Berinisiatif Bikin Jembatan Darurat, Jalan di Jono Oge-Sidera Tetap Bisa Dilewati Motor

Sejumlah pengendara sepeda motor melintasi jembatan darurat yang dibuat atas swadaya masyarakat di Desa Jono Oge, Kabupaten Sigi, Sulawesi tengah, Kamis (10/9/2020). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

SIGI, beritapalu | Intensitas hujan yang cukup tinggi sepekan terakhir ini membuat sejumlah ruas jalan di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah tidak bisa dilalui karena rusak atau tergenang luapan air sungai.

Salah satu jalan yang tidak bisa dilewati itu adalah ruas jalan darurat poros Desa Jono Oge – Sidera atau jalan bekas bencana likuefaksi 28 September 2018 silam. Setiap hujan keras di hulu sungai, jalan yang tidak lagi memiliki jembatan ini dipastikan tidak bisa dilalui.

“Kalau airnya deras, motor pun tak bisa lewat,” ujar Umar salah seorang warga setempat.

Tapi kali ini lain dari sebelumnya. Di jalan tersebut sudah dibuat jembatan darurat yang bahannya terbuat dari batang kelapa dan di atasnya ditutup dengan papan tebal.

“Ini hanya bisa dilewati sepeda motor. Kalau mobil tidak bisa, karena sempit,” sebut Uma lagi.

Jembatan darurat itu dibangun atas swadaya masyarakat setempat. Jumlahnya ada tiga jembatan darurat sepanjang jalan bekas likuefaksi tersebut.

“Kasian juga warga kalau tidak bsia lewat, makanya warga di sini sepakat membuat jembatan tersebut,” lanjutnya.

Meskipun bersifat darurat, namun jembatan itu dinilai sangat vital karena memperpendek jarak tempuh.

“Bayangkan kalau tidak ada jembatan darurat ini, kita harus memutar ke Desa Pombewe atau Desa Kota Pulu untuk bisa menyeberang ke Sidera. Jaraknya pasti jauh,” ujar Agus, salah seorang warga yang mengaku harus melintasi jembatan darurat itu untuk sampai ke Desa Oloboju yang berada di sebelah Desa Sidera.

Terhadap jembatan darurat yang dibuat secara swadaya oleh warga setempat itu, mereka juga tidak mengharuskan setiap pengendara yang lewat untuk membayar.

“Tidak ada itu. Kalau mau bayar sebagai rasa terima kasih, silakan, tapi jumlahnya tidak ditentukan, seikhlasnya saja. Kalau tidak ikhlas tidak perlu dibayar,” lanjutnya.

Di ujung jembatan tersebut disediakan sebuah kardus untuk menyimpan uang bagi para pelintas. Dalam pengamatan, sejumlah pelintas menaruh uang di tempat tersebut sesuai dengan kepantasannya dan sementara itu sejumlah pelintas pun tidak menaruh uang di kardus tersebut.

“Kan sudah dibilang kalau ini seikhlasnya saja. Tidak diberi juga tidak apa-apa. Niat kami tulus untuk membantu warga yang akan melintas,” sebutnya. (afd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here