Ini 15 Alasan Mengapa Laju Pemanasan Global Makin Cepat

globval warming
Ilustrasi. (The Climate Journal)

PEMANASAN global telah menjadi salah satu masalah paling mendesak yang dihadapi umat manusia saat ini. Planet ini memanas pada tingkat yang mengkhawatirkan, dan dampaknya bisa sangat buruk jika tidak segera mengambil tindakan.

Tapi apa yang menyebabkan peningkatan suhu yang cepat ini? Berikut adalah 15 alasan mengapa pemanasan global mungkin terjadi lebih cepat dari perkiraan sebelumnya:

  1. Peningkatan Emisi Gas Rumah Kaca

Penyebab utama pemanasan global adalah pelepasan gas rumah kaca seperti karbon dioksida dan metana ke atmosfer. Gas-gas ini memerangkap panas matahari, sehingga menyebabkan planet memanas seiring berjalannya waktu. Selama satu abad terakhir, aktivitas manusia seperti pembakaran bahan bakar fosil, penggundulan hutan, dan industri pertanian telah menyebabkan konsentrasi gas rumah kaca meroket ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya selama lebih dari 800.000 tahun. Semakin banyak gas rumah kaca yang kita keluarkan, semakin banyak panas yang terperangkap sehingga mempercepat proses pemanasan.

  1. Putaran Umpan Balik Positif

Salah satu aspek yang menakutkan dari perubahan iklim adalah bahwa hal ini dapat memicu putaran umpan balik (feedback loop) yang semakin kuat, dimana dampak pemanasan menyebabkan pemanasan yang lebih besar. Misalnya, saat es di kutub mencair, daratan dan lautan di bawahnya terlihat lebih gelap. Permukaan yang lebih gelap ini menyerap lebih banyak radiasi matahari daripada memantulkannya kembali ke luar angkasa, sehingga menyebabkan pemanasan tambahan. Contoh lainnya adalah pencairan lapisan es yang melepaskan metana dan CO2 yang terperangkap, yang menyebabkan pemanasan lebih lanjut. Masukan positif ini memperkuat pemanasan awal yang disebabkan oleh gas rumah kaca.

  1. Deforestasi di Hutan Hujan Amazon

Hutan hujan Amazon bertindak sebagai penyerap karbon yang sangat besar, menyerap miliaran ton CO2 dari atmosfer setiap tahunnya. Namun penggundulan hutan untuk peternakan dan pertanian kedelai telah mengurangi ekosistem penting ini. Ketika hutan purba ini ditebangi dan dibakar, semua karbon yang tersimpan akan dilepaskan kembali ke udara. Hal ini menambah efek rumah kaca, sekaligus menghancurkan penyerap karbon yang penting. Sekitar 20% wilayah Amazon telah hilang dalam 50 tahun terakhir.

  1. Menurunnya Es Laut Arktik

Pemanasan yang cepat di Arktik telah menyebabkan penurunan drastis es laut dalam beberapa dekade terakhir. Pada bulan September 2012, Arktik mencapai rekor terendah dalam hal luas es laut minimum. Saat es putih yang memantulkan cahaya digantikan oleh perairan laut terbuka yang lebih gelap, lebih banyak sinar matahari yang diserap, menyebabkan pemanasan lebih lanjut dan pencairan dalam putaran umpan balik. Hilangnya es laut juga meningkatkan pemanasan regional dan berdampak pada ekosistem Arktik.

  1. Pengasaman Laut

Kelebihan CO2 yang diserap ke lautan menyebabkan lautan menjadi lebih asam. Hal ini berdampak pada spesies pengapuran seperti karang dan kerang yang bergantung pada tingkat pH tertentu untuk membangun cangkangnya. Pengasaman dapat melarutkan cangkang dan kerangka ini, sehingga menyebabkan kematian. Hal ini juga mempengaruhi spesies yang lebih besar yang bergantung pada organisme pengapuran ini untuk makanannya. Peningkatan keasaman laut menghambat pertumbuhan fitoplankton, yang dapat menurunkan penyerapan CO2 dari atmosfer.

  1. Perubahan Sirkulasi Laut

Lautan mempunyai sistem arus “ban berjalan” global yang mengatur pola iklim di seluruh dunia. Air hangat dibawa ke utara, sedangkan air dingin tenggelam dan berputar ke selatan. Perubahan pola sirkulasi laut, terutama pada arus Atlantik Utara yang penting, dapat menimbulkan dampak yang dramatis dan mendadak terhadap iklim global. Masuknya air tawar dari lapisan es yang mencair, misalnya, dapat memperlambat atau mengganggu sirkulasi, sehingga mengubah iklim regional secara radikal.

  1. Peningkatan Uap Air di Atmosfer

Iklim yang lebih hangat menguapkan lebih banyak air dari lautan, danau, dan sungai. Hal ini menyebabkan lebih banyak uap air ke atmosfer. Karena uap air merupakan gas rumah kaca, hal ini menciptakan lebih banyak panas yang terperangkap dan pemanasan. Konsentrasi uap air di atmosfer yang lebih tinggi menciptakan putaran umpan balik positif, yang selanjutnya meningkatkan suhu. Lebih banyak uap air juga berarti lebih banyak energi untuk badai hebat, angin topan, dan curah hujan lebat.

  1. Lapisan Es Mencair dan Naiknya Permukaan Laut

Meningkatnya suhu global mengancam mencairnya lapisan es besar di Greenland dan Antartika. Hal ini membuang lebih banyak air tawar ke lautan, mengubah sirkulasi dan menaikkan permukaan laut. Model menunjukkan permukaan air laut bisa naik 1-4 kaki pada tahun 2100. Mencairnya lapisan es juga menciptakan umpan balik positif dengan memperlihatkan lebih banyak permukaan gelap untuk menyerap panas. Kenaikan permukaan air laut memperparah erosi pantai dan banjir selama badai, sehingga menempatkan banyak kota dalam risiko.

  1. Meningkatnya Kebakaran Hutan

Kondisi yang lebih panas dan kering menyebabkan peningkatan kebakaran hutan yang hebat di AS bagian barat, Kanada, Australia, dan wilayah lainnya. Praktik pengelolaan hutan juga berkontribusi. Kebakaran melepaskan CO2 dalam jumlah besar ke atmosfer sekaligus menghancurkan pepohonan yang berfungsi sebagai penyerap karbon. Semakin banyak kebakaran maka akan semakin banyak pula emisi yang berkontribusi terhadap efek rumah kaca. Jelaga dan asap juga dapat menggelapkan es dan salju sehingga menyebabkan lebih banyak penyerapan radiasi matahari.

  1. Pencairan Permafrost dan Pelepasan Metana

Suhu yang memanas mengancam mencairnya permafrost (tanah beku) di wilayah utara. Tanah ini mengandung sejumlah besar karbon dan metana yang terperangkap. Ketika tanah mencair, gas-gas rumah kaca ini terlepas ke atmosfer, sehingga menyebabkan pemanasan lebih lanjut. Hal ini membentuk lingkaran umpan balik positif yang secara signifikan dapat memperburuk perubahan iklim. Pelepasan metana dari pencairan lapisan es mungkin berkontribusi terhadap peristiwa pemanasan hipertermal di masa lalu.

  1. Kebakaran Tundra dan Pertumbuhan Pohon di Arktik

Meningkatnya suhu di Kutub Utara berkontribusi terhadap kebakaran yang lebih besar dan lebih sering terjadi di lahan gambut dan tundra bagian utara. Kebakaran ini melepaskan simpanan karbon ke atmosfer. Pada saat yang sama, suhu yang lebih hangat memungkinkan tumbuhnya lebih banyak semak dan pepohonan di tundra. Meskipun pertumbuhan tanaman tambahan ini dapat menyerap sejumlah karbon, hal ini juga menyerap lebih banyak panas matahari dengan mengurangi reflektivitas wilayah tersebut. Kedua faktor tersebut menciptakan umpan balik positif, sehingga mempercepat pemanasan.

  1. Melemahnya Penyerap Karbon

Penyerap karbon alami membantu menghilangkan CO2 dari atmosfer selama siklus karbon. Namun perubahan iklim memberi tekanan pada banyak sumber daya alam, sehingga menurunkan kemampuan mereka untuk menyerap kelebihan karbon. Pemanasan lautan, misalnya, kurang efisien dalam melarutkan CO2 di atmosfer. Deforestasi secara langsung menghancurkan penyerap karbon yang penting dan juga menghasilkan lebih banyak emisi. Melemahnya penyerap alami berarti berkurangnya CO2 yang dibuang, sehingga menyebabkan peningkatan konsentrasi di atmosfer.

  1. Peningkatan Penggunaan Bahan Bakar Fosil

Meskipun banyak bukti yang menunjukkan percepatan perubahan iklim, dunia sejauh ini gagal mengurangi emisi gas rumah kaca dengan cukup cepat. Faktanya, emisi global terus meningkat seiring dengan semakin banyaknya bahan bakar fosil yang digunakan untuk energi dan transportasi. Ledakan fracking baru-baru ini telah melepaskan gas alam murah dalam jumlah besar, sehingga memperlambat pertumbuhan energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan. Semakin banyak ketergantungan pada bahan bakar fosil berarti semakin banyak emisi, semakin banyak pemanasan, dan semakin banyak masukan positif.

  1. Amplifikasi Pemanasan di Kawasan Kutub

Arktik mengalami pemanasan sekitar dua kali lipat tingkat rata-rata global. “Amplifikasi Arktik” ini terjadi sebagian karena pencairan es dan salju menyingkapkan permukaan yang lebih gelap, sehingga menurunkan reflektifitas (albedo) wilayah tersebut. Lebih banyak panas yang diserap daripada dipantulkan. Pemanasan lautan dan perubahan pola sirkulasi atmosfer juga mendorong amplifikasi Arktik. Karena Arktik mempengaruhi iklim global, amplifikasi di sana dapat mengubah cuaca, arus laut, dan suhu di seluruh dunia.

  1. Peningkatan Populasi dan Konsumsi Manusia

Sejak Revolusi Industri, populasi manusia telah tumbuh secara eksponensial hingga lebih dari 7,7 miliar jiwa. Lebih banyak orang berarti peningkatan konsumsi energi dan sumber daya, peningkatan emisi CO2 dan polutan lainnya. Negara-negara berkembang terus melakukan industrialisasi dengan menggunakan tenaga batu bara, sementara negara-negara kaya mempertahankan gaya hidup yang intensif emisi. Kelas konsumen global masih terus berkembang, dan jejak ekologis umat manusia tidak dapat dipertahankan. Jumlah dan tingkat konsumsi kita yang besar merupakan penyebab utama percepatan perubahan iklim.

Konsekuensi Mempercepat Pemanasan

Dampak pemanasan global yang semakin cepat pada abad ini bisa sangat parah dan berdampak luas. Berikut beberapa dampak paling signifikan yang diprediksi oleh para ilmuwan iklim jika emisi gas rumah kaca tidak dikurangi:

Peristiwa Cuaca Lebih Ekstrim

Temperatur yang lebih tinggi akan meningkatkan energi dan kandungan kelembapan di atmosfer, memicu badai yang lebih dahsyat, angin topan, banjir, kekeringan, gelombang panas, dan kebakaran hutan. Beberapa wilayah di dunia mungkin mengalami curah hujan dan banjir yang belum pernah terjadi sebelumnya, sementara wilayah lainnya mengalami kekeringan yang semakin parah.

Kenaikan Permukaan Laut dan Banjir Pesisir

Percepatan pencairan lapisan es dan gletser serta perluasan suhu air laut yang lebih hangat menyebabkan permukaan air laut naik dengan laju yang semakin meningkat. Hal ini telah menyebabkan lebih banyak erosi pantai dan banjir selama badai, sehingga membahayakan kota-kota dan habitat pesisir. Negara-negara kepulauan yang terletak di dataran rendah menghadapi ancaman nyata.

Hilangnya Keanekaragaman Hayati dan Kepunahan

Pergeseran iklim yang cepat memaksa spesies untuk berpindah atau beradaptasi. Banyak yang tidak bisa mengikuti. Kepunahan sudah mulai terjadi dan kita berisiko kehilangan sebagian besar keanekaragaman hayati global pada abad ini. Ekosistem penting akan mengalami kerusakan permanen. Pengasaman laut mengancam karang, kerang, dan seluruh jaring makanan laut.

Pola Cuaca yang Berubah dan Tidak Dapat Diprediksi

Pemanasan Arktik mengubah aliran jet, arus laut, dan gradien tekanan yang mempengaruhi pola cuaca. Pola curah hujan dan suhu dapat berubah secara tiba-tiba. Model komputer menunjukkan bahwa hal ini mungkin mencakup kekeringan parah dan berkepanjangan di wilayah pertanian penting yang mempengaruhi ketahanan pangan global.

Mencairnya Permafrost dan Deposit Metana Beku

Mencairnya lapisan es di Arktik, Alaska, Siberia, dan wilayah utara lainnya akan melepaskan karbon dan metana dalam jumlah besar, sehingga mendorong pemanasan lebih lanjut. Hal ini mengancam akan memicu putaran umpan balik yang tidak terkendali. Metana yang dilepaskan dari endapan beku di bawah laut juga dapat mempercepat pemanasan secara eksponensial.

Jutaan Pengungsi Perubahan Iklim

Kenaikan permukaan air laut, kekurangan air, kelaparan, perang, dan peristiwa cuaca ekstrem kemungkinan besar akan menyebabkan ratusan juta orang mengungsi dalam beberapa dekade mendatang. Krisis pengungsi global yang belum pernah terjadi sebelumnya akan terjadi. Perselisihan politik dan konflik sumber daya bisa meluas. Bencana kemanusiaan akan menantang kapasitas bantuan.

Kekurangan Air Tawar

Mencairnya gletser dan kekeringan akan menyebabkan daerah berpenduduk tidak memiliki cukup air bersih. Kekurangan pasokan dapat berdampak pada lebih dari satu miliar orang pada tahun 2050 dan memicu ketidakstabilan. Bahkan wilayah dengan curah hujan tinggi seperti Asia Selatan pun berisiko terkena dampak buruknya pengelolaan air. Perang air mungkin terjadi karena sumber daya penting ini semakin langka akibat perubahan iklim.

Krisis Kesehatan Masyarakat yang Meluas

Stres panas, perubahan vektor penyakit, bencana cuaca, kekurangan pangan dan air, serta polusi udara akan menimbulkan ancaman luas terhadap kesehatan dan kesejahteraan manusia. Anak-anak, orang lanjut usia, dan masyarakat miskin akan terkena dampak paling parah. Sistem layanan kesehatan yang ada mungkin tidak mampu mengatasi berbagai krisis kesehatan terkait perubahan iklim.

Pergeseran Zona Iklim dan Bioma

Ketika iklim regional berubah, seluruh zona ekologi juga akan berubah. Spesies yang cocok untuk kondisi iklim tertentu harus berpindah seiring dengan pergerakan iklim ke arah kutub. Pergeseran yang cepat dapat melampaui kemampuan beberapa spesies untuk beradaptasi atau bermigrasi, sehingga berisiko mengalami kepunahan. Hutan boreal bisa berubah menjadi padang rumput, sementara tepian gurun semakin luas

Triliunan Dampak Ekonomi dan Hilangnya Nyawa Manusia

Runtuhnya ekosistem, kerusakan infrastruktur, kerugian pertanian, krisis kesehatan, dan ketidakstabilan sosial akan menimbulkan dampak ekonomi yang sangat besar, yaitu triliunan dolar. Korban manusia akibat kelaparan, penyakit, peristiwa cuaca ekstrem, dan dampak lainnya dapat mencapai ratusan juta jiwa pada tahun 2100 dalam skenario terburuk.

Apa yang Harus Dilakukan

Percepatan perubahan iklim merupakan ancaman nyata, namun belum terlambat untuk bertindak. Berikut beberapa langkah yang harus segera diambil jika kita ingin menghindari bencana pemanasan dan menjamin iklim yang layak huni bagi generasi sekarang dan mendatang:

Penghapusan Bahan Bakar Fosil Secara Cepat

Prioritas utamanya adalah menghentikan penggunaan batu bara, minyak, dan gas alam secepat mungkin. Hal ini berarti tidak ada proyek bahan bakar fosil baru di mana pun dan penghentian infrastruktur yang ada dalam jangka waktu yang mendesak. Alternatif seperti energi terbarukan harus ditingkatkan dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sumber energi bersih sudah ada dan semakin murah setiap tahunnya.

Sangat Meningkatkan Penyerapan Karbon

Kita memerlukan upaya skala besar untuk menghilangkan CO2 dari atmosfer, melalui reboisasi, penghijauan, penyerapan karbon tanah di bidang pertanian, teknologi penangkapan karbon, inovasi seperti peningkatan pelapukan, dan metode lainnya. Dibutuhkan lebih banyak dana penelitian untuk mengembangkan dan meningkatkan solusi penyerapan karbon.

Menyesuaikan Praktik Pertanian

Peralihan ke pertanian organik regeneratif, agroforestri, dan praktik penggembalaan yang bertanggung jawab akan menyerap lebih banyak karbon di dalam tanah. Mengurangi limbah makanan dan beralih ke pola makan nabati juga membantu. Pertanian harus beradaptasi terhadap perubahan iklim untuk menjamin ketahanan pangan. Emisi dari pupuk dan peternakan harus dikurangi.

Melindungi dan Memulihkan Ekosistem

Menghentikan semua deforestasi dan memulihkan ekosistem yang terdegradasi di seluruh dunia akan menghasilkan penyerapan karbon alami sekaligus menjaga keanekaragaman hayati yang penting. Lautan harus dilindungi dari penangkapan ikan berlebihan dan polusi agar ekosistem laut dapat beradaptasi. Menerapkan solusi berbasis alam adalah kuncinya.

Mengurangi Polutan Iklim Berumur Pendek dengan Cepat

Tindakan cepat untuk mengurangi emisi gas rumah kaca yang berumur pendek namun sangat potensial seperti metana dapat membantu memperlambat laju pemanasan dalam jangka pendek. Hal ini mencakup penanganan sumber-sumber utama seperti sistem minyak dan gas, tempat pembuangan sampah, pertanian, dan peternakan. Karbon hitam (jelaga) juga harus dikurangi.

Merevolusi Sistem Transportasi

Transportasi berbahan bakar fosil menghasilkan emisi yang sangat besar. Sistem harus melakukan transisi melalui elektrifikasi, peningkatan transportasi umum, infrastruktur bersepeda, kereta api kecepatan tinggi, perencanaan kota yang cerdas, dan peralihan ke sumber energi terbarukan. Penerbangan dan pelayaran menimbulkan tantangan, namun alternatif teknologi ramah lingkungan memang ada.

Reformasi Penggunaan Energi pada Bangunan

Bangunan menyumbang sekitar sepertiga penggunaan energi global. Peningkatan isolasi, penerangan, sistem pemanas/pendingin, peralatan rumah tangga, dan peralihan ke sumber energi terbarukan seperti tenaga surya diperlukan untuk mengurangi emisi dari sektor ini. Struktur baru juga dapat dirancang untuk menggunakan lebih sedikit energi.

Menyesuaikan dan Meningkatkan Infrastruktur

Kota dan masyarakat di mana pun harus meningkatkan ketahanan infrastruktur dalam menghadapi perubahan iklim. Tanggul laut, bangunan berketahanan, pencegahan banjir, pembaruan peraturan bangunan agar tahan terhadap cuaca ekstrem, dan strategi adaptasi panas akan diperlukan. Infrastruktur ramah lingkungan yang menggunakan sistem alami dapat membantu.

Meningkatkan Aliran Pendanaan Perubahan Iklim ke Negara Berkembang

Triliunan investasi diperlukan untuk membantu negara-negara berkembang beralih ke energi terbarukan sekaligus beradaptasi terhadap dampak iklim. Bantuan keuangan dan transfer teknologi dari negara-negara industri sangat penting agar negara-negara miskin dapat mengurangi emisi tanpa mengorbankan pembangunan.

Mempercepat Inovasi Teknologi Bersih

Mendukung penelitian, pengembangan, dan penerapan teknologi ramah lingkungan secara cepat akan membantu masyarakat beralih dari bahan bakar fosil. Dengan kebijakan dan investasi yang tepat, inovasi-inovasi baru dapat ditingkatkan pada waktunya untuk membuat perbedaan.

Kebijakan Kependudukan Harus Diimplementasikan

Menstabilkan pertumbuhan populasi global melalui kebijakan berkelanjutan akan memberdayakan perempuan, meningkatkan akses terhadap pendidikan dan layanan kesehatan, dan akan menghasilkan emisi yang lebih rendah dalam jangka panjang. Bantuan keluarga berencana harus tersedia secara luas di negara-negara berkembang.

Situasi ini mendesak, namun kita memiliki sebagian besar teknologi dan pengetahuan kebijakan yang diperlukan untuk melakukan transisi menuju masyarakat netral karbon, jika tindakan kolektif yang ambisius dapat diambil dengan cepat. Kegagalan untuk merespons bencana ini dapat menimbulkan dampak yang mengerikan dan tidak dapat diubah lagi bagi miliaran orang di abad ini. Dengan kerja sama global yang berani dan pengurangan emisi yang dimulai sekarang, skenario iklim terburuk masih dapat dihindari dan pemanasan dapat distabilkan pada tingkat yang lebih aman. Namun peluang untuk mengambil tindakan akan segera berakhir. Saatnya untuk mengambil keputusan sulit adalah sekarang. ***

Dikutip dari The Climate Journal