Asal Kata Palu adalah Lupa

(Catatan menyambut peluncuran rilis baru Culture Project)

Oleh : Neni Muhidin (Nemu Buku)

‘Apa kabarmu, lama ku tak dengar suaramu.’

Karena membicarakan Atlantis yang hilang cenderung fiksi, subyektif, sarat ambisi, dan sekadar melegitimasi, ada satu lokasi yang bisa diajukan sebagai bukti tentang hilangnya sebuah lokus dan peradaban yang terbentuk di sana dari muka bumi.

Gempabumi dan tsunami mengubur Helike, kota di pesisir Teluk Korintus, Yunani, pada tahun 373 sebelum Masehi. Kota itu ditemukan tahun 2001 melalui uji paritan dan ekskavasi. Terkubur selama 2.374 tahun.

‘Tiada kabarmu, hilannggg….’

Jauh dari Helike, di Lembah Behoa, Lore, Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah, sebuah situs purbakala dipercaya memiliki nama Halodo yang artinya terbenam, terkubur ke dalam tanah. Kebudayaan Kaili yang serumpun di arah barat dari dataran itu dan lebih mendekat ke pesisir, menyebutnya Nalodo dengan arti sama. Belakangan sains kemudian mendefinisikannya sebagai likuefaksi.

Nama yang melatari jejak peristiwa hilangnya sebuah lokus, tempat, kota, beserta segala isi dan peradaban yang tumbuh bersamanya.

Apa kabarmu, lama ku tak dengar namamu.

Tidak jauh dari Lembah Behoa, tersebutlah sebuah nama yang di akhir abad 18 didengar pelafalannya oleh avonturis David Woodard sebagai Parlow. Woodard menyebutnya ‘fine town’ atau kota mungil dengan jumlah 500an rumah, dekat dari teluk.

Parlow yang kita kenal sebagai Palu itu tentu sudah jauh lebih dulu ada sebagai nama lokus dan peradaban dari apa yang Woodard amati. Lokus yang terus bergerak dan karenanya ditandai dengan dengan beragam toponim atau penamaan rupabumi yang dilatari peristiwa atau vegetasi yang tumbuh mendominasi di bagian-bagian terpisah dalam lokus bernama Palu itu.

Upaya menandai di masa lalu dengan nama adalah metode sains di masa itu agar sebuah lokus abadi. Mungkin sama seperti tafsir atas bahtera Nuh di kitab suci atau catatan Plato tentang Atlantis yang melahirkan banyak tafsir.

Tiada kabarmu, sunyyiii….’

Culture Project memberi tafsir baru dari komposisi lagu lama mereka, Palu Dimana Palu Dilupa. Lagu itu hadir kembali memberi kabar dengan sentuhan yang lebih progresif secara musikal, agar Palu, tema sentral dalam lagu itu, lokus yang telah ikut membentuk proyek musik itu lahir, terus ditandai.

Penggalan syair dalam jeda paragraf dari catatan menyambut rilisan baru Culture Project di atas, sengaja dipetik untuk menandai tema lupa yang auditif dalam rima bahasa dan utamanya sikap pada umumnya manusia, kritik lagu itu pada Palu beserta isinya.

Setelah bencana 2018, Palu masih ada dan nasibnya tidak setragis Atlantis atau katastofe di Helike. Tetapi jika kau percaya bahwa fakta kebumian yang terberi di lembah yang terus bergerak itu, pesan lain di baris lirik dalam lagu itu, ‘kau terpasung gunung dirantai lautan’ akan bikin kau percaya, lupa di sana adalah bencana yang sesungguhnya dan kita tidak lagi perlu bertanya Palu dimana. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here