Indeks Religi

Tradisi Perayaan Maulid Karaeng di Desa Sidondo II Sigi

SIGI, beritapalu | Umat muslim di Desa Sidondo II, Kecamatan Dolo Barat, Kabupaten Sigi, Provinsi Sualwesi Tengah memiliki tradisinya sendiri dalam merayakan Maulid atau hari lahir Nabi Muhammad SAW. Tradisi itu diberi nama Maulid Karaeng.

Warga berada di dekat aneka sajian makanan dan telur hias pada perayaan Maulid Karaeng di Desa Sidondo II, Sigi, Sulawesi Tengah, Senin (11/11/2019). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Tradisi ini adalah perpaduan budaya suku Bugis/Makassar yang telah berdiam di desa itu sejak lama dengan budaya setempat yang bersuku Kaili. Disebut Maulid Karaeng karena yang pertama kali melakukannya adalah warga para bangsawan suku Bugis/Makassar bergelar Karaeng di wilayah itu.

Kebiasaan itu bertransformasi dan berakulturasi dengan budaya warga setempat pada setiap pelaksanaannya dan kemudian berubah penyebutan menjadi Maulid Karaeng.

“Dulu, orang-orang tua kita rutin melaksanakannya setiap tahun,” ujar salah seorang warga Sidondo II.

Saat ini lanjutnya, sedikitnya tinggal satu orang warga bergelar Karaeng yang diidentifikasi masih hidup. Walau demikian, tradisi yang sudah mendarah daging itu tetap dilaksanakan.

Warga memainkan rebana pada perayaan Maulid Karaeng di Desa Sidondo II, Sigi, Sulawesi Tengah, Senin (11/11/2019). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Kebiasaan itu turun temurun dilakukan, dan kini, meskipun mayoritas yang terlibat adalah warga setempat, namun tetap merujuk pada nama Maulid Karaeng itu.

Pada tradisi ini, seluruh warga saling bekerjasama dan bergotong royong untuk menyiapkan ritual perayaan tersebut, termasuk masing-masing warga menyiapkan aneka sajian makanan untuk dibawa ke tempat ritual yang biasanya dilakukan di masjid. Telur-telur hias sebagaimana banyak dijumpai di perayaan maulid di tempat lain, juga terlihat di desa ini.

Setiap warga tidak dibebani jumlah makanan yang harus dibawa, tetapi didasarkan pada kemampuan dan keihklasannya. Makanan itu juga nantinya akan dibagi-bagi kepada sesama warga dan untuk dinikmati bersama pula.

Warga membawa makanan yang berhasil direbutnya pada perayaan Maulid Karaeng di Desa Sidondo II, Sigi, Sulawesi Tengah, Senin (11/11/2019). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

“Ini juga refleksi dari kesyukuran atas nikmat, rezeki dan berkah yang telah diberikan kepada kami,” ujarnya.

Di antara makanan yang paling popular dibawa adalah masakan beras ketan dihias dengan telur-telur dalam wadah seperti baskom ukuran sedang atau ember. Di masa lampau, wadah itu masih menggunakan daun.

Seluruh warga antusias membawa makanan tersebut. Makanan itu juga menjadi petunjuk bahwa mereka sangat mencintai Nabi Muhammad SAW dan berbagi dengan warga lainnya sebagai bentuk rasa syukur.

Perayaan dilakukan dengan membaca zikir kepada Allah SWT dan shalawat serta puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Ritual itu juga diselingi dengan rebana yang dimainkan oleh warga sekitarnya. Kelompok rebana ini mengambil perhatian yang besar dari warga karena atraksinya yang dipimpin seorang tokoh sangat dinamis.

Warga membawa minuman Saraba untuk dibagikan kepada warga lainnya pada perayaan Maulid Karaeng di Desa Sidondo II, Sigi, Sulawesi Tengah, Senin (11/11/2019). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Anak-anak dan perempuan bergembira dengan perayaan itu. Seraya duduk bersila di belakang kelompok rebana, mereka terus menyemangati para pemain rebana yang sesekali mempertontonkan keahlian pamungkasnya.

“Tinggal ini yang tersisa dari para pemain rebana ini. Mereka sangat hebat. Sayangnya, sebagian besar dari mereka sudah tua. Saya mengkhawatirkan tradisi ini lenyap jika tidak ada anak-anak muda lagi yang mau belajar tentang budaya ini,” ujar Yayan Kololio, pemerhati budaya di desa itu.

Ritual akan berakhir ketika puji-pujian selesai dilantunkan dan warga kemudian bergerombol di dekat makanan yang sudah bertumpuk di tengah dan bersiap-siap mendapat bagian makanan.

Di saat yang bersamaan, masing-masing segelas minuman manis bergelar “sara’ba” yang terbuat dari campuran gula merah, jahe, kayu manis, ketumbar dibagi ke warga. Setelah terbagi, giliran makanan yang umumya terdiri dari beras ketan juga dibagikan.

Warga yang hadir menikmatinya bersama. Silaturahmi dan kebersamaan sangat kental pada momentum itu. Berbagi, tradisi itu merekatkan warga.

Usai santap bersama, tumpukan makanan yang belum terbagi menjadi sasaran rebutan. Tanpa komando, terutama anak-anak langsung melompat dan meraih makanan yang ada. Suasana menjadi riuh, ketikaibu-ibu juga beranjak dari duduknya dan ikut berebut makanan.

Heboh tapi gembira. Tidak ada yang saling sikut, semua senang, semua tertawa. Ini tradisi yang terus berlangsung dan merekatkan mereka.

Seluruh prosesi itu berakhir ketika makanan selesai direbut dan masing-masing warga membawa pulang makanan itu disantap lagi di rumah mereka masing-masing.

Kepala Desa Sidondo II, Niksen E. Wijaya menyebut, kebiasaan ini akan terus dipertahankan, bukan semata karena nilai religinya, tapi juga karena menjadi wahana bagi warga untuk saling bersilaturahmi dan berbagi. (afd)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *