COVID-19, Persatuan (Kerjasama), dan Ancaman Ekonomi Nasional

Muh. Ikbal A. Ibrahim

Oleh: Muh. Ikbal A. Ibrahim

MANUSIA sedang dalam ancaman, terlalu dramatis jika di katakan dalam ancaman kepunahan, namun, Covid-19 ini sangat mengkhawatirkan, selain karena penularanya sangat cepat, gejalanya pun sulit untuk di kenali, apalagi jika peralatan medis sangat sederhana, yang paling santer mudah dibaca hanya gejala umumnya saja.

Covid-19  menjadi masalah global. Penyebaranya mengagetkan seluruh benua, bahkan negara yang tergolong maju dan mapan sekalipun,  Event besar seperti Liga-Liga besar eropa terpaksa harus di hentikan karena ancamam wabah ini. Situasi ini dapat di kategorikan darurat global, atau mungkin gegabah jika saya menyebutnya globalisasi Virus.

Skala Indonesia, sampai saat ini data resmi pemerintah, di lansir detik.com melalui juru bicara pemerintah dalam konferensi pers youtubenya total korban mencapai angka 579orang, angka meninggal 40 orang, dan 30 pasien dinyatakan sembuh.

Kenapa Persatuan dan Solidaritas Menjadi Penting?

Sampai detik ini, belum ada analisis ilmiah sumber datangnya Wabah ini. Yang di ketahui hanya bahwa wabah ini berawal dari Wuhan, salah satu Kota di RRT merupakan ibukota dari Provinsi Huebei.

Dengan cepat pandemi ini menyebar bak jamur di musim hujan. Semua publik di seantero dunia terhenyak dengan masifnya penularan virus ini. Eropa saja seakan tak percaya, terutama Italy yang saat ini angka penularan dan korban meninggalnya cukup tinggi.

Indonesia terbilang baru kasus penularanya-entah karena di tutupi atau memang faktanya begitu. Namun, jika di bandingkan dengan negara ASEAN lainya, presentase korban dan meninggal di Indonesia tertinggi. Ada banyak faktor penyebabnya, semisal ketidak siapaan fasilitas kesehatan kita, juga berkaitan dengan langkah antisipatif pemerintah, sekalipun yang dapat di maklumi adalah Corona ada kasus baru dengan sedikit pengetahuan kita atasnya.

Dengan sedikitnya pengetahuan akan pandemi ini, pemerintah sekalipun terbilang kalang kabut mengatasinya. Perlahan tapi pasti, daerah-daerah sekalipun mulai mengatasinya dan mengambil langkah antisipatif. Pemerintah bahkan menetapkan status darurat nasional Corona.

Apa yang bisa dan penting kita lakukan?

Persatuan, solidaritas, dan kerja sama menjadi tiga kata sepadan menanggulangi penyebaranya. Saat ini, bukan saatnya mempolitisasi Corona, wabah ini bukan semata tanggung jawab pemerintah, namun menjadi tugas seluruh lapisan dan seluruh rakyat Indonesia. Bisa di bayangkan jika pencegahanya di batasi oleh sekat politik dan golongan, maka cepat atau lambat Virus ini akan menyebar tak terbendung.

Selain itu, dampak virus ini terletak pada ancaman keberlangsungan umat manusia. Artinya kemanusiaan sedang terancam. Kesadaran akan persatuan dan solidaritas mesti di letakan pada nilai-nilai kemanusiaan. Kita berkomitmen untuk patuh pada anjuran pemerintah dan ingin bekerjasama karena kita peduli pada kemanusiaan. Sosio Nasionalisme dalam Pancasila adalah pedoman kita menangkal Covid-19 ini.

Kenapa Covid Berdampak Pada Stabilitas Ekonomi Bangsa?

Ada beberapa indikator dapat menjelaskan ini. Seperti bahwa Negara-negara di dunia saat ini cenderung berhati-hati melakukan aktifitas ekspor impor, terutama dari Cina, juga menjadi tanda, bahwa implikasi dari Virus dan pencegahan berdampak pada sisi ekonomi tiap negara. Kebijakan Lock Down beberapa negara simultan dengan menutup atau paling tidak membatasi perdagangan antar negara.

Dampak yang teramat dikhawatirkan oleh pemerintah adalah pada sektor ekonomi. Kegiatan perdagangan (ekspor-impor) menjadi lesu. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Yunita Rusanti, mengakui bahwa Covid 19 ini mempengaruhi kegiatan ekspor impor antara Indonesia dan Tiongkok serta dengan negara-negara lain.  Hal tersebut dikarenakan negara-negara mitra dagang kita melakukan aksi lockdown dan berbagai pembatasan lainya yang berdampak pada terhentinya kegiatan ekonomi dan perdagangan.

Dengan Tiongkok penurunannya cukup siginifikan,  yaitu kapasitas ekspor  turun 11,63 persen dan impor turun 49,63 persen. Dari data BPS, penurunan ekspor non-migas dari China tercatat 245,5 juta dollar AS untuk jenis besi dan baja, tembaga, pulp dan kayu.

Dengan India turun 128,5 juta dollar AS dengan jenis lemak dan minyak, pupuk dan bahan kimia anorganik.  Kemudian Taiwan turun 58 juta dollar AS penurunan terjadi untuk bahan bakar dan mineral.  Dengan negara-negara Eropa juga demikian, misalnya dengan Belanda juga mengalami penurunan ekspor sebesar 26,1 juta dollar AS. Jerman juga turun 34,8 juta dollar AS karena penurunan ekspor lemak, minyak hewan nabati. (sumber: Berdikari Online).

Saat ini saja Posisi rupiah terhadap dollar Amerika Serikat adalah 16.550 berdasarkan data Reuters atau menguat 4% sejak akhir pekan lalu. Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) dolar AS tercatat sebesar Rp 16.608 (detikfinance).

Banyak opini publik berspekulasi bahwa Indonesia sedang mengarah pada krisis. Karena posisi rupiah ini hampir mendekati saat krisis moneter 1998. Sekalipun belum separah itu, kemungkinan untuk mengarah pada resesi juga bukan tidak mungkin. Oleh sebab itu, ancaman ekonomi juga mesti di antisipasi.

Corona adalah masalah bersama. Menjadi ancamam bersama tidak semata nasional namun juga global. Tidak semata suatu negara namun meliputi seluruh umat manusia. Internasionalisme kita sedang di uji oleh Corona. Cina sekalipun yang terdampak pertama dan cukup parah masih berkomitmen pada kemanusiaan dengan mengirimkan tenaga medisnya ke Italy.

Mencegah penyebaran virus ini adalah juga menyelamatkan ekonomi bangsa. Sekalipun pemerintah mesti menyiapkan skema ekonomi jika dampak virus ini makin parah. Persatuan dan solidaritas adalah kunci. Mari bahu membahu dan mematuhi langkah antisipatif pemerintah. Corona tudak semata masalah pemerintah, namun masalah umat manusia.

Menutup tulisan ini saya meminjam kalimat Sejarawan Yahudi Youval Noah Harari “Banyak orang menyalahkan virus Corona pada globalisasi dan mengatakan bahwa satu-satunya cara mencegahnya dengan mendeglobalisasi dunia…justru sebaliknya penangkal sesungguhnya dari epidemi bukan pemisahan, melainkan kerjasama.

*) Penulis adalah Wakil Ketua PRD Sulawesi Tengah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here