Akibat Perubahan Iklim, 60 Persen Spesies Kopi Terancam Punah

Ilustrasi. Kopi toratima khas Pipikoro. (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

JAKARTA, beritapalu | Indonesia adalah negara terbesar keempat penghasil kopi di dunia yakni 600  – 700 ribu ton per tahun. Kopi Indonesia sendiri mampu menghasilkan 20 persen Arabika dan 80 persen Robusta. Namun akibat perubahan iklim, rantai pasok kopi seperti perubahan musim panen, meningkatnya hama dan penyakit menjadi turut berdampak.

“Perubahan iklim telah meningkatkan risiko kepunahan spesies kopi. Berdasarkan studi terbaru Januari 2019, hampir   60 persen spesies kopi yang liar atau 75 kopi dari 124 spesies sudah dalam tahap risiko punah akibat adanya perubahan iklim,” beber Paramita Mentari Kusuma, Direktur Eksekutif SCOPI pada Webinar “Talk Show on Climate Change in a Cup of Coffee”, Senin (26/10/2020)  dalam rangkaian Pekan Diplomasi Iklim Uni Eropa.

Dikatakan, dalam 30 tahun, kopi yang dikonsumsi masyarakat global menjadi sesuatu yang langka. Sebagai penikmat kopi dan pelaku usaha kopi maka harus mulai memikirkan dampak perubahan iklim ini.

Armaya Master Trainers SCOPI yang juga petani kopi di Aceh mengatakan dampak perubahan iklim sudah petani rasakan terutama di wilayah Aceh dan Sumatera Utara.

“Tingginya curah hujan mempengaruhi hama dan penyakit yang meningkat sehingga berdampak pada produksi buah,” ujarnya.

Adanya deforestasi, penggunaan pupuk kimia, pembakaran limbah, dan juga pembakaran bahan bakar fosil memperparah terjadinya peningkatan suhu.

“Biasanya panen raya itu terjadi dua kali yakni Maret-Mei dan Oktober-Desember. Kita khawatir tahun 2021 mungkin hanya terjadi satu kali panen, karena hingga saat ini bunga belum juga muncul. Kemungkinan Maret-Mei tidak bisa panen dan akan membuat peralihan mata pencaharian petani,” katanya.

Kiki Purbosari dari Rikolto Indonesia menyebutkan untuk produksi kopi yang berkelanjutan pihaknya telah menggandeng para petani kopi di Indonesia tiga provinsi dan enam kabupaten yakni di Jambi, Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Timur.

“Strategi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang dilakukan yakni dengan climate smart agriculture, informasi iklim dan cuaca serta Pembayaran Jasa Ekosistem,” katanya.

Seth van Doorn, Project Manager Foreign Policy Instruments European Union mengatakan, hal yang perlu disadari adalah, yang dikonsumsi sangat berhubungan dengan adanya perubahan iklim. Ia berharap semua orang sadar bahwa perubahan iklim terkait erat dengan kehidupan sehari-hari sebagai konsumen maupun juga penghasil kopi.

Sementara Atase Pertanian Indonesia untuk Uni Eropa Wahid Maghhraby mengatakan, “Uni Eropa ingin menerapkan energi yang ramah lingkungan (Carbon Neutral) di 2020 antara lain langkah-langkah untuk mempromosikan aktivitas penting dan rantai suplai yang bebas dari deforestasi dan degradasi hutan.”

Pekan Diplomasi Iklim 2020 berlangsung mulai 24 Oktober hingga 6 November mendatang, terdiri dari serangkaian kegiatan webinar, talkshow, pertunjukkan film, demo masak, fashion show hingga penyulingan kopi, yang merupakan cara kreatif Uni Eropa dalam mengampanyekan perubahan iklim. Tahun ini, Uni Eropa berkolaborasi dengan pemerintah Indonesia, 8 kedutaan besar negara-negara anggota Uni Eropa dan lebih dari 100 organisasi not-profit, kelompok pemuda, perwakilan komunitas, sector swasta, selebriti dan opinion leader serta penggiat lingkungan. (afd/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here