kehadiran kawasan wisata itu. Mereka juga meminta dukungan semua pihak agar keberlangsungan kawasan itu dapat terjaga.

Semilir angin pun kian sejuk seiring matahari yang mulai terbenam di balik bukit. Kedap-kedip lampu di seantero Kota Palu yang terlihat jelas dari perbukitan itu makin gemerlap. Kawasan Buntiede itu makin memesona di penghujung sore menyambut malam. (afd)

Canda ria penuh keakraban. (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here