Ikan Pupu  Menarik Selera, Usaha Perempuan Menambah Pendapatan Keluarga

Advertisement
Pembakaran ikan Pupu. (Foto: Abal)

Sebuah otor bebek memiliki dua kotak digandeng terlihat agak berat dan lelaki paruh baya dikenal bernama Aripin Kasim yang akrab disapa Aripin, kemudian menyandarkan motor lalu mengorek-ngorek dua kotak yang ternyata berisi ikan lajang. Lelaki paruh baya yang sejak pagi hari pergi di Desa Luok Kecamatan Balantak Kabupaten Banggai, tempat kapal mendaratkan ikan hasil tangkapan yang rata-rata hasil tangkapannya ikan katombo namun juga terdapat cakalang dan lajang.

Ikan lajang atau Malalugis sudah dibersihkan  dan disusun rapi oleh Aripin, tak lama kemudian muncul seorang bocah dengan sepeda motor bebek juga, membawa sabuk kelapa atau yang akrab mereka sebut dengan gonofu yang kemudian diatur dengan rapi untuk digunakan nanti jika ikan sudah siap. Sementara itu seorang perempuan paruh baya yang memiliki nama Arni Bimadu juga kelihatan membersihkan sebatang demi sebatang alat yang akan digunakan menusuk ikan.

Bu Arni merupakan salah seorang yang tergabung dalam kelompok usaha kecil berbasis sumberdaya ikan yang merupakan kelompok yang didampingi oleh Relawan untuk Orang dan Alam (ROA) atas dukungan Burung Indonesia serta Critical Ecosystem Partnership Fund di wilayah Kecamatan  Balantak, Kabupaten Banggai Sulawesi Tengah.

Setelah siap, satu persatu ikan mulai ditancapkan dengan sebatang alat yang runcing dan memanjang, kira-kira 200 ikan siap untuk dijadikan ikan asap. Gonofu mulai disusun rapi memanjang mengikuti panjang alat tambatan ikan yang diasap, setelah tersusun rapi,  alat pemantik api siap membakar gonofu, tak berselang lama gonofu mulai menampakkan api yang merata. Tangan-tangan lincah dan cekatan mulai bergerak mematikan api yang sedang menyala agar bara yang tersisa.

Bara mulai nampak yang menandakan ikan siap untuk diasapi, jarak bara dengan ikan pun agak jauh, ikan disusun berdiri agar tingkat kemasakan ikan asap merata dari kepala hingga ekor.”Memang cara masaknya berbeda seperti kita akan membakar ikan, kalo ikan pupu jaraknya diatur sedemikian rupa agar matang merata dan kulitnya kelihatan keemas-emasan”jelas Arni Bimadu.

Ikan pupu harus dijaga agar gonofu tidak menimbulkan nyala api, disaat ini bagi pemula mungkin matanya akan perih terkena asap, berbeda halnya dengan bu Arni yang sudah terbiasa melakoni usaha ikan pupu, asap yang menyelimuti tempat pengasapan ikan tidak jadi soal bagi beliau tapi bagi kami yang ikut menyaksikan pembuatan tersebut mata terasa perih dan mengeluarkan air mata.

Bu Arni melakoni usaha ikan pupu selain memenuhi permintaan pemesan juga kadang oleh pak Aripin dijajakan di wilayah yang berdekatan dengan wilayah pegunungan, dibawa menggunakan motor bebek berangkat pagi tidak berselang lama bisa segera pulang ke rumah karena ikan pupu telah habis terjual.“Harga ikan pupu juga bervariasi ada tiga ekor Rp.10.000 atau empat ekor Rp10.000 tergantung besar kecilnya bentuk ukuran ikan”ungkap Bu Arni.

“Malam nanti kita makan ikan pupu suir-suir sambel tomat dan cabe, pasti kamu akan batambah makannya belum lagi kalo ikan pupu dimasak santan”Ujar Bu Arni sambil tersenyum melihat kami yang sudah membayangkan makan ikan goreng suir-suir yang rasa-rasanya tak sabar menunggu malam tiba.

Suara kesibukan di dapur pun sejak sore menjelang lepas magrib sudah mulai terdengar, ikan pupu sekiranya telah diolah seperti yang diceritakan kepada kami pada saat proses ikan pupu dilakukan, aroma ikan pupu mulai menyebar, membuat selera makan mulai memberontak.

Akhirnya panggilan makan pun terdengar dari dapur, kami tak menunggu panggilan kedua sudah berada tepat di meja makan yang telah tersaji nasi putih, pisang rebus, ikan bakar dan ikan pupu suir-suir sambel tomat dan cabe, gerakan tangan pun lincah mengambil piring masing-masing dan memang benar, sasaran utama adalah ikan pupu suir-suir goreng sambel tomat dan cabe.

“Wuihhh lezatnya ditambah lagi disajikan hangat-hangat, sungguh makan malam yang nikmat malam ini, terimakasih bu Irna, saya mau ikan pupu dibawa ke Pulo Dua saat kami kemping di sana nanti sekalian juga saat kami pulang ke Palu”Pesan Abal.

Lain lagi dengan Neni, teman kami, ia memosting proses pembuatan ikan pupu sampai siap dimakan ke media sosial. Alhasil tak sedikit yang meminta padanya untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh dan pesanan ke Ibu Arni pun dimulai lagi.  (Abal)

Advrtisement