Anak Muda Kelurahan Duyu Juga Bisa Bikin Festival

PALU, beritapalu | Untuk pertama kalinya, festival seni budaya, kuliner dan UMKM bertajuk Festival Duyu 2024 diselenggarakan di Kelurahan Duyu, Tatanga, tepatnya di kawasan Huntap Duyu, Jumat (12/1/2024) malam.
Kegiatan yang dibuka Wali Kota Palu diwakili Asisten II Bidang Administrasi dan Umum, dr Husaema itu dan dihadiri Camat, Lurah, tokoh masyarakat, dewan adat, tokoh pemuda, Babinsa dan Bhabinkamtibmas itu berlangsung meriah ditandai dengan aneka pementasan seni budaya.
Ketua Panitia, Mohamad Rifki dalam laporannya menyebut, kegiatan itu dimotori oleh kalangan anak muda di kelurahan tersebut di antaranya pelaku sanggar seni, pecinta alam dan juga anak muda pelaku usaha anggur yang ikonik di Kelurahan Duyu.
Rifki menyebut, tema festival itu adalah Mosangu Mompekaroso Mosampesuvu yang berarti mempersatukan, memperkuat atau mempererat, dan membangun persaudaraan. Selama dua hari pelaksanaan yakni 12 dan 13 Januari, festival tersebut akan diisi dengan sejumlah kegiatan seperti pentas budaya, seni tradisi, musik modern, dan kuliner tradisional.
Sebelumnya, Sekretaris Panitia, Mohamad Ifin menyebut, festival itu merupakan pengejawantahan dari semangat anak muda di Kelurahan Duyu yang tidak mau kalah dengan kelurahan-kelurahan tetangga yang telah memotori even yang sama.
“Ini adalah ekspresi anak muda Duyu bahwa Duyu juga bisa membuat festival,” tandas Ifin.
Even ni sebutnya tidak semata mementaskan aneka atraksi seni dan budaya. Lebih dari itu, menjadi ikhtiar untuk menggerakkan UMKM yang ada di sekitarnya.
Dewan Adat Kelurahan Duyu, Ramli Batalemba menyambut positif kegiatan itu. Menurutnya, tema Festival Duyu 2024 yang dipilih anak muda ini sangat relevan dengan kondisi kekinian. Duyu menurut Ramli sudah menjadi sangat heterogen, dan karenanya semangat mosangu, mompekaroso dan mosampesuvu harus terus dibangun.
Asisten II, dr Husaema pada sambutan pembukaannya juga menyampaikan apresiasi atas inisiatif anak-anak muda di Duyu yang mencetuskan festival itu. Menurutnya, festival semacam itu tidak hanya menjadi sarana untuk menumbuhkan kegiatan seni dan budaya, tetapi juga menjadi jalan untuk terus membangun keharmonisan sesama warga.
“Saya berharap tidak ada lagi pengkotak-kotakan, kamu orang ini, kamu orang itu. Semua orang bisa mengambil peran untuk membangun Kota Palu, sehingga setiap keompok tidak boleh diabaikan, justeru sebaliknya, secara bersama dengan perbedaan yang dimiliki menjadi kekuatan besar untuk membangun Kota palu,” sebut dr. Husaema.
Pembukaan festival itu ditandai dengan pemukulan gong dan kemudian dilanjutkan dengan atraksi seni budaya di antaranya pementasan Tari Pamonte secara kolosal oleh ibu-ibu di Huntap Duyu, tari Bula Dungga, kolaborasi rebana Pemuda Duyu, dan pementasan Puenjidi) oleh Sanggar Seni Lauro. (afd)