Personel Culture Project, dari kiri ke kanan : Riyan Fawzi Panintjo (guitar, synthetixzer, vocal), Ayub Lapangandong (bass vocal), Zhul Usman (vocal), dan Umariyadi tangkilisan (guitar dan vocal). (Foto: Culture Project)

Apa kabarmu…lama tak kudengar suaramu / Tiada kabarmuuu… hilang / Apa kabarmu…lama tak kudengar namamu / Tiada kabarmu…sunyiiii / Kau terpasung gunung…dirantai lautan / Palu dimana… Palu dimana… lupa Palu dimana… Palu dilupa..

Begitu penggalan bait pembuka dari single terbaru Culture Project – sebuah kelompok musik etnik dan tradisi di Palu. Lagu itu lahir dari keprihatinan mendalam tentang Kota Palu yang setahun lalu dilanda three successive disasters, gempa, tsunami, dan likuefaksi.

“Coba komiu jawab, Palu dimana sebelum dan sesudah bencana..?” tanya Umariyadi Tangkilisan, salah seorang personel Culture Project kepada beritapalu.com.

“Lagu ini adalah refleksi dari pertanyaan itu dan pertanyaan lainnya yang terkait dengan Palu,” sambungnya lagi.

Pria yang akrab disapa Adi Tangkiliasan alias Papa Guma ini tak menampik jika kecemasan itu disebut melatarbelakangi lahirnya lagu baru itu.

“Iya, banyak hal yang tak sesuai dengan ekspektasi kami. Culture Project mencoba menerawangi hal itu, tentu dengan konsistensi di jalur musik tradisinya. Ada kegelisahan di dalamnya,” jelasnya.

Sesuai jadwal, single terbaru itu akan dirilis perdana pada Minggu (29/12/2019) di Jalan Letjen S. Parman No.22 Palu pada pukul 20.00 Wita.

“Ini wajib dihadiri, lagunya sangat sarat makna, dan bahkan sangat menyentil, terutama kita yang mengaku sebagai orang Palu,” kata Idham, salah seorang praktisi music di Palu usai mendengar cuplikan lirik dan lagu Paludilupa tersebut.

Kasarnya lanjut Idham, lagu ini seolah mempertanyakan ke-Palu-an orang-orang yang mendiami bumi Tadulako.

Tentang PALUDILUPA

Tahun 2011 PALUDILUPA sebagai karya musikal pernah dipentaskan secara kolaborasi  di gedung juang pada  “palu contemporary 2011”, ivent yang digagas Zulkifli Pagessa sebagai salah satu sub even dalam festival teluk palu 2011.

PALUDILUPA merespon kondisi kampung besar yang bernama Palu, sebagai ruang hidup yang dekat  dengan spirit lokal  sekaligus lebur, tumbuh  menjadi kota urban.  Kondisi ini terasa mengaburkan jatidiri antara kota yang kampungan atau kampung yang kotaan.

“Kita dipacu menjadi warga yang mau tak mau harus  bisa beradaptasi dengan keinginan zaman. Kondisi menjadi gamang, kehilangan inisiatip, tak berani mengambil keputusan.. Menjadi masyarakat yang “maju” tapi kehilangan nilai arif tradisi, atau statis lestari dalam nilai yang menarik kita ke “masalalu” ,” terang Adi.

Keberanian tak muncul. Ide dan gagasan macet ..kontra dalam keheningan  lintas kendaraan yang justru  tak pernah macet.

“Kini kota mulai macet… Ide ide justru berkembang. Tapi keberanian masih salah sasaran. Inisiatif masih harus diingatkan. Palu masih lupa dan kita perlu pengingat,” tambahnya

September 2018 pengingat terbesar  pun terjadi.

Inilah kita;

Kota yang  kehilangan kendali, kampung yang mudah diprovokasi .

Para pemimpin bergerak lamban,  warga kehilangan inisiatif . Selalu menunggu.

Dan kita masih menyandarkan harapan pada sesuatu yang jauh disana.

Masih pada kota yang sama…

Kota yang selama ini berperan mengaburkan identitas kita. 

Kota besar yang jaraknya beribu ribu kilometer dari palu.

Kota yang tak pernah merasakan bagaimana menjadi palu.

Palu dilupa!

Perlu pengingat?

Kitalah pengingat yang  saling mengingatkan

Karena lupa masih alasan bersama

Tentang Culture Project

Culture Project terbentuk pada 2008 atas gagasan Zulkifli Pagessa- seorang arsitek dan juga sutradara teater  untuk terus menghidupkan karya-karya almarhum Hasan Bahasyuan- seorang seniman dan budayawan Kaili yang sangat produktiif di Sulawesi Tengah pada tahun 1960-an hingga 1990-an.

Proses mempelajari karyakaray Hasan Bahasyuan ini memicu proses kreatif baru yang menghidupkan otpimisme dan mengharuskan lahirnya karya-karya baru, apalagi teknologi telah kian mempermudah proses produksi.

Upaya mengolah bentuk nyanyian dan spirit tradisi etnis Kaili ke dalam garapan musik yang lebih populer dimulai. Culture Project tak lagi membatasi musik sebagai peristiwa bunyi-bunyian yang sekadar memberi hiburan, teapi musik juga dihadirkan sebagai medium reflektif, edukasi, pembawa berita, sekaligus pernyataan sikap atas pencapaian emosi, pikiran dan spiritual.

Culture Project mengahayati musik sebagai salah satu produk kebudayan yang berposes dan tumbuh bahwa hari ini tak lepas dari apa yang terjadi di masa lalu, yang berkontribusi dalam proses kebudayaan selanjutnya. 

Setelah beberapa kali pergantian personel, Culture Project saat ini bertahan dengan format Zhul Usman (vocal), Umariyadi tangkilisan (guitar dan vocal), Ayub Lapangandong (bass vocal), dan Riyan Fawzi Panintjo (guitar, synthetixzer, vocal).

Culture Project berkomitmen untukmenggarap dan memanggungkan karya musik yang berpijak pada kekinian yang relevan terhadap peristiwa lokal maupun global. (afd)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *