Rubalang Inisiasi Riset Sampah Laut dan Aksi Bersih Pantai Teluk Palu

Advertisement
Aktivis lingkungan mengambil sample sampah plastik di Pantqi Dupa, Teluk Palu, Minggu (5/6/2022). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

PALU, beritapalu | Rumah Bahari Gemilang (Rubalang), sebuah organisasi sosial dan kemanusiaan yang berfokus pada anak dan masyarakat rentan menginisiasi kegiatan Riset Sampah laut dan Aksi Bersih Pantai di Pantai Dupa, Layana Indah, Teluk Palu, Minggu (5/6/2022).

Inisiasi itu merupakan rangkaian dari peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diperingati pada setiap 5 Juni sekaligus kampanye dan Gerakan kesadaran untuk tidak membuang sampah ke laut.

Sebelumnya pada Sabtu (4/6/2022) malam, Rubalang juga menggelar Nonton Bareng dan Diskusi Lingkungan dengan menggandeng sejumlah organisasi berbasis lingkungan seperti Seangle Indonesia,  Salolo Diving Club, Yayasan Arkom Palu, dan Himpunan Mahasiswa Perikanan.

Selain mengambil sampel sampah plastik, juga dilakukan aksi bersih-bersih di Pantai Dupa, Teluk Palu, Minggu (5/6/2022). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

“Kami memiliki visi untuk mengajak semua pihak secara bersama-sama mewujudkan kualitas hidup yang lebih baik bagi anak dan masyarakat maritim, dan karena itu menginisiasi kegiatan ini,” kata Project Officer Rubalang, Ulfa M. Basira.

Ulfa mengatakan, sampah plastik merupakan faktor utama penyebab rusaknya ekosistem laut, merusak terumbu karang sebagai habitat makhluk laut, menurunnya hasil dan kualitas tangkapan ikan hingga menimbulkan persoalan sosial di masyarakat pesisir dan pulau, yang pada akhirnya memberikan dampak paling serius pada kehidupan anak.

Aktivis Rubalang mengambil sampel sampah plastik di Pantai Dupa, Layana Indah, Teluk Palu, Minggu (5/6/2022). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

“Rubalang menaruh perhatian besar pada isu sampah plastik agar kemudian persoalan ini menjadi urusan seluruh pihak,” tambahnya.

Sementara itu, Seangle Indonesia Palu yang memelopori riset sampah plastic itu mengungkapkan jika pesisir Teluk Palu telah terpapar sampah plastic baik jenis makro maupun mikro.

“Pengambilan sampel sampah plastic telah kita lakukan secara rutin sejak 2001 lalu dan kali ini adalah yang ketujuh kalinya di wilayah Teluk Palu. Trend pencemaran sampah plastic semakin meningkat dari waktu ke waktu,” kata Abizar Ghiffary, Co Founder Seangle Indonesia Palu di sela-sela kegiatan tersebut.

Aktivis lingkungan dari berbagai organisasi memilah sampel sampah plastik yang dikumpulkan dari Pantai Dupa, Layana Indah, Teluk Palu, Minggu (5/6/2022). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Fenomena ini menurutnya cukup memprihatinkan karena jika volume sampah plastic di Teluk Palu kian banyak, dampaknya adalah pada eksosistem di pesisir termasuk warga sekitar yang menggantungkan hidup dari laut.

“Terutama mikro plastic, jika dimakan oleh ikan dan kemudian ikan itu dikonsumsi oleh manusia, tentu efeknya pada Kesehatan,” terangnya.

Karena itu lanjutnya, Seangle Indonesia Pal uterus mengampanyekan kepada seluruh pihak agar tidak membuang sampah di laut.

“Ini untuk kehidupan kita dan anak cucu kita ke depan yang lebih baik,” serunya. (afd)

 

Advrtisement