Buaya liar yang terjerat ban motor bekas pada pemunculannya di sungai Palu, Rabu (15/1/2020). Ukuran tubuh yang kian besar dan panjang membuat ban itu makin mencekiknya. (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

PALU, beritapalu | Setelah beberapa waktu tak terlihat, buaya liar yang terjerat ban bekas atau populer disebut “Buaya Berkalung Ban” kembali menampakkan diri. Kali ini terlihat di sungai dekat Jembatan Palu II, Jalan I Gusti Ngurah Rai, Rabu (15/1/2020).

Penampakan buaya yang memiliki habitat di muara sungai itu mengundang perhatian warga, tak terkecuali para pengendara yang melintas di jembatan itu.

“Sudah beberapa hari ini muncul,” kata salah seorang warga yang bermukim tidak jauh dari bantaran sungai itu.

Bahkan pada Jumat (10/1/2020) sore lalu, buaya yang pernah “diburu” oleh Panji Sang Petualang itu sempat naik ke darat, tepatnya di gundukan pasir tepatnya di pendangkalan sungai yang mengering.

Menurut warga setempat, kemunculan buaya itu tidak selalu pasti. Kadang pagi hari, teapi lebih banyak pada siang sampai sore hari.

“Buaya itu naik untuk berjemur,” sebutnya.

Setiap pemunculannya kata dia, antusias warga selalu tinggi. Tak jarang ada yang langsung live di media sosial, bahkan ada yang berusaha berselfie dengan latar belakang buaya tersebut.

Buaya liar itu pertama kali menampakkan diri dalam kondisi terjerat ban motor bekas pada September 2016. Kondisinya yang terjerat ban bekas itu mengundang banyak simpati dari perorangan maupun lembaga untuk menolongnya.

Tercatat Panji Sang petualang pernah secara khusus datang ke Palu bersama timnya untuk melakukan evakuasi dan pertolongan guna melepas ban yang mencekik buaya itu. Namun upaya itu tidak berhasil karena sang buaya cukup lihai mengelak dari setiap jeratan perangkap.

Sebuah lembaga pecinta binatang juga pernah mencoba melakukan hal yang sama, namun sekali lagi gagal lantaran sang buaya tidak menampakkan diri. Saat itu, tim tersebut menunggui kemunculannay di sekitar Jembatan II Palu, namun sang buaya justeru berada di Jembatan IV. Sebaliknya, ditunggui di Jembatan IV, namun munculnya di Jembatan II.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah juga pernah mencoba melakukan usaha penyelamatan dengan memasang perangkap buaya. Tapi untuk kesekian kalinya, upaya itu gagal menangkap sang buaya.

Bahkan karena “lihai”nya sang buaya, BKSDA beberapa waktu lalu pernah mengumumkan akan memberi paresiasi khusus bagi siapa saja yang berhasil menangkap buaya itu dan melepaskan ban yang melilitnya.

Pada pemunculannya Rabu (15/1/2020) kemarin, ban yang terus mengalung dilehernya makin mencekiknya. Bagaimana tidak, bobot buaya itu tampak makin besar, begitu pula dengan ukuran panjangnya yang diperkirakan sudah mencapai empat meter.

Adakah di antara kalian yang mau mencoba menyelematkan sang buaya dari belenggu ban bekas itu..? (afd)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *