29 Orang Terkonfirmasi Positif COVID-19, Ini Surat Terbuka Bupati Buol

Bupati Buol, dr. Amiruddin Rauf.

PALU, beritapalu | Pusdatina COVID-19 Sulteng mencatat, kasus positif COVID-19 tertinggi di Sulawesi Tengah berada di Kabupaten Buol dengan angka 29 kasus. Itu setelah pada Selasa (5/5/2020) ada tambahan 10 kasus yang terkonfirmasi positif.

Sebagai pemimpin di daerah itu, Bupati Buol dr Amiruddin Rauf cukup terenyuh. Bupati menyadari, sekadar prihatin, berupaya, menerapkan disiplin ilmu, plus kewenangan yang dimiliki, ternyata tak cukup untuk membendung penyebaran virus mematikan tersebut.

Bupati sadar, ada kekuatan yang besar dan ada aspek yang harus dijernihkan untuk bisa bersama-sama melawan virus tersebut.

Bupati mengaku belum “kalah” dengan fenomena virus corona ini meski 29 orang warganya sudah dinyatakan positif COVID-19. Justeru sebaliknya, semangat harus tetap dipatrikan, tak terkecuali para tenaga medis di lapangan yang terus berjibaku dengan ancaman terpapar.

“Mohon masyarakat ikut membantu, jangan patahkan semangat para petugas kami dengan isu-isu yang mengarah ke fitnah. Kita sedang menghadapi tragedi kemanusiaan yang maha hebat,” kata Bupati dr Amiruddin dalam surat terbuka yang juga diterima redaksi beritapalu.com, Rabu (6/5/2020).

Bupati Amiruddin saat dikonfirmasi membenarkan, ia yang membuat sendiri surat terbuka tersebut.

Dalam surat terbuka itu, Bupati besumpah bahwa apa yang dilakukan untuk melindungi masyarakat, tidak ada sedikitpun niat untuk memojokkan sekelompok orang apalagi ingin mengambil keuntungan material dengan memanipulasi data.

“Terlalu mahal nyawa manusia untuk ditukar dengan sejumlah uang,” tegas Bupati. (afd)

Berikut surat terbuka Bupati Buol dr Amiruddin Rauf  yang doterima redaksi beritapalu.com :

Assalamualaikum,wr.wb. 

Belajar dari negara negara yang ” Kalah ” melawan wabah Covid 19. Italia adalah deretan negara maju di Eropa, hampir semua sarana dan fasilitas mereka miliki.

Bicara sanitasi lingkungan, Italia merupakan negara terbesih dg penataan lingkungan yang baik fasilitas kesehatan termasuk  Dokter dan tenag medis lainnya. Karena Italia salah satu negara rujukan dunia pada masalah kesehatan.

Namun ketika wabah Covid 19 menyerang dibuat tidak berdaya, mayat bergelimpangan bahkan dokter dan tenaga medis terpaksa harus memilih siapa pasien yg diprioritaskan untuk ditangani dan mana yang dibiarkan saja sampai kematian menjemput.

Negara kedua adalah Amerika Serikat, negara adikuasa inipun tidak berdaya menghadapi Covid 19.korban berjatuhan yg tercatat saat ini ratusan ribu orang.

Equador setali tiga uang, mayat bergelimpangan di jalan jalan korban Covid 19.

Mengapa demikian, Ternyata  kesemuanya karena prilaku manusianya. Italia sebagaimana diberitakan prilaku masyarakatnya yang menganggap remeh wabah Covid 19.

Lain halnya dengan Amerika Serikat lebih kepada sikap Presiden Trump yg tidak menganggap serius Wabah ini.

Saudaraku, bagaimana dengan kita di Buol, sejak merebaknya wabah ini, selaku Pimpinan daerah saya tekun mengikuti perkembangan dengan menghubungi kolega saya baik yg ada diinstitusi perguruan tinggi dan pusat pusat penelitian Biomolekuler seperti Lembaga Eijman. Dari sana saya mendapat gambaran tentang virus Covid 19. Itulah sebabnya langkah antisipasi segera disiapkan.

Saudara saudara saya yg sedianya saya juga akan ikut bersama ke Ijtima di Goa saya mohon dengan sangat untuk membatalkan niatnya berangkat,.

Selanjutnya saya mendata semua yg berangkat dan memohon dengan sangat agar sekembalinya bersedia di karantina selama 14 hari.

Malam itu saya terjun langsung memimpin teman teman utk mencari tempat yg layak untuk karantina. Dibeberapa tempat mendapat penolakan warga masyarakat akhirnya pilihannya jatuh di Rusunawa.

Saya belajar Ilmu Kedokteran 12 Tahun, hingga saya tahu persis apa yg harus dilakukan utk melindungi masyarakat saya. Namun sayang resistensi dan penolakan muncul dari berbagai pihak bahkan sampai hendak menyeret saya ke pengadilan karena melanggar hukum dan HAM.

Semula segala tekanan tersebut saya tidak peduli sampai kemudian Bapak Gubernur meminta saya untuk mengeluarkan saudara saudara kita yg sedang di karantina karena laporan berbagai pihak ke Beliau.

Sedih bahkan sampai meneteskan  air mata terpaksa dikeluarkan teman teman dari tempat karantina, kenapa, karena saya sudah bisa memprediksi apa yg akan terjadi.

Meskipun demikian saya masih antisipasi dengan surat pernyataan bahwa mereka mau melakukan karantina mandiri, yg ternyata juga sebagian besar tdk mengindahkannya.

Saudaraku, sekarang wabah Covid 19 telah menyebar di daerah kita. Saat saya menulis ini sudah terkomfirmasi 29 positif Covid 19, ada ketambahan 10 orang hari ini.

Saudaraku dengan segala keterbatasan yg ada, saya mencoba memimpin teman teman bekerja siang malam untuk melawan wabah ini, mereka yang ada di rumah sakit, puskesmas maupun dilapangan.

Mohon masyarakat ikut membantu, jangan patahkan semangat para petugas kami dengan isu isu yang mengarah ke fitnah. Kita sedang menghadapi tragedi kemanusiaan yg maha hebat.

DEMI ALLAH saya bersumpah, apa yang kami lakukan ini semata untuk melindungi masyarakat, tidak ada sedikitpun niat untuk memojokkan sekelompok orang apalagi ingin mengambil *KEUNTUNGAN MATERIAL dengan MEMANIPULASI DATA.

Terlalu mahal nyawa manusia untuk ditukar dengan sejumlah uang.

Isu dan fitnah yg dilontarkan ini sangat keji dan tidak berprikemanusiaan.

Saya khawatir jika ini terus dilakukan bisa mengendorkan semangat teman teman petugas yg sudah mempertaruhkan segalanya termasuk kemungkinan tertular demi melindungi kita semua. Kalau ini sampai terjadi maka pertahanan kita akan bobol, kita akan “Kalah”. Maka yang bisa kita siapkan hanya kantong jenazah dan kuburan massal.

Kita berdoa pada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa dijauhkan dari hal tersebut. Aamiin.

Buol,

dr. Amirudin Rauf (Bupati Buol)

Selasa, 05 Mei 2020 Pukul 16:34 WITA.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here