Tak Perlu ke Pasar Beli Ikan, Cukup Pesan Secara Online

Mardia Djaelangkara menunjukkan jualan ikannya yang diposting di media sosial, Sabtu (19/12/2020). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

PALU, beritapalu | “Yang berminat mari merapat”. Begitu timeline yang dituliskan Mardia Djaelangkara di beranda Facebook-nya. Di bawah status itu, terlihat sebuah foto dengan beberapa ikat ikan segar yang masih berada dalam basket atau keranjang gabus.

Foto ikan-ikan itu tampak masih sangat segar karena memang baru dijepret ketika ikan-ikan itu sampai di pinggir Pantai Talise dibawa oleh nelayan yang melaut sejak subuh sebelumnya. Ada ikan bubara, katombo, ikan merah dan jenis ikan lainnya.

“Masih ada ikan bubara..?” tanya seorang netizen di kolom komentar.

“Berapa ikan merah le…?” tanya seorang netizen lainnya.

“Bawakan saya satu tusuk..” komentar netizen lainnya lagi.

Begitulah Mardia memanfaatkan teknologi informasi dalam menjalankan bisnis ikannya. Meski ia tidak terlahir dalam katagori generasi millenial yang piawai memainkan gawai, namun ia mengaku tidak gaptek juga dalam pemanfaatannya.

Menjual ikan bagi perempuan memang lumrah di Kota Palu, tetapi menjual ikan dengan menerapkan sistem daring (dalam jaringan) atau online, bisa jadi masih belum banyak yang menjejalnya. Ibu beranak dua ini telah memulainya sejak desakan ekonomi itu kian menjepitnya, terutama setelah triangle bencana dua tahun lalu di Palu.

Lalu bagaimana hasilnya? Tunggu dulu, mari ikuti prosesnya dari cerita yang disampaikannya.

“Dulu di zaman kita masih remaja, internet seperti ini belum ada. Tapi sekarang sudah ada dan kita tidak boleh ketinggalan,” ujar Mardia memulai bincang-bincangnya dengan beritapalu.com di lokasi tambatan perahu Pantai Talise, Sabtu (19/12/2020) pagi.

Pagi itu, beritapalu.com bersama sejumlah jurnalis dari berbagai media, termasuk media nasional bahkan internasional datang ke tambatan perahu di Panta Talise itu. Puluhan jurnalis itu difasilitasi oleh Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) untuk melakukan media visit guna mencari tahu impact dari 650 unit perahu nelayan yang telah dibantukan ke nelayan yang terdampak bencana dua tahun lalu.

Mengetahui yang mendekati dan bertanya-tanya adalah para jurnalis, Mardia yang tadinya berdiri dan sibuk dengan ikan-ikan, kemudian memperbaiki posisinya.

Ia mengaku, sebelum tsunami menerjang, ia sudah melakoni jualan ikan itu. Hanya saja, sistemnya masih konvensional, atau seperti kebanyakannya penjual ikan, yakni membeli dari nelayan, lalu menjajakannya di tempat atau sekalian membawanya ke pasar.

Hasilnya tentu tidak seberapa, ujarnya. Rumit, butuh waktu dan sangat berisiko karena pembeli yang diharapkan hanya orang-orang yang lewat sekitar pantai.

“Kadang ada ikan yang tidak laku, dan kalau sudah begitu pasti rugi karena sudah dimodali,” sebutnya.

Ketika tsunami melanda dua tahun lalu, Mardia mengaku sangat pusing. Bagaimana tidak, selama hampir empat bulan tidak bisa berbuat apa-apa.

“Apa yang mau dijual, nelayan tidak turun melaut. Bagaimana mau melaut, semua perahu pecah dan hilang..?” kenangnya.

Siap upload foto-foto ikan ke media sosial. (Foto: bmzIMAGES/Bassri Marzuki)

Meski begitu, Mardia meyakini dibalik kesusahan dirinya dan juga semua orang yang terdampak bencana, Tuhan menurutnya tidak akan membebani lebih dari kemampuannya. “Selalu ada kemudahan, selalu ada jalan,” tandasnya.

Benar saja kata Mardia. Tiba-tiba sebuah lembaga yang disebutnya adalah KIARA melakukan pendataan kepada para nelayan di wilayah itu untuk mendapatkan bantuan perahu.

“Saya sangat bersyukur saat itu karena kalau para nelayan ini dibantu dengan perahu, tentu mereka akan melaut kembali, dan pasti saya bisa menjalankan kembali jualan ikan saya,” akunya.

Singkat cerita lanjutnya, bantuan perahu lengkap dengan mesin itu benar-benar direalisasikan. Jika tidak salah, nelayan di sekitar Pantai Talise itu sedikitnya mendapat alokasi 45 unit perahu lengkap dengan mesinnya.

“Saya yang sibuk kesana kemari untuk mempersiapkan pemberian bantuan itu. Saya serius karena kalau nelayan dapat perahu, saya pun bisa jualan ikan lagi,” bebernya.

Alhamdulillah sebutnya, semua memulai kehidupan hampir normal kembali. Para nelayan kembali melaut dan lakon menjual ikan dimainkan kembali.

Namun Mardia tidak puas, karena kenormalan hidup itu tidak sepenuhnya terjadi pada dirinya.

“Dulu sebelum tsunami, jalan di dekat Pantai Talise ini banyak orang yang lewat. Tapi sejak bencana itu, mana ada orang mau lewat sini, tidak bisa lagi jualan ikan di sini,” sebutnya.

“Kesepian” itu yang membuatnya tidak habis berpikir, hingga pada suatu titik ia menemukan gagasan untuk berjualan ikan dengan sistem daring, apalagi ia juga mengaku tidak ketinggalan amat soal teknologi seperti itu.

Bermodalkan sebuah handphone android dan jumlah pertemanan di Facebook, Mardia kemudian memulai jepretan pertamanya dengan obyek ikan merah yang baru saja dibawa oleh nelayan dari laut.

Di luar dugaan, respon atasnya sangat menggembirakan.

“Saat itu, harga ikan di pasar mahal karena tidak banyak. Saat itu kan belum semua nelayan turun melaut,” ujarnya.

Mardia mengaku, taktik promosinya adalah dengan menekan harga sedemikian rupa agar tidak semahal dengan harga pasar. Selain itu, kesegaran ikan yang dijualnya dijaminkan. Bahkan suatu kali Mardia memposting jualan ikannya dengan bahasa promosi yang telak : “Ada yang minat ikan batu segar yang satu kali mati!”

Metode penjualan secara daring itu menurut Mardia cukup efektif. Ia mengaku sejak menerapkan cara itu, nyaris tidak pernah lagi ke pasar untuk menjajakan ikan-ikan yang dibelinya dari para nelayan.

Bahkan katanya, metode ini lebih riil karena ikan yang dijual berdasarkan stok dan pesanan, sehingga hampir tidak ada ikan yang membusuk karena tidak ada yang membeli.

Mekanismenya jelasnya, begitu nelayan tiba dari melaut, ikan-ikan itu dibelinya, difoto dan langsung diupload ke berandanya. Netizen yang terarik dapat langsung mengomentari termasuk ketersediaan dan harga.

Peminat yang lebih dari beberapa orang akan memprioritaskan pemesan pertama, kedua dan seterusnya sesuai dengan stok yang ada.

Pemesan dberi pilihan untuk mendapatkan ikan-ikan itu, bisa datang langsung, menggunakan jasa kurir, atau diantarkan. “Ongkosnya disesuaikan,” imbuh Mardia.

“Yang repot itu kalau ada yang memesan tapi ikan tidak ada, nelayan tidak melaut karena cuaca misalnya. Nah kita mau apa,” ujarnya sambil tertawa.

Jualan iklan yang dilakukannya dengan sistem daring itu sudah menjadi rutinitasnya. Hampir setiap pagi Mardia berada di pantai untuk memasok ikan-ikan online itu. Meski usianya tidak muda lagi, namun ia mengaku rutinitas itu pula yang membuat hidupnya lebih bergairah. Mardia merasakan kebangkitan yang sesungguhnya dari keterpurukan akibat bencana 28 September 2018 lalu. (afd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here