KIARA Bersama Warga Tanam Mangrove di Pesisir Pantai Panau

Warga dan nelayan berama KIARA dan AFD menanam mangrove di pesisir pantai Panau, Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (10/4/2021). (Foto: KIARA Palu)

PALU, beritapalu | Warga pesisir dan nelayan Kelurahan Panau bersama KIARA dan AFD melakukan penanaman mangrove di sepanjang pantai Panau untuk mendorong pembangunan green belt di wilayah pesisir, Sabtu (10/4/2021).

Sebelumnya, KIARA bersama nelayan dan perempuan nelayan di wilayah itu juga melakukan pelatihan pembibitan, penyemaian dan perawatan mangrove yang bertujuan untuk menadakan cadangan bibit mangrove yang sewaktu-waktu mati setelah ditanam di wilayah itu, terutama mangrove jenis Tagal dan Apiculata yang cocok ditanam di wilayah tersebut.

Dalam catatan KIARA, nelayan dan masyarakat pesisir hingga Pantoloan keliru dalam penanaman jenis mangrove sehingga berdampak pada mati dan gagalnya pertumbuhan mangrove. Menurutnya, tidak semua jenis mangrove dapat hidup dan tumbuh baik di wilayah pesisir Kota Palu. Adapun jenis-jenis yang dapat ditanam adalah Rhizopora sp, Sonneratia sp, dan Avicennia sp.

Ironisnya kata Yusri Masud, Project Manager Palu KIARA, pemahaman masyarakat pesisir dan nelayan masih sangat minim. Bahkan tidak sedikit yang memahami pentingnya peranan mangrove dalam mendorong nilai ekonomis penangkapan mereka maupun dalam upaya mitigasi kerentanan kebencanaan.

Wilayah Palu, Sulawesi Tengah, dikenal sebagai salah satu wilayah yang rentan dengan berbagai bencana alam, baik itu bencana alam di daratan maupun di lautan. Triple bencana yang terjadi di Palu dan wilayah sekitarnya, seperti bencana likuifaksi, gempa bumi, hingga tsunami, pada tahun 2018, menjadi contoh nyata kerentanan wilayah Palu terhadap berbagai bencana alam akibat posisi geografis serta struktur tanah dan ekologisnya.

Terlebih lagi bencana gempa bumi dan tsunami lanjut Yusri, memberikan luka tersendiri bagi banyak nelayan dan masyarakat pesisir Sulawesi Tengah, khususnya wilayah Teluk Palu, akibat dampak yang diberikan oleh bencana tersebut. Tidak hanya ribuan korban meninggal, infrastruktur bangunan, rumah, hingga alat produksi utama kebanyakan nelayan dan masyarakat pesisir Teluk Palu rusak parah dan, bahkan, hilang.

Dalam merespon kerentanan bencana tersebut, pemerintah merespon dengan membangung tembok raksasa atau lebih dikenal sebagai Tanggul Laut Raksasa (Giant Sea Wall) di sepanjang pesisir Teluk Palu. Pembangunan tanggul laut raksasa setinggi tujuh meter dan sepanjang 7,4 km ini dianggap akan meminimalisir dampak apabila bencana tsunami melanda.

Dapat terlihat pada respon pemerintah dalam menjawab persoalan kerentanan bencana di daerahnya yang kemudia tercermin pada ketidaktahuan dan ketidakpahaman masyarakatnya, khususnya nelayan dan masyarakat pesisirnya, dalam hal upaya mitigasi kebencanaan yang berbasis pada lingkungan dan berkelanjutan.

Semenara itu, Susan Herawati,  Sekertaris Jenderal KIARA mengatakan, apa yang menjadi respon pemerintah dalam meminimalisir dampak bencana tsunami merupakan respon yang sangat keliru.

“Pembangunan Giant Sea Wall tidak hanya akan berdampak pada lingkungan namun juga bagian dari praktik perampasan ruang terhadap nelayan di wilayah Teluk Palu. Banyak nelayan yang wilayah pesisirnya terdampak harus beralih profesi akibat terhambatnya akses mereka terhadap laut. Pembangunan tanggul laut juga tidak mendukung lingkungan yang berkelanjutan,” sebutnya.

Oleh karena itu, KIARA bersama dengan CCFD dan AFD berusaha membangun pengetahuan dan partisipasi nelayan dan masyarakat pesisir wilayah Palu, Sulawesi Tengah, terkait dengan upaya mitigasi kebencanaan yang berkelanjutan melalui restorasi pantai maupun pembangunan green belt laut di wilayah pesisir masing-masing wilayah.

Di Kelurahan Panau salah satu contohnya, keteguhan masyarakat pesisirnya dalam membangung ekologi pantai dan laut yang sehat tercermin dalam kegigihan masyarakatnnya dalam mempelajari berbagai jenis tanaman mangrove, penyemaian, pembibitan, hingga penanaman yang dilakukan bersama KIARA.

Tidak sampai disitu, masyarakat pesisir dan nelayan Desa Panau juga membentuk kelompok mangrove dalam wilayahnya yang artinya ‘satu keluarga’ atau ‘bersatu’.

Kegigihan masyarakat pesisir dan nelayan Desa Panau ini yang kemudian diharapkan dapat dicontoh masyarakat pesisir di wilayah Teluk Palu lainnya dalam mendorong upaya mitigasi kebencanaan yang ekologis dan berkelanjutan. (afd/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here