Ramporame Festival, Ekspresi Kegelisahan Anak Muda Porame Digelar 13-14 Agustus 2022 di Tengah Areal Persawahan

Advertisement
Sejumlah anak muda mempersiapkan panggung di tengah sawah untuk pelaksanaan Ramporame Festival di Desa Porame, Sigi, Rabu (10/8/2022). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

SIGI, beritapalu | Sebuah festival seni dan budaya multiplatform untuk pertama kalinya akan digelar di Desa Porame, Kecamatan Kinovaro, Sigi, Sulawesi Tengah pada Sabtu dan Minggu (13-14/8/2022) mendatang.

Selain kemping visual dan sejumlah pertunjukan seni dan budaya, festival yang akan digelar di tengah areal persawahan itu juga akan menampilkan layar tancap, kelas literasi, dan juga workshop. Pun akan diramaikan dengan aneka kuliner khas dari warga setempat.

Inisiator Ramporame Festival, Wiston Dahcu di sela-sela persiapan festival itu menyebutkan, istilah “Ramporame” merujuk pada pengertian ajakan untuk beramai-ramai dalam suatu ruang.

“Filosofinya adalah beramai-ramai untuk membangun kebaikan, kemaslahatan, kebahagiaan, kesejahteraan bagi orang banyak,” ujar pria yang akrab disapa Dachu dari pematang sawah di lokasi yang dipersiapkan untuk festival itu, Rabu (10/8/2022) sore.

Dachu bercerita, festival yang disambut antusias masyarakat setempat itu berangkat dari kegelisahan kalangan anak muda Desa Porame. Bagaimana tidak kata Dachu, Desa Porame dari dulu hingga kini “begitu-begitu saja”.

“Kenapa desa-desa lainnya di Sigi begitu “maju”, namun kami di sini masih seperti ini. Padahal kalau mau bicara potensi alam, kami di Porame tak kalah,” ujarnya.

Kegelisahan anak muda Porame itulah yang mengilhami untuk membuat lompatan-lompatan meski dalam kondisi keterbatasan. Salah satunya dengan menginisiasi sebuah festival dengan konten lokal berbasis khas daerah.

“Festival ini adalah murni swadaya para anak muda di sini (Porame). Kami ingin menunjukkan bahwa meski tidak difasilitasi oleh siapa pun, kami akan berusaha untuk bisa. Kami anak muda Porame ingin berkata bahwa Porame juga bisa berkarya untuk kemajuan desa,” tegas Dachu.

Tapi kenapa harus di tengah areal persawahan? Dachu mengatakan, inilah yang unik dari festival ini karena tempatnya di sawah. Tidak seperti kebanyakan festival yang dilakukan di area dengan fasilitas dalam dan luar ruang yang modern.

“Dari awal desainnya memang back to nature (kembali ke alam). Persawahan adalah bagian dari alam Porame. Dari sawah ini banyak kebaikan yang diberikan kepada manusia, bukan hanya hasil pertanian berupa padi, tapi juga kebajikan dan kebijakan,” jelasnya.

Selain itu lanjutnya, sawah akan mengingatkan pada kehidupan pedesaan dimana pada sebagianya masih dikerjakan secara manual tradisional, sangat kontras dengan hiruk pikuk perkotaan saat ini yang hampir seluruhnya telah tersentuh dengan teknologi oleh kemajuan peradaban.

“Momentum festival ini akan kian menarik karena tepat dengan kemunculan bulan purnama. Anda bisa membayangkan apa yang bisa anda lakukan berada di tengah sawah malam hari bersama temaram sinar bulan purnama,” imbuhnya.

Ia berharap festival yang merupakan ekspresi kegelisahan anak muda Desa Porame itu memberi maslahat kepada warga sekitarnya dan juga kepada desa. Paling tidak kata Dachu, Desa Porame tidak lagi menjadi pentonton di tengah hiruk-pikuknya perlombaan menjadikan desa sebagai destinasi wisata. (afd)

Advrtisement