Operasi penyelamatan buaya pada hari kedua (Jumat (7/2/2020). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

PALU, beritapalu | Balai  Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulteng menghentikan sementara operasi penyelamatan buaya terjerat ban bekas yang telah berlangsung selama tiga hari terakhir ini.

Penghentian sementara operasi bersandi “Peduli Buaya” itu disampaikan langsung Kepala Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA Sulteng, Haruna di lokasi pencarian buaya di muara Sungai Palu, Sabtu (8/2/2020) sore.

“Hari ini kami sejenak akan menghentikan operasi sambil melakukan pemantauan secara terus menerus keberadaan satwa liar ini, karena satu hari ini tidak menampakkan diri secara jelas keberadaanya,” ujar Haruna.

Ia melanjutkan, operasi akan dilanjutkan kembali jika keberadaan buaya telah diketahui dengan jelas dan tidak akan berhenti hingga buaya liar itu benar-benar tertangkap dan ban bekas yang menjeratnya dapat dikeluarkan.

Haruna menyebutkan, selain pertimbangan kemunculan buaya itu yang tidak pasti, penghentian sementara itu juga karena personel tim penyelamat yang juga memiliki keterbatasan.

“Anggota tim penyelamat ini juga manusia biasa, punya batas waktu, kelelahan dan perlu rehat. Kondisi lapangan juga, buaya tidak muncul, di beberapa titik juga banyak sekali warga. Belum buaya muncul, sudah seperti pasar,” ujar Haruna.

Sebelumnya BKSDA membentuk tim penyelamat buaya yang terdiri beberapa unsur seperti dari BKSDA Sulteng sendiri, BKSDA NTT, Polairud Polda Sulteng dan kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Tim tersebut telah bekerja tiga hari dan hingga kini belum membuahkan hasil.

Selain menyatakan penghentian sementara operasi penyelamatan buaya itu, Haruna juga mengemukakan soal teknik penyelamatan buaya pada operasi berikutnya yang mungkin akan diubah.

“Teknik yang kita gunakan saat ini kurang efektif, jadi mungkin ke depan kita akan ubah tekniknya dan dengan memanfaatkan masyarakat lokal,” sebutnya.

Haruna menegaskan, meski dilakukan perubahan teknik penyelamatan, namun penggunaan obat bius tidak akan digunakan.

“Siapapun tidak akan diperkenankan untuk menggunakan obat bius, karena itu menyalahi aturan,” tegasnya.

Menyinggung kemungkinan adanya bantuan dari pihak lain untuk penyelamatan buaya tersebut, HJaruna mengatakan, sangat terbuka, sepanjang menyampaikan kepada BKSDA dan taat pada aturan yang ditetapkan. (afd)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *