Dari Desa Langaleso Kabupaten Sigi, Talu Art Kembali Digemakan

Sejumlah warga menonton pertunjukan seni tradisi yang dimainkan oleh Sanggar Seni Polelea berjudul “Tuturanggarilare” di Desa Langaleso, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Sabtu (29/8/2020) malam. (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

SIGI, beritapalu | Temaram lampu menyorot sebuah tempat setengah lapang yang di sekelilingnya ditumbuhi pepohonan bambu di Desa Langaleso, Kabupaten Sigi, Sabtu (29/8/2020) malam.

Beberapa orang anak muda tampak siluet mondar-mandir di lapang tersebut, mereka menyiapkan segala sesuatunya sebelum pertunjukan dimulai. Warga sekitar pun berdatangan, memenuhi bidang tanah tersebut lengkap dengan tikar.

Malam itu adalah pertunjukan perdana Talu Art setelah terhenti beberapa bulan akibat pandemi COVID-19. Meski kini masih diliputi suasana pandemi, namun kerinduan para seniman yang tergabung dalam komunitas Talu Art ini tidak bisa dibendung lagi, Talu Art yang kini memasuki episode ke-34 kembali digelar dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Talu Art adalah sebuah tematikal pertunjukan seni yang lahir dengan slogan “terus berkarya, melawan manja”. Sejak awalnya menggelar pertunjukan dari desa ke desa pada pertengah 2013 lalu, hingga pada pentas kali ini pun, semangat dalam slogan itu konsisten dikejawantahkan.

Konsep pertunjukan di alam terbuka menjadi salah satu cirinya. Konsep ini juga menjadi penanda semangat kedekatan komunitas seni ini dengan alam. Talu Art memercayai, berkesenian dan berdampingan dengan alam adalah dua hal yang harus sejalan dalam setiap irama dan melodinya agar tercapai keseimbangan.

***

Ketua Dewan Kesenian Sigi, Jumadi SSos yang hadir langsung pada pertunjukan malam itu menyambut positif digelarnya kembali pertunjukan Talu Art itu. Pria yang kini menjabat sebagai Kepala Desa Kota Pulu itu menyatakan, ini adalah momentum untuk menggemakan kembali kesenian, terutama di kabupaten Sigi yang sempat “terlunta-lunta” akibat pandemi COVID-19.

Jumadi mengaku, ia adalah bagian dari Talu Art itu karena jauh sebelumnya ia juga terlibat langsung dalam berbagai pertunjukan yang digelar di desa-desa.

“Ini adalah rujukan, berkarya tidak harus dengan fasilitas, tidak harus dengan sponsorship, karena jika dibelenggu oleh semua itu, maka tidak ada karya yang bisa lahir. Talu Art telah membuktikan, sejak awalnya di 2013 hingga kini, tetap bisa eksis dan malam ini kembali digelar meski di tengah pandemi,” ujarnya.

***

Sanggar Seni Polelea memainkan seni tradisi bertajuk “Tuturanggarilare” di Desa Langaleso, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Sabtu (29/8/2020) malam. (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Host mulai membuka acara pertunjukan. Sejumlah sanggar seni ditampilkan dari berbagai desa antara lain Kaluku Ntovea dan seperti sebelumnya, puncak pertunjukan akan dipamungkasi oleh tuan rumah, dalam hal ini Sanggar Seni Polelea. Sejumlah penampil juga melakukan performance seperti Annas Valiri dan Ilham dengan contemporer dance-nya.

Lalu, segerombolan warga setengah melingkar di depan tempat pementasan pada sesi pamungkas. Sanggar Seni Polelea pada kesempatan perdana ini mengusung pementassan bertajuk “Tuturanggarilare”.

Lalove dan guitar yang mengiringi ujaran-ujaran tradisi penuh makna dalam pentas itu cukup membuat penonton terhenyak dan larut di dalamnya. Sesekali anggota sanggar itu berimprovasi dengan melibatkan penonton. Alhasil, waktu pertunjukan terasa tidak cukup.

***

Banyak pihak berharap agar pertunjukan kembali Talu Art terus dapat berlanjut meski dalam suasana yang masih dibayang-bayangi pandemi COVID-19.

“Berkesenian adalah kebutuhan bagi para seniman. Pandemi tidak bisa menjadi halangan untuk berkarya. Menyiasati kondisi ini adalah langkah bijak. Menerapkan protokol kesehatan pada setiap pertunjukan adalah solusi cerdas. Seni tidak boleh mati,” ujar salah seorang penonton dari Kota Palu yang secara khusus datang ke Desa Langaleso untuk mengapresiasi pertunjukan itu. (afd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here