Published On: Wed, Nov 6th, 2019

APDP Laporkan Perusakan Lingkungan di Sungai Danau Poso

POSO, beritapalu | Aliansi Penjaga Danau Poso ( APDP ) melaporkan dugaan perusakan lingkungan di sekitar Danau Poso ke kantor Polisi Sektor Pamona Utara, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, Selasa (5/11/2019).

Aktivitas pengerukan sungai Danau Poso, Selasa (5/11/2019). Oleh Aliansi Penjagau Dana Poso, kegiatan ini dinilai sebagai merusak lingkungan. (Foto: APDP)

Dalam laporan yang dilakukan sekitar 10 anggota APDP ini disebutkan, perusakan lingkungan itu terutama di wilayah Kompodongi, yaitu wilayah yang berada di aliran sungai Danau Poso dengan adanya aktivitas pengerukan oleh sebuah kapal pengeruk.

Dalam pengamatan APDP, kapal yang mengeruk itu diduga bekerjasama dengan PT Poso Energy, yakni menyedot pasir di Kompodongi dalam jumlah yang sangat besar. Pasir bercampur air yang disedot dibuang ke wilayah kiri kanan hingga menutupi sebagian wilayah Kompodongi.

Pengerukan sungai Danau Poso sepanjang 12,8 KM dilakukan oleh PT Poso Energy untuk menambah debit air agar dapat memutar turbin PLTA Sulewana-1.

Juru bicara APDP, Pdt Wuri menyebutkan, berdasarkan UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Lingkungan Hidup, warga masyarakat berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat, termasuk memperjuangkannya.

“Kami baru saja dari Kelurahan Petirodongi, khususnya di jembatan Petirodongi dan melihat langsung ada kapal pengeruk sedang melakukan aktivitas di Kompodongi. Aktivitas itu bagi kami jelas sangat merusak lingkungan di wilayah aliran sungai Danau Poso,” kata Pdt. Wuri.

Dalam kunjungan langsung ke lokasi di wilayah Kompodongi, anggota APDP melihat langsung timbunan pasir hasil pengerukan menutupi sebagian besar wilayah dekat jembatan Petirodongi. Wilayah yang sebelumnya masih hijau dengan rumput alami sebagai bagian dari ekosistem sungai Danau Poso itu ditimbun dengan pasir yang dikeruk.

Menurut Pdt. Wuri, wilayah Kompodongi yang saat ini sedang dikeruk berdasarkan catatan ahli biologi yang pernah disampaikan oleh Dr. Meria Gundo adalah zona transisi bagi ikan-ikan. Selama ini katanya, wilayah aliran sungai Danau Poso tidak pernah dilihat hanya sebagai kumpulan air, tetapi sebuah ekosistem yang membentuk kehidupan dan mempengaruhi kehidupan masyarakat yang ada di sekitar Danau Poso.

Sementara itu, dalam proses berita acara pemeriksaan ( BAP ) yang berlangsung hingga malam hari, Christian Bontinge, ketua Adat Kelurahan Pamona menjelaskan bahwa wilayah Kompodongi termasuk dalam wilayah yang lingkungannya dilindungi.

Christian menyebutkan adanya Perda nomor 8 tahun 2012, tentang rencana tata ruang wilayah Kabupaten Poso tahun 2012 – 2032 . Dalam Perda tersebut, selain menyebutkan Dongi sebagai wilayah kawasan pengungsian burung, juga menyebutkan wilayah sepanjang Sungai Poso menjadi kawasan lindung lainnya karena merupakan kawasan koridor bagi jenis satwa dan biota laut.

“Sudah sangat jelas bahwa wilayah Kompodongi bagi masyarakat adalah lokasi kegiatan budaya danau, salah satunya mosango, dan monyilo. Jika dikeruk maka bukan hanya merusak lingkungan tapi juga menghancurkan kebudayaan danau yang selama ratusan tahun dilakukan oleh masyarakat di sungai dan Danau Poso,” jelas Christian.

Pdt. Wuri menjelaskan bahwa laporan ke polisi oleh APDP merupakan salah satu bentuk perwujudan UU Lingkungan Hidup No.32 tahun 2009 yang menyebutkan peran masyarakat dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dengan memberikan keberatan, pengaduan dan pengawasan sosial terhadap pengelolaan lingkungan hidup.

Laporan APDP No.Pol : LP/903/XI/2019/Res Poso / Sek-Pamut , diterima langsung oleh Brigadir Polisi KepalaMuhamad Iqbal Holle. (afd/*)

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

%d bloggers like this: