Derai Air Mata, Ritual Megilu Iringi Penghancuran Jembatan Pamona Tentena

POSO, beritapalu | Jembatan Pamona, ikon Tentena dan simbol budaya Mosintuwu mulai dibongkar pada Selasa (19/11/2019). Pembongkaran jembatan oleh warga itu diikuti dengan ritual megilu  Aliansi Penjaga Danau Poso  ( APDP ).

Sejumlah anggota APDP melakukan ritual Megilu mengiringi penmbongrakan situs budaya jembatan Pamona di Tentena, Selasa (19/11/2019). (Foto: Aliansi Penjaga Danau Poso)

“Megilu , bahasa Pamona yang berarti mengadu , mengeluh. Tapi bukan  hanya mengeluh atau mengadu saja melainkan meminta pembelaan pada sang Pencipta”  jelas Pdt. Wuri, anggota APDP.

Meminta pembelaan pada Sang Pencipta atau megilu dalam konteks saat jembatan bersejarah Pamona dibongkar , menurut Pdt. Wuri dilakukan karena berbagai usaha untuk mengajak pemerintah daerah, anggota legislatif dan perusahaan untuk berdialog tidak didengarkan.

Hajai Ancura, kordinator lapangan Megilu menyebutkan APDP sudah melakukan berbagai pendekatan kebudayaan dan dialog agar suara mereka didengarkan.  Antara lain melalui dengar pendapat dengan DPRD, mengirimkan surat langsung ke kementrian lingkungan hidup, melakukan somasi, termasuk melayangkan petisi , membuat aksi budaya. Langkah tersebut tidak dilihat atau tidak ditindaklanjuti.

Dalam ritual megilu ini, APDP melakukan doa-doa dalam bahasa Pamona , secara bergantian.  Beberapa anggota APDP mengikuti ritual tersebut dengan air mata. Didengarkan oleh warga sekitar dan para warga yang membongkar jembatan , doa-doa dipanjatkan selama lima menit . Sebelum doa, Pdt. Wuri menjelaskan maksud dan tujuan megilu ini untuk memohon pada sang Pencipta agar mendengarkan protes mereka terhadap pembongkaran simbol kebudayaan dan pengrusakan lingkungan .

Pekerja yang juga warga membongkar situs budaya jembatan Pamona di Tentena, Poso, Selasa (19/11/2019). (Foto: Aliansi Penjaga Danau Poso)jembatan,poso,pamona,

Pembongkaran jembatan Pamona membuka jalan untuk rencana pengerukan sungai Danau Poso oleh PT Poso Energy . Pengerukan dilakukan untuk menambah debit air untuk pembangkit listrik tenaga air PLTA Sulewana milik PT Poso Energy. Namun, oleh pemerintah daerah menyebutkan pengerukan ini untuk kepentingan wisata.

Pembongkaran jembatan Pamona, disaksikan dan diawasi langsung oleh Bupati Poso, Darmin Sigilipu; Kapolres Poso AKBP Darno, Dandim Poso dan beberapa pejabat teras Poso. Pengamatan langsung ini dilakukan hanya berjarak sekitar 200 meter dari lokasi anggota APDP melakukan megilu. Hingga akhir ritual megilu hari pertama selesai, para pejabat teras ini tidak menemui anggota APDP yang sebagian besar adalah tokoh adat .

Kehadiran para pejabat teras Poso dalam pembongkaran simbol budaya Poso ini , oleh anggota APDP dianggap sebagai simbol dukungan resmi atas penghilangan simbol sejarah mosintuwu orang Pamona. Pembongkaran jembatan Pamona ini memperlancar rencana pengerukan yang berpotensi merusak ekosistem sungai Danau Poso.

“Pembongkaran jembatan adalah awal dari kematian hak masyarakat atas kehidupan dan budaya”, kata Christian Bontinge, ketua adat Pamona yang juga anggota APDP.

Hari ini para anggota penjaga danau harus menyaksikan budaya dan sejarah mereka dihancurkan demi sebuah perusahaan, karena itu mereka akan meneruskan megilu.

“Ritual megilu ini akan dilakukan selama 7 hari ke depan, mulai hari ini” tegas Hajai. Megilu akan dilakukan selama 7 hari , yakni tanggal  19 hingga 25 November 2019 masing-masing selama satu jam lamanya di tepi Danau Poso. (afd/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here