Belum Selesai Soal Bencana, Kini Dihadapkan Lagi dengan Krisis COVID-19

Source: Palang Merah Indonesia

PALU, beritapalu | Meski sudah dua tahun gempa bumi, tsunami dan likuifaksi di Palu, Sigi, dan Donggala berlalu, namun masalah terkait dengan bencana itu belum selesai juga. Ironisnya, ribuan warga terdampak kini pun harus berhadapan dengan krisis sosial ekonomi akibat pandemi COVID-19.

Relawan Palang Merah Indonesia (PMI) yang berada di wilayah Sulawesi Tengah dan sekitarnya termasuk kelompok pertama yang melakukan respon kemanusiaan, disusul kemudian oleh para relawan, dan personilnya dari seluruh Indonesia langsung terlibat dalam upaya pemulihan setelahnya hingga selama dua tahun terakhir ini.

Operasi besar-besaran yang melibatkan pemerintah dan berbagai lembaga ini juga menghadapi tantangan. Banyak warga terdampak yang masih tinggal di Huntara atau tempat sementara akhirnya tinggal bersama kerabatnya karena kerusakan luas di daerah pemukiman yang mereka alami.

Kesempatan kerja yang terbatas karena sejumlah tempat berusaha juga mengalami kerusakan diperparah dengan pembatasan sosial di seluruh Indonesia karena makin meluasnya kasus COVID-19, termasuk di Sulawesi Tengah.

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Sulawesi Tengah bahkan melaporkan bahwa dampak dari COVID-19 ini lebih buruk bagi perekonomian lokal daripada bencana dua tahun lalu.

“Selama dua tahun terakhir, Palang Merah Indonesia telah memberikan program respon tanggap darurat dan pemulihan kepada orang-orang terdampak di Sulawesi Tengah, kini program kami juga harus menyesuaikan dalam kondisi pandemik enam bulan terakhir untuk melindungi masyarakat terdampak ini dari COVID-19, sambil memperluas lingkup untuk mendukung mereka yang terkena dampak bencana dan yang menghadapi lebih banyak kesulitan karena pandemi,” ujar Sekretaris Jenderal Indonesia Palang Merah (PMI), Sudirman Said.

“Kita tahu di Indonesia kini penyebaran kasus COVID-19 semakin meluas dan tinggi, dan kini kasusnya juga menyentuh hingga ke tingkat keluarga. Mereka yang ditampung keluarga yang mempunyai rumah harus hidup dalam ruang sempit dan anggota keluarga yang kini bertambah. Kami sedang beradaptasi dalam memberikan pertolongan kebutuhan-kebutuhan dan tantangan baru tersebut.” Imbuhnya.

IFRC (The Internationl Federation Red Cross and Red Crescent Societies/ Federasi Internasional Masyarakat Palang Merah dan Bulan Sabit Merah) mendukung sepenuhnya kerja-kerja Palang Merah Indonesia/PMI.

Berbagai bantuan program ini telah memberikan berbagai jenis bantua seperti pelayanan Kesehatan darurat untuk 17.600 orang; hampir 22 juta liter air telah didistribusikan ke lebih dari 70.000 orang; kegiatan promosi kesehatan dan dukungan psikososial telah membantu untuk menjaga 14.000 orang aman dan baik. Dalam fase pemulihan , PMI dan  IFRC bersiap untuk memberikan bantuan tunai kepada lebih dari 10.000 keluarga (40.000 orang) senilai sekitar CHF 4 juta dalam bentuk bantuan tunai langsung.

Jan Gelfand, Kepala Tim Dukungan Klaster Negara untuk IFRC Indonesia dan Timor-Leste mengatakan, setelah Tsunami Aceh dan Nias, ini merupakan dukungan dan bantuan terbesar dari masyarakat palang merah dan bulan sabit merah untuk pemulihan operasi Palang Merah Indonesia dan tim lokal yang telah menyentuh masyarakat terdampak, termasuk di wilayah yang paling keadaan menantang untuk membantu masyarakat agar pulih dari bencana dalam dua tahun terakhir ini dan kini juga menghadapi pandemik. (afd/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here