Gambar rencana penangana jalan Teluk Palu. (Foto: Repro from Satgas PUPR)

 

PALU, beritapalu | Salah satu proyek pekerjaan rehabilitasi dan rekosntruksi yang diresmikan pemulaan pelaksanaannya oleh Wakil Menteri (Wamen) Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) John Wempi Wetipo adalah proyek tanggul laut.

Proyek yang meninggikan badan jalan setinggi tiga meter sepanjang Jalan Cumi-Cumi hingga menyeberang ke Penggaraman Talise sepanjang tujuh kilometer itu dinamai Silebeta, atau singkatan dari nama wilayah Silae, Lere, Besusu dan Talise.

“Saya tadi bertanya-tanya Silebeta itu apa yah? Tapi ternyata saya sudah mengerti setelah pak Arie Setiadi (Kepala Satuan Tugas Penanganan Bencana PUPR) menjelaskannya,” ujar Gubernur Sulteng Longki Djanggola pada seremoni sambutan di depan Wamen PUPR, Minggu (24/11/2019).

Gubernur menilai, pemberian nama tanggul itu cukup cerdas karena menggabungkan nama-nama wilayah yang dilintasi oleh tanggul tersebut.

Sebelumnya, Kepala Satuan Tugas Penanganan Bencana PUPR Arie Setiadi Moerwanto dalam laporannya menyebutkan, tanggul itu dibangun atas dukungan Asian Development Bank (ADB) dan diharapkan dapat selesai pada akhir 2020.

Sesungguhnya pekerjaan yang diistilahkan dengan proyek Penanganan Jalan Teluk Palu sudah akan dilaksanakan, namun Arie mengaku harus menyelesaikan beberapa bagian dari persiapan pelaksanaan sesuai yang disyaratkan oleh ADB antara lain lokasi dimaksud.

Karena itu, Arie juga meminta tolong kepada pak Wali Kota Hidayat yang juga hadir pada kesempatan itu agar para penjual yang berdagang di pinggiran pantai segera ditertibkan.

Petugas berada di Jalan Cumi-Cumi, Silae saat air laut mulai pasang, Minggu (24/11/2019). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Berdasarkan paparan detail gambar yang tersaji di kegiatan itu, jalan yang ditinggikan setinggi tiga meter dan menyisir pantai sepanjang tujuh  kilometer itu sekaligus menjadi tanggul laut. Di depannya terdapat area cadangan (buffer zone) selebar sekitar tujuh meter sebelum benar-benar sampai pada garis pantai.

Setelah buffer zone yang dilindungi dengan batu gajah, akan ditanam mangrove. Mangrove itu terutama berada di pesisir Silae dan Lere, sedangkan di wilayah Besusu dan Penggaraman, besar kemungkinan tidak ditanami mangrove karena topografi pantai yang dalam.

Sepanjang tanggul laut, juga akan dibuat empat titik penambatan perahu untuk mengakomodir para nelayan yang menggantungkan hidup dari mencari ikan dan udang.

Wamen PUPR John Wempi Wetipo mengaku bersyukur bisa hadir di Palu pada kesempatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.

“Tahun 2017 saya ke Palu dan menginap di Hotel Mercure. Saya melihat langsung bagaimana indahnya wilayah ini. Tapi begitu saya lewat di pesisir pantai ini kemarin, saya menjadi sedih karena semuanya hancur. Mungkin Tuhan sudah mengamanahkan saya hadir lagi di Palu untuk memperbaiki yang pernah indah ini. Semoga akhir 2020 mendatang, Palu ini menjadi lebih indah dari sebelumnya,” ujar John Wempi. (afd)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *