Ketua Kolompok Bank Sampah Lambangan Utama yang juga Ketua RT 004/RW 02 Kelurahan Ujuna, Edi Lugito mengecek sampah-sampah plastik yang dikumpulkan warganya di Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (30/11/2019). Warga di RT tersebut membentuk Bank Sampah secara mandiri untuk membantu pengurangan sampah plastik sekaligus menambah pendapatan keluarga. Hingga kini, 33 warga setempat yang seluruhnya ibu-ibu telah terhubung dengan Tabungan Emas Pegadaian dengan aktivtas Bank Sampah tersebut. (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

 

PALU, beritapalu | Ketua RT 004 RW 02 Kelurahan Ujuna, Palu Barat ini memang berbeda dengan kebanyakan ketua RT di wilayah lainnya. Edi Lugito, begitu nama lengkapnya, tak hanya melakoni status itu sebatas pencap stempel Surat Keterangan domisili bagi warga yang membutuhkan, tetapi lebih dari itu menginisiasi dan mendorong warganya untuk terlibat aktif dalam upaya pengurangan sampah, terutama sampah plastik.

Karena itulah, pada pertengahan September 2019 lalu,  Bank Sampah bernama Lambangan Utama diresmikan pembentukannya. Edi Lugito dipercaya menjadi koordinatornya karena sejak awal, gagasan dan kerja-kerja persiapan banyak diperankannya.

“Bagian yang sulit itu ketika mengajak warga untuk ikut berpartisipasi. Tapi alhamdulilah, kebanyakan warga bisa memahami dan mau terlibat,” kata Edi pada suatu kesempatan dengan beritapalu.com.

Edi menambahkan, sederhana saja formula yang disampaikan kepada warganya, bank sampah ini untuk semuanya. Selain membantu membantu program pemerintah dalam pengurangan sampah, terutama sampah plastik, dengan mengumpulkan sampah itu juga ada nilai ekonomi yang menyertainya.

Edi tidak berjalan sendiri. Ia menggandeng sejumlah pihak seperti perusahaan pendaur ulang sampah plastik di Palu semisal Duta Recyling untuk menyalurkan sampah-sampah plastik yang sudah dikumpulkan, termasuk bagaimana memilah dan mengelompokkan sampah plastik yang punya nilai ekonomi.

Edi Lugito menata sampah-sampah plastik yang dikumpulkan warganya di RT 004 RW 02 Kelurahan Ujuna, Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (30/11/2019). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Dalam suatu kesempatan sebelumnya, pimpinan Duta Recycling, Kafrawi Al Kafilah dihadirkan langsung ke tengah-tengah warga untuk mendapat penjelasan tentang klasifikasi sampah plastik tersebut berikut nilai atau harga jualnya.

Ia juga menggandeng Wahana Visi Indonesia (WVI), salah satu lembaga non pemerintah yang bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat untuk memberi wawasan kepada warganya tentang plastik-plastik dan tata cara pengaturannya agar efektif dikelola.

Bukan itu saja, Pegadaian (Persero) bahkan dijalin kerjasamanya dalam hal mengonversi nilai sampah plastik itu dalam bentuk rupiah atau Tabungan Emas.

“Ini dinilai sangat positif oleh Pegadaian, makanya melalui Tabungan Emas Pegadaian itu, warga tidak lagi berurusan dengan uang tunai. Seluruh hasil pengumpulannya sampahnya langsung ditransfer ke rekening Tabungan Emas itu,” jelas Edi.

Setelah lebih dari dua bulan, Bank Sampah Lambangan Utama yang dinakhodainya itu telah mengumpulkan dan menyalurkan sampah-sampah plastik ke perusahaan pendaur ulang.

“Yang pertama pada bulan lalu, kami bersama ibu-ibu di RT ini berhasil mengumpulkan sekitar 88 kilogram sampah lastik yangs udah dipilah,” ungkapnya.

Seluruh hasil penjualan sampah plastik itu langsung ditransfer ke rekening warga melalui Tabungan Emas Pegadaian. Dalam catatannya, sedikitnya 33 warganya yang semuanya ibu-ibu telah terhubung langsung dengan rekening Tabungan Emas Pegadaian tersebut.

Ia mengungkapkan, sejak penjualan perdana itu, aktivitas pengumpulan sampah plastik di lingkungannya makin intens dilakukan. Warga katanya semakin meyakini jika selain membantu pemerintah, juga ada nilai ekonomi di balik sampah-sampah plastik itu.

“Jadi ibu-ibu yang tadinya cuek dengan sampah-sampah plastik, kini mulai aktif mengumpulkannya untuk disetor ke Bank Sampah ini,” sebut Edi.

Hingga kini, sampah-sampah plastik yang disetorkan oleh warganya sudah mulai menumpuk kembali. Sayangnya, tidak ada tempat yang cukup representative untuk menampungnya, kecuali di sekitar rumahnya yang juga bersebelahan dengan Pos Yandu.

“Untuk penyaluran sampah plastik kedua ini, kemungkinan besar akan meningkat dari sebelumnya karena semakin banyak ibu-ibu yang berpartisipasi. Yah kira-kira bisa mencapai atau lebih dari 100 kilogram,” sebut Edi mantap.

Bagaimana dengan dukungan Pemerintah Keluharan..?

Edi mengatakan, dukungan itu sangat positif. Itu terlihat dari berbagai fasilitas yang diberikan sejak baru sebatas ide hingga terbentuk Bank Sampah Lambangan Utama, bahkan hingga beroperasinya bank sampah itu. (afd)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *