Aparat gabungan berjaga di lokasi pertambangan emas yang ditertibkan di Dusun Dongi-Dongi, Desa Sedoa, Lore Utara, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, Kamis (1/9/2016). Penertiban untuk yang kedua kalinya dilaksanakan itu melibatkan sedikitnya 1.111 personel gabungan dari Polri, TNI, Polhut, dan Satpol PP yang dilakukan karena tambang tersebut berada di kawasan konservasi Taman Nasional Lore Lindu dan dipastikan merusak lingkungan. (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

PALU, beritapalu | Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Sulteng menantang aparat penegak hukum untuk membongkar pemodal di balik aktivitas pertambangan illegal yang banyak terjadi di Sulteng.

Tantangan itu dikemukakan terkait penangkapan yang dilakukan oleh Polda Sulawesi Tengah kepada beberapa orang yang terindikasi  melakukan penambangan illegal dan mengamankan beberapa karung material tambang atau reef sebagai barang bukti di Dusun Dongidongi, Lore Utara Poso belum laam ini.

“Bagi kami di JATAM Sulteng, tidak akan menyelesaikan persoalan  aktivitas pertambangan ilegal di manapun di wilayah Sulawesi Tengah, termasuk di kabupaten Sigi, karena penangkapan ini tidak sampai pada siapa yang memodali mereka untuk terus melakukan aktivitas pertambangan,” kata Muh Taufik, coordinator pelaksana Jatam Sulteng, Kamis (16/1/2020).

Menurutnya, aktivitas pertambangan ilegal seperti ini biasanya dibekingi pemodal besar sehingga masih saja terus berlangsung, dan ketika pemodalnya tidak ditangkap, ia memastikan akan tetap berlangsung.

“Kami menantang aparat penegak hukum, bukan hanya melakukan penindakan terhadap aktivitas-aktivitas pertambangan ilegal yang dikelola oleh rakyat, tapi juga berani melakukan penindakan terhadap aktivitas pertambangan  ilegal yang menggunakan teknologi canggih dan juga diduga  menggunakan perendaman untuk memurnikan emas,” sebut Taufik.

Bukan itu saja, JATAM Sulteng juga menantang aparat penegak hukum melakukan penindakan terhadap aktivitas pertambangan  yang legal dan dikelola oleh perusahaan-perusahaan tambang dan diduga melakukan pencemaran lingkungan dan perampasan  ruang-ruang produksi rakyat.

Kasus  pencemaran dan perampasan ruang produksi menuruntya banyak terjadi, seperti di Danau Tiu, Kabupaten Morowali Utara yang tercemar lumpur yang diduga kuat diakibatkan oleh aktivitas pertambangan dan juga ratusan hektare sawah masyarakat di Kecamatan Moutong yang juga  terendam lumpur akibat dari aktivitas pertambangan.  (afd/*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *