Mahasiswa membawa pamplet saat menggelar aksi menyelamatkan Danau Poso di depan kantor DPRD Sulawesi Tengah di Palu, Selasa (26/11/2019). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

 

PALU, beritapalu | Keinginan aktivis Satu Indonesia Peduli (SIP) Danau Poso untuk meminta DPRD Sutleng melakukan hearing atau dengar pendapat dengan sejumah pihak terkait perusakan sistematik dan massif terhadap Danau Poso saat ini, gagal dilakukan.

Itu terjadi karena surat pemberitahuan resmi yang disampaikan ke DPRD melalui Sekretaris Dewan hilang.

“Bagaimana bisa surat itu hilang. Bagaimana sebenarnya mekanisme sistem administrasi di DPRD Sulteng ini,” tanya salah seorang aktivis SIP Danau Poso usai bertemu dengan sejumlah anggota DPRD Sulteng di Palu, Selasa (26/11/2019).

Walau surat itu hilang, para aktivis yang sebagian besarnya berdarah Poso itu tidak kehabisan semangat. Mereka menyatakan akan membuat lagi surat dan akan meminta hal yang sama, yakni hearing kepada DPRD Sulteng.

Tak itu saja, aksi menyelamatkan Danau Poso yang mengiringi permintaan itu kembali akan tetap dilakukan dan dengan massa yang lebih banyak.

“Kawan-kawan masih semangat…?” teriaknya melalui pengeras suara.

“Semangattt…!!!! Pakaroso…!!!” balas massa.

Sejumlah mahasiswa membentangkan spanduk saat menggelar aksi menyelamatkan Danau Poso di depan kantor DPRD Sulawesi Tengah di Palu, Selasa (26/11/2019). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Sebelumnya, sejumlah mahasiswa dan aktivis lingkungan yang peduli dengan kondisi Danau Poso melakukan aksi di depan Kantor DPRD Sulteng. Aksi itu adalah puncak kekesalan mereka karena penolakan atas pengerukan Danau Poso tidak dihiraukan di Kabupaten Poso.

Aktivitas pengerukan danau oleh PT. Poso Energy tetap berlangsung bahkan pada Selasa (19/11/2019) lalu, jembatan kebanggaan dan obyek sejarah warga Poso yakni Yondo Mpamona telah dibongkar untuk memuluskan aktivitas pengerukan.

Pengerukan itu dilakukan oleh PT Poso Energy agar debit air yang masuk ke turbin bisa ditingkatkan dalam rangka ekspansi energy PLTA Sulewana I dan III.

Pada aksi itu, sejumlah aktivis bergantian menyampaikan orasinya diselingi dengan musik dan lagu-lagu serta aksi teaterikal.

“Kenapa Danau Poso harus diselamatkan, karena banyak hal yang sangat penting disana, mulai dari ekosistem danau atau lingkungan, wilayah kelola masyarakat, obyek sejarah, dan juga kultur,” kata seorang aktivis lainnya saat berorasi.

Menurutnya, Danau Poso bukanlah milik PT Poso Energy yang seenaknya memperlakukannya, mengeksploitasinya untuk kepentingan mereka sendiri, melainkan milik semuanya yang seharusnya untuk memberi manfaat kepada semuanya. (afd)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *