Published On: Fri, Nov 8th, 2019

Tradisi Maulid di Palu, Akulturasi Sejak 200 Tahun Lalu

Share This
Tags

PALU, beritapalu | Sejumlah warga yang juga kerabat keluarga besar Sayyid Jalaluddin Samanuddin berkumpul di sebuah rumah yang terletak di Jalan Hayam Wuruk Palu, Kamis (7/11/2019). Mereka tak sekadar berkumpul, tetapi juga membacakan sejarah perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW yang dikemas dalam bacaan Barazanji.

Warga menata aneka makanan dan telur hias pada perayaan Maulid di Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (7/11/2019). Tradisi merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yang telah berakulutrasi dengan budaya setempat itu sudah dilakukan secara turun temurun. (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Suara barzanji itu membahana ke seluruh ruangan, apik dengan lantunan khas dan dengan cengkok yang tak semua orang bisa melakukannya. Lalu, seorang yang tampak sudah lebih berumur berdiri dan diikuti oleh pria lainnya yang lebih muda, sembari terus membacakan sejarah itu dengan suara yang besar.

Di depan pria yang membaca barzanji itu, tampak sebuah wadah berbentuk kotak yang di dalamnya berisi aneka makanan, lengkap dengan telur-telur ayam yang telah dihias menggelayut di sisi atas dan sampingnya. Sebuah kain berwarna hijau bertuliskan huruf arab mengitari wadah itu.

Demikianlah ritual perayaan Maulid di tempat itu yang telah dilaksanakan secara turun temurun sejak 200 tahun lalu. Ritual seperti itu dilakukan setiap memasuki bulan maulid. Kerabat keluarga besar itu menggilirnya hingga puncaknya pada 12 Rabiul Awal menurut perhitungan kalender Hijriyah.

“Saya adalah generasi keenam dari penyelenggaraan maulid seperti ini,” aku Iriatul Zahra Hasan, salah seorang keluarga dekat Sayyid Jalaluddin Samanuddin.

Sebelum perayaan seperti itu dilakukan, pertemuan di antara kerabat kdekat dilakukan untuk menentukan waktu dan tempat pelaksanaan ritual.

“Kami berkumpul dulu, lalu menentukan siapa dulu yang merayakannya, lalu siapa berikutnya, termasuk tempatnya,” jelas Iriatul.

Setiap pelaksanaan perayaan Maulid, napasnya selalu dengan swadaya keluarga, tak terkecuali urusan makanan dan ritualnya.

“Jadi kami menentukan, siapa dan dimana pada hari pertama, kedua, dan seterusnya. Dari situ baru kami bersepakat lagi tentang pembiayaannya. Tapi secara umum soal pembiayaan, kami saling membantu dan menyokong, dan itu ikhlas kami lakukan karena semangatnya adalah menunjukkan kecintaan kepada Nabi dan mendapatkan keberkahan,” jelas Iriatul.

Tradisi perayaan maulid seperti ini merupakan akulturasi dengan budaya setempat, terutama suku Kaili. Ini dimungkinkan karena pengenalan Islam pada masa lampau menempuh pendekatan budaya agar dapat diterima dengan baik oleh penduduk setempat.

Sebelum dilakukan perayaan Maulid, bagian terpenting adalah penyediaan aneka makanan untuk dibagikan kepada warga yang hadir. Dari sekian banyak jenis makanan yang disediakan, jenis beras ketan atau sering disebut Ka’do’ Minyak adalah bagian terbanyak, lalu telur hias.

Dulunya, makanan itu dibungkus dalam bakul yang terbuat dari daun aren. Namun sejalan dengan makin sulitnya mendapatkan bakul itu, bungkus makanan pun mengalami transformasi, berubah ke kemasan plastik. Dulu, telur yang paling banyak digunakan adalah telur ayam kampung, namun saat ini lebih ke telur ayam ras karena jumlahnya lebih tersedia.

Prosesi bagi-bagi makanan dilakukan setelah pembacaan barazanji yang didahului dengan penyajian minuman bandrek, atau sara’ba atau air jahe dicampur dengan gula aren. Iringan suara rebana biasanya mengikuti prosesi ini.

“Dulu, kalau ada perayaan maulid, anak-anak selalu menunggu di depan, menunggu barazanji selesai dan langsung berebutan makanan,” kenang Iriatul lagi.

Tradisi ini tidak banyak lagi dilakukan, kecuali di keluarga-keluarga dekat. Iriatul mengkhawatirkan kelangsungan tradisi maulid ini, karena generasi saat ini tidak banyak yang terlibat lagi untuk hal-hal seperti ini. (afd)

Video terkait : https://youtu.be/eW5GoRM7-NE

 

 

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

%d bloggers like this: