Published On: Thu, Nov 7th, 2019

Tim Ekspedisi Poso Ingatkan Potensi Bencana Alam dan Bencana Lingkungan

POSO, beritapalu | Tim ahli Ekspedisi Poso yang terdiri dari bidang keilmuan geologi, arkeologi, biologi dan sosiologi antropologi memaparkan hasil perjalanan Ekspedisi Poso di Sesar Poso dan Sesar Poso Barat dalam Seminar Ekspedisi Poso di Rumah Bambu Dodoha Mosintuwu, Tentena, Sabtu (2/11/2019).

Seminar Ekspedisi Poso di Dodoha Mosintuwu, Tentena, Poso, Sabtu (2/11/2019). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Tim itu menyebut, gempa, tsunami, longsor, banjir adalah jenis potensi bencana yang sangat mungkin terjadi di wilayah Kabupaten Poso. Sayangnya dalam RPJMD Kabupaten Poso, gempa dan tsunami tidak disebutkan. Memasukkan potensi gempa dan tsunami dalam RPJMD Kabupaten Poso merupakan bentuk tanggung jawab Pemerintah Kabupaten untuk meminimalisir dampak bencana.

Sesar Poso di bagian Timur hingga ke Kota Poso dan Sesar Poso Barat yang terletak di bagian Barat Danau Poso dipastikan akan menimbulkan gempa.  Drs. Abdullah, tim ahli Ekspedisi Poso yang juga pengamat kebencanaan di Sulawesi Tengah, turut menyinggung rencana pembangunan di wilayah Danau Poso.

“Jangan remehkan danau yang ada di wilayah gempa. Salah satu sifat air, jika wadahnya terganggu, maka air tersebut akan terganggu pula. Gangguan tersebut tampak di permukaan dalam bentuk riak atau gelombang” ungkapnya ketika menceritakan kemungkinan tsunami di Danau Poso.

Gempa bisa jadi tidak membunuh, kata Reza Permadi, tim ahli geologi Ekspedisi Poso. Yang seringkali membunuh justru bentuk bangunan atau konstruksinya, lanjutnya. Salah satu hal yang paling sederhana yang bisa dilakukan mulai dari keluarga adalah model rumah yang tanggap atas potensi gempa.

Abdullah menunjukkan beberapa contoh rumah tahan gempa yang ditemukan sepanjang perjalanan tim Ekspedisi Poso. Dalam perjalanan di Desa Taipa, misalnya, Abdullah mendorong masyarakat yang tinggal di pesisir pantai jika punya rejeki agar mencari lokasi lain untuk membangun rumah agar terhindar dari kemungkinan dampak bencana.

Bukan hanya potensi bencana dari peristiwa alam, tim Ekspedisi Poso juga menemukan potensi bencana lingkungan. Eko Kurniawan dari anggota tim biologi Ekspedisi Poso menjelaskan terkait temuan mereka atas keanekaragaman hayati biota sungai dan Danau Poso yang terancam mengalami kepunahan jika kebijakan pembangunan tidak mempertimbangkan ekosistemnya. Eko mengingatkan bahwa bencana yang harusnya juga menjadi pertimbangan adalah bencana lingkungan.

“Di beberapa wilayah perairan, misalnya di Kompodongi, adalah wilayah zona transisi dimana ikan dan biota lainnya dapat berkembangbiak. Jika ada perubahan bentang alam, maka ikan-ikan akan beresiko bermigrasi atau punah”

Dr. Meria, tim ahli Biologi menambahkan bahwa Kompodongi adalah pintu air alami Danau Poso.  “Danau Poso adalah jantung kawasan walaccea memiliki 10 jenis ikan endemik, 4 jenis udang-udangan, 15 jenis gastropoda atau siput. Biota-biota endemik itu rentan dengan perubahan lingkungan”  tambahnya. Keberadaan biota endemik ini menjadi penting karena dapat menjadi standar lingkungan.

Perubahan lingkungan yang dimaksudkan salah satunya adalah aktivitas pengerukan sungai Danau Poso.

Presentasi para tim ahli diawali dengan penjelasan mengenai metodologi perjalanan Ekspedisi Poso, oleh ketua Tim Ekspedisi Poso, Lian Gogali.

“Peta perjalanan tim Ekspedisi Poso ditentukan oleh cerita rakyat yang kami dengar, bukan pertama-tama oleh peta geologi,” Jelas Lian. Hal ini, menurutnya sekaligus mempertegas keunikan dari tim Ekspedisi Poso yang diinisiasi oleh komunitas masyarakat yang kemudian didukung oleh para tim ahli.

Pentingnya keterlibatan masyarakat dikuatkan lagi oleh Dr. Herry Yogaswara, kepala LIPI bidang Kependudukan yang juga tim ahli sosiologi antropologi Ekspedisi Poso. Pengalamannya mengikuti puluhan ekspedisi di seluruh Indonesia, Herry menceritakan bagaimana Ekspedisi Poso sangat beda dan kuat karena diinisiasi oleh masyarakat dan menggunakan pengetahuan lokal masyarakat.

Senada dengan Herry, Drs. Iksam TB, wakil kepala museum Sulawesi Tengah yang juga tim ahli arkeologi Ekspedisi Poso mengungkapkan, perjalanan Ekspedisi Poso menunjukkan beberapa bukti arkeologi yang memperlihatkan perpindahan manusia sangat mungkin disebabkan oleh peristiwa alam.

Perjalanan Ekspedisi Poso dilakukan di 41 desa di wilayah Sesar Poso dan Sesar Poso Barat , selama 17 hari perjalanan yang dibagi dalam dua kali perjalanan yaitu di Mei dan Juni 2019.

Hasil perjalanan Ekspedisi Poso, menurut Lian, semoga menjadi pertimbangan Pemerintah Kabupaten Poso termasuk pemerintah desa dalam menyusun perencanaan pembangunan yang tanggap atas kondisi wilayah Poso yang berada di Sesar Poso, Sesar Poso Barat dan Sesar Tokararu. Termasuk menyusun mitigasi bencana. (afd/*)

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

%d bloggers like this: