Menjawab Hoax; Cerdas Menggunakan Media Sosial Di Era Digital

Oleh : Muh. Fadhir A.I. Lamase

Muh. Fadhir A.I. Lamase

BEBERAPA bulan terakhir, penulis mengikuti obrolan salah satu grup Facebook Kabupten Buol yang penghuninya dari berbagai kalangan, tua maupun muda, dengan total penghuni mencapai 67.382 anggota.

Obrolan di grup itu beragam mulai dari pembahasan sosial, ekonomi, politik dan menjadi dinamika konten grup itu, khususnya tentang persoalan kedaerahan.

Dalam beberapa tawaran argumentasi para penghuni grup itu, dipersoalkan kinerja pemerintahan nasional, provinsi maupun kabupaten yang kurang optimal. Dari sekian kalinya, penulis pun selalu merespon argumentasi yang bagi saya kurang mendidik bagi masyarakat luas untuk di konsumsi.

Bagaimana tidak, konten obrolan yang ditawarkan mayoritas menyebabkan debat kusir para dengan argumentasi yang lahir dari spekulasi pribadi. Semuanya tidak berbasis data dan fakta yang ada. Hal itulah yang membuat awal mula polemik penghuni grup.

Dalam hal ini penulis melihat ada penyakit yang coba dilahirkan kemudian di rawat dalam grup tersebut. Penyakit para warganet yang mudah menjalar pada penghuni yang lainnya.

Singkatnya, penulis melihat beberapa para penghuni yang mengumbar penyakit yang akrab  disebut hoax (berita bohong). Apakah dampak jika hoax di biarkan, dan seberapa berbahayanya?

Ahli komunikasi dari Universitas Indonesia (UI), Muhammad Alwi Dahlan menjelaskan hoax atau kabar bohong merupakan kabar yang sudah di rencanakan oleh penyebarnya.

Hoax merupakan manipulasi berita yang sengaja dilakukan dan bertujuan untuk memberikan pengakuan atau pemahaman yang salah. Hoax pun menyelewengkan fakta sesungguhnya sehingga mampu menarik perhatian masyarakat.

Guru Besar hukum siber dari Universitas Malaya, Malaysia, Abu bakar Munir bahkan menyebutkan bahwa penyebaran berita bohong melalui instrumen media online tidak hanya merusak kehidupan demokrasi suatu Negara, tapi lebih jauh menjadi penyebab runtuhnya tatanan sebuah negara dan bangsa.

Dosen komunikasi Universitas Medan Area, Ressi Dwiyana menyatakan dalam suatu wawancara, setiap hoax pastliah dibuat untuk merugikan pihak lain, baik secara langsung maupun tidak langsung. Hoax menjadi cara mengekspresikan kebencian, permusuhan, dan pertentangan.

“Ini dengan mudah bisa dilihat dari apa yang mereka posting di sosial media. Ada yang isi semua hal hoax yang menyudutkan satu pihak, agama dan lain sebagainya,” ujar Ressi.

Dilansir dari katadata.co.id, Survey Center for International Governance Inovation (CIGI) tahun 2019 menyebut bahwa 86% pengguna internet di seluruh dunia pernah tertipu hoaxs. Sebanyak 77% dari korban mengatakan, sumber berita palsu yang paling sering mereka kutip berasal dari Facebook, bahkan peperangan di berbagai belahan dunia, dalam catatan sejarah dipicu oleh hoax.

Seperti diberitakan Liputan6.com, menjelang akhir 1950-an, Amerika Serikat (AS) dan Inggris Tengah terkesan oleh kepemimpinan  Presiden Gamal Nasser di Mesir. Hal itu tidak di sukai oleh Israel, karena khawatir jika kedua negara paling berpengaruh itu akan meniggalkannya

Untuk menghadapi hal itu, Israel pun melakukan sebuah provokasi sederhana, yakni dengan meledakan bom di beberapa target AS dan Inggris di Mesir. Setelah itu pihak Israel mengkabinghitamkan pihak muslim di mesir sebagai pelakunya.

Begitupun kejadian di dalam negeri, simak saja kabar okezone.com Rabu (28 Maret 2018) saat Front Pembela Islam FPI membakar Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI) pada awal Januari 2018 di Bogor.

Hoax yang didapat para anggota FPI dari media sosial yang memberitakan bahwa salah seorang anggota FPI ditusuk oleh anggota GMBI. Akibat penyerangan tersebut, satu markas GMBI serta sebuah rumah hangus terbakar. Kerugian yang ditimbulkan pun mencapai ratusan juta rupiah.

Contoh ini menggambarkan begitu berbahayanya hoax dalam kehidupan bermasyarakat, sebagaimana grup facebook Kabupaten yang ada hari ini.

Untuk menyikapi  berita hoax ini, penulis melihat tiga hal pokok yang menjadi tawaran solusi. Pertama, terkait kredibilitas grup. Kedua adalah wacana konten obrolan berkualitas di grup tersebut. Ketiga, literasi media.

Pertama, terkait kredibilitas pengelola grup, sampai tulisan ini di buat, penulis masih belum mengetahui siapa pengelola  grup itu. Mengapa  bisa ia membiarkan keributan grup terjadi hanya karena membiarkan konten tidak berkualitas masuk di posting. Pihak pengelola akun seharusnya mampu meminimalisir kekacauan pendapat para penghuni grup.

Kedua, konten berkualitas. Mengapa demikian? Tak lain karena, konten yang ditawarkan tidak berkualitas. Dengan memberitakan hal yang mampu menginspirasi guna mengarah pada pembangunan kedaerahan.

Ketiga, literasi media adalah hal pokok yang ingin penulis sampaikan dalam tulisan ini. Dengan literasi media masyarakat akan cerdas dalam bersosial media, masyarkat mampu menyaring informasi tanpa mudah terprovokasi oleh konten hoax.

Bagaimana masyarakat memahami literasi digital dengan baik sebagai bekal dalam berselancar di media sosial? Karena, setiap konten media mempunyai motif kepentingan didalamnya.

Menurut David Croteau dan Hoynes, seharusnya ada dua pertanyaan mendasar yang harus dijawab saat berhadapan dengan sajian media,  khususnya media social. Pertama, siapa pemilik media? Dengan demikian masyarakat menjadi paham tentang kepentingan dibalik pemberitaan yang di sajikan. Ideologi pemilik media akan menpengaruhi sajian media.

Pertanyaan kedua yang harus dijawab adalah bagaiman sajian media tersebut diproduksi? Bagi masyarakat selaku konsumen media, memahami konteks, waktu, dan cara bagaimana sajian media itu dikemas lalu disuguhkan adalah bagian penting untuk dikritisi.

Sikap kritis menjadi hal pokok masyarakat sebagai konsumen media, seperti penghuni grup facebook kabupaten haruslah tetap terjaga agar tidak mudah tergiring opini liar dari para pembuat hoax.

Sebagai penutup tulisan ini, penulis melihat solusi terkini ialah pengawasan dari pihak pemerintah harus baik. Dengan membuat media digital resmi dari Pemerintah Kabupaten.

Di era digital seperti ini, dimana seluruh aspek telah ter-digitalisasi, sudah seharusnya daerah mengikuti perkembangannya dengan menciptakan paltfom media, seperti website, Facebook, Instragram , twitter.

Jika memang medianya sudah ada, maka harus di sosialisasikan secara massif ke seluruh masyarakat kabupaten sebagai media independen pengentas hoax, sekaligus media utama untuk  mencerahkan dan mencerdaskan masyarakat Kabupaten Buol.  ***

*) Penulis adalah Warga Kabupaten Buol

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here