Culture Project pada peluncuran single terbaru “Darurat” di Huntara Talise, Jumat (31/1/2020). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

PALU, beritapalu | Namanya Arul dan bertindak sebagai host. Menjelang pukul 17.00 Wita pada Jumat (31/1/2020), ia berjalan maju dan mengambil alih microphone yang terpasang di bawah tenda plastik biru di antara dua blok hunian sementara lapangan golf, tidak jauh dari Hutan Kota Kaombona, Talise.

Arul lalu mengumumkan kepada pengunjung, hadirin dan hadirat yang sedang menikmati jagung rebus dibawai rinai hujan kecil di sekitar blok huntara itu, jika sesaat lagi acara peluncuran single terbaru Culture Project akan dimulai.

Ia tidak langsung memanggil seluruh personel grup band Culture Project untuk beraksi, melainkan melucu alias “berkonga” dengan joke-joke jitu yang mengundang tawa. Meskipun Arul cukup cerdas mengantar suasana, ia menolak disebut pelawak.

“Mohon maaf, acara agak molor karena hujan. Tapi ada bagusnya juga, kesempatan menikmati jagung rebus makin banyak, hahahah,” selorohnya.

Para penampil mulai dipanggil satu persatu. Namun sebelum para penampil itu benar-benar tampil, Arul malah tampil duluan dengan lagu-lagu pataba-nya.

arul pada peluncuran single terbaru “Darurat” Culture Project di Huntara Talise, Jumat (31/1/2020). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

“Manis juga suaranya Arul,” celetuk salah seorang penyintas dari pintu bilik huntaranya yang sedari tadi menyimak jalannya kegiatan itu.

Usai berdendang, Arul kemudian memanggil Achi The Box untuk maju dan memberi hiburan bagi pengunjung dan terutama para penyintas bencana yang menghuni 10 blok di huntara itu.

Dua buah lagu yang cukup sentimentil sukses dilantunkan Achi yang berambut kribo itu. Aplaus panjang menyertainya setelah Achi mempermaklumkan dirinya sebagai bagian dari penyintas itu. Ia adalah warga Balaroa yang juga terdampak likuefaksi pada 28 September 2018 lalu.

“Waktu magrib sudah tiba, kita break dulu. Kita lanjut setelah maghrib,” kata Arul kepada para pengunjung.

Achi The Box pada peluncuran single terbaru “Darurat” Culture Project di Huntara Talise, Jumat (31/1/2020). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Kesempatan break itu dimanfaatkan panitia untuk secepatnya mendapatkan lampu karena sesungguhnya acara launching itu tidak dipersiapkan hingga malam hari. Acara yang seharusnya dimulakan pada pukul 16.00 Wita, molor ke 17.00 Wita lantaran hujan dan dengan sejumlah rangkaian acara yang bagian-bagiannya tidak bisa di-prememori-kan.

Untung saja para penyintas di huntara itu cukup sigap, menyediakan aliran listrik, kabel, hingga bola lampu untuk penerangan. “Beruntung kita karena komunitas musik ini mau hadir di tengah-tengah kita bersama para korban bencana, merasakan apa yang kami rasakan,” kata salah seorang penyintas yang dipanggil Mas Siomay.

Acara itu memang dikemas sangat sangat sederhana. Tidak ada panggung, tidak ada lighting, tidak ada audio visual system sebagaimana layaknya sebuah pertunjukan musik. Tenda pun hanya diikatkan pada dua batang pohon asam yang tumbuh di antara huntara itu. Lantainya apalagi, hanya beralaskan tanah lengkap dengan bekas-bekas gergajian dan potongan-potongan kayu. Pun berada di dekat kandang burung merpati.

Bukan itu saja, para penampil dan penggembira tak dihonor satu rupiah pun. Mereka bersedia hadir dan tampil di acara itu dengan satu kesadaran bersama akan nilai-nilai kemanusiaan, kebersamaan, dan solidaritas.

Carrebean Bunglon pada peluncuran single terbaru “Darurat” Culture Project di Huntara Talise, Jumat (31/1/2020). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

“Mungkin ini tebusan kami kepada para penyintas, bahwa selama ini kita tidak memberi apa-apa. Kita kerap datang ke sebuah acara kemanusiaan tetapi hitungannya selalu dalam koridor profesional atau dibayar. Mungkin inilah tebusannya, kami hadir bukan dengan uang atau materi, tapi hiburan, musik,” kata Umariyadi Tangkilisan, salah seorang personel Culture Project.

Suara drum tiba-tiba berbunyi dari bawah tenda yang diterangi dua mata lampu led masing-masing 24 watt. Waktu break sudah usai dan di kursi drum itu telah duduk personel Carrebean Bunglon yang sebentar lagi akan menjamu para penyintas dan pengunjung dengan lagu-lagu reggaenya.

Sejumlah penyintas yang sedang mengisi wadah galonnya dengan air minum yang disuplai oleh sebuah lembaga kemanusiaan teralihkan perhatiannya. Apa adanya, penyintas itu terkekeh-kekeh dengan guyonan personel Carribean Bunglon yang rada-rada “nyeleneh”.

Carrebean Bunglon pada peluncuran single terbaru “Darurat” Culture Project di Huntara Talise, Jumat (31/1/2020). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Salah seorang personelnya protes usai menyanyikan lagu pertamanya. “Tadi katanya mau goyang bersama kalau nyanyi, mana itu goyangan…?” Tak ayal lagi, di lagu kedua, goyangan itu merebak ke para penonton, tak terkecuali anak-anak penyintas yang selalu berposisi di bagian terdepan.

“Tibalah kita pada acara inti, yaitu Culture Project dengan single terbarunya. Tapi sebelum itu, mari kita nikmati beberapa lagu-lagu hits-nya” kata pemandu acara mengumumkan.

Personel Culture Project yang terdiri dari Zhul Usman (vocal), Umariyadi Tangkilisan (guitar dan vocal), Ayub Lapangandong (bass vocal), dan Riyan Fawzi Panintjo (guitar, synthetixzer, vocal) maju ke bawah tenda.

Tiga hits sebelumnya yakni Paludilupa, Palu Dimana, dan Porelea sukses diperdengarkan untuk mengantarkan pada single terbarunya “Darurat”.

Hening sejenak, dan kemudian alunan musik intro mengalir menandai permulaan “Darurat”…. Begini liriknya:

| Tak bisa lagi menunggu | Tak bisa lagi menunda | Terlalu lama bertahan | Terlalu lama berharap |  Kami butuh kepastian harapan | Hingga kini tiada kejelasan | Tundadatatunda ditundatunda | Tunggudatatunggu ditunggutunggu |

Tak hanya jingkrak-jingkrak penonton, aplaus panjang membahana ketika lagu itu mencapai bagian akhir. Bahkan para penonton meminta agar lagu dinyanyikan ulang. “Darurat” sungguh menghipnotis penyintas dan pengunjung yang hadir.

Satu lagi khasanah musik yang berpijak pada kondisi lokal dihadirkan Culture Project dan menambah perbendaharaan seni yang berpihak kepada nasib orang banyak.

Penyintas bencana pada peluncuran single terbaru “Darurat” Culture di Huntara Talise, Jumat (31/1/2020). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

“Kemarin saya mendengarkan trailer lagu ini di WhatsApp, tapi setelah mendengar aslinya secara langsung, sungguh luar biasa. Ini benar-benar luar biasa, aransemennya sangat apik, liriknya juga sangat kontekstual, sangat bermakna. Lagu seperti ini memang harus dilaunching di tempat seperti ini karena sangat mewakili para penyintas,” komentar Hasman, salah seorang pengunjung.

“Saya salut dengan Culture Project, idealismenya untuk menghadirkan lagu-lagu yang berakar pada masalah-masalah sosial tetap terpelihara. Tidak banyak grup band yang bisa konsisten seperti ini. Lagunya pun enak didengar,” ujar Hary yang mengaku mengikuti perjalanan Culture Project dan sengaja datang dari Pantoloan khusus untuk melihat langsung performancenya di Huntara Talise.

“Culture Project ini seperti menampar pihak-pihak terkait. Pertama, lagunya sangat mengenai realitas para penyintas. Kedua, soal tempatnya di Huntara. Ini mestinya membuka mata kita bahwa memang banyak yang belum jelas pada nasib para penyintas. Dan ini juga harusnya menjadi contoh bagi musissi lain bahwa uang tak selalu nomor satu untuk berkarya,” ujar Rony, salah seorang penonton.

“Saya terharu karena meskipun kami masih dalam kondisi begini, tapi ternyata ada juga yang mau datang melihat keadaan kami disini dan bermain musik untuk menghibur kami. Tapi kami juga sedih karena sudah hampir satu setengah tahun bencana, tapi kondisi kami juga masih begini-begini,” ujar salah seorang penyintas yang enggan dituliskan identitasnya.

Dibalik keharuan dan kesedihan penyintas ini, ia juga merasa bangga karena justeru Huntara yang ditempatinya yang dijadikan sebagai tempat peluncuran lagu “Darurat” oleh Culture Project.

Sejumlah pihak memberi apresiasi positif atas kegiatan itu. Bahkan Yusuf Radjamuda, seorang sineas yang kerap membawa nama Palu hingga ke level internasional berharap agar kegiatan semacam seperti ini dapat dilaksanakan secara rutin dan terjadwal. Semisal bulan ini dilakukan di huntara satu, bulan berikutnya di huntara dua dan seterusnya.

“Saya tidak tinggal di huntara, tapi saya bisa merasakan seperti ada energi baru ketika didatangi dan lalu dihibur seperti ini. Ini juga menjadi cerminan dari kepedulian sosial kita. Saya harap ini bisa menjadi agenda rutin,” harap Yusuf yang sering disapa dengan Papa Al ini.

Umariyadi Tangkilisan mewakili Culture Project menyampaikan terimakasihnya kepada para pendukung acara itu, tak terkecuali para penyintas yang telah memfasilitasi sehingga acara itu bisa berlangsung dengan baik.

“Sudah ada dalam ancangan kami untuk menindaklanjuti acara hari ini. Kalau hari ini di Huntara Talise, mungkin berikutnya di Huntara lainnya. Tentu kita juga mengajak para musisi lainnya untuk bersama-sama melakukan ini,” kata Umariyadi.

Tentang Culture Project

Culture Project terbentuk pada 2008 atas gagasan Zulkifli Pagessa- seorang arsitek dan juga sutradara teater  untuk terus menghidupkan karya-karya almarhum Hasan Bahasyuan- seorang seniman dan budayawan Kaili yang sangat produktiif di Sulawesi Tengah pada tahun 1960-an hingga 1990-an.

Proses mempelajari karyakaray Hasan Bahasyuan ini memicu proses kreatif baru yang menghidupkan otpimisme dan mengharuskan lahirnya karya-karya baru, apalagi teknologi telah kian mempermudah proses produksi.

Upaya mengolah bentuk nyanyian dan spirit tradisi etnis Kaili ke dalam garapan musik yang lebih populer dimulai. Culture Project tak lagi membatasi musik sebagai peristiwa bunyi-bunyian yang sekadar memberi hiburan, teapi musik juga dihadirkan sebagai medium reflektif, edukasi, pembawa berita, sekaligus pernyataan sikap atas pencapaian emosi, pikiran dan spiritual.

Culture Project mengahayati musik sebagai salah satu produk kebudayan yang berposes dan tumbuh bahwa hari ini tak lepas dari apa yang terjadi di masa lalu, yang berkontribusi dalam proses kebudayaan selanjutnya.

Culture Project berkomitmen untuk menggarap dan memanggungkan karya musik yang berpijak pada kekinian yang relevan terhadap peristiwa lokal maupun global. (afd)

1 Comment

  1. terima kasih om piss,.. ulasan yang keren,..
    semoga bermanfaat,..

    salam damai bahagia,..

    #majudenganberani
    #janganbosan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *