Melambai ke Laut, Ibu Ini Ucapkan Selamat Jalan pada Sanak Keluarganya

Seorang ibu berdoa untuk anggota keluarganya yang menjadi korban di bekas lokasi tsunami di Pantai Teluk Palu, Sulawesi tengah, Senin (28/9/2020). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

PALU, beritapalu | Suara shalawat menjelang masuknya waktu maghrib terdengar cukup jelas dari masjid tidak jauh dari Pantai Talise, Palu, 28 September 2020. Seorang ibu terlihat bergerak maju menuju bibir pantai.

Ibu itu lalu mengeluarkan bungkusan plastik dari balik hijab besarnya yang menutup hampir setengah dari badannya. Bungkusan plastik itu berisi kembang yang sepertinya memang sudah disiapkan sebelumnya.

Ia menoleh ke kiri dan kanan, ia mengabaikan orang-orang yang banyak memancing di sekitar pantai itu, dan seketika tangan kanannya bergerak ke depan. Kembang warna warni berhamburan, mengapung di permukaan air laut di pantai itu. Ia baru berhenti menabur bunga itu ketika seluruh isi kantong kresek itu habis.

Semburat kesedihan tidak dapat ditutupinya. Tangannya bergetar ketika kembang-kembang itu ditabur. Matanya sembab menatapi setiap kembang yang dipermainkan ombak kecil.

(Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Masih di bibir pantai itu, ibu berhijab coklat bermotif bunga itu menengadahkan kedua tangannya, berdoa untuk sanak keluarganya yang menjadi korban keganasan gelombang tsunami yang terjadi pada 28 September 2018 lalu. Ia terlihat sangat khusyuk dalam doanya.

Sambil berdoa, sesekali ibu itu menyeka air mata yang mengalir membasahi pipinya. Ia tetap khusyuk dalam doanya hingga akhirnya mengusap wajahnya dengan kedua tapak tangannya.

Ia gontai berjalan meninggalkan pantai usai ritual tabur bunga dan berdoa itu. Beberapa kali ia menengok kembali ke laut yang telah mengalami penurunan permukaan itu, dan beberapa kali pula ia menyeka air matanya sembari menahan bibirnya untuk tidak meracau.

(Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Ia melambai ke laut, mengucapkan selamat jalan sesaat kendaraannya membawanya berlalu meninggalkan pantai pengingat bencana tsunami dua tahun lalu itu.

Dua tahun bencana tsunami di pantai Teluk Palu membangkitkan kembali ingatan banyak orang, terutama mereka yang keluarganya menjadi korban. Kenangan itu menyisakan kepedihan dan kesedihan.

Bencana memang tidak dapat ditolak, tapi ingatan itu seharusnya membuat lebih sigap menghadapinya. (afd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here