Published On: Sun, Oct 27th, 2019

Bakaunisasi Teluk Palu akan Lewati Jalan Terang

PALU, beritapalu | Bencana tsunami 28 September 2018 lalu telah memporak-porandakan sebagian besar pesisir Pantai Teluk Palu, sekaligus membuka mata banyak pihak tentang pentingnya perlindungan pesisir.

Lahan di Taman Ria Palu yang diusulkan menjadi psuat pembibitan mangrove untuk Teluk Palu. (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Hampir tidak ada wilayah pesisir di sepanjang 64 kilometer garis pantai itu yang utuh pascatsunami besar tahun lalu, kecuali kawasan Hutan Bakau Gonenggati sepanjang 1,5 kilometer dengan luas sekiar 10 hektare di Kecamatan Banawa Selatan, Kabupaten Donggala. Fakta ini menyentakkan, betapa hutan bakau sangat penting bagi perlindungan pesisir.

Diilhami itu, banyak pihak menyerukan penanaman kembali mangrove di sepanjang pantai Teluk Palu seperti landmarknya tempo dulu. Selain tidak padat modal, ekonomis, efektif melindungi dari abrasi dan tsunami, juga masih bisa berkerabat dengan masyarakat sekitarnya.

Bak gayung bersambut, seruan itu diamini banyak individu dan lembaga, terutama lembaga sosial dan para aktivis lingkungan. Bahkan upaya membakaukan Teluk Palu nyaris telah bersifat massif dan terstruktur. Hampir setiap pekan sejak tsunami, aksi lingkungan dengan menanam mangrove terus dilakukan di sejumlah tempat.

“Ini adalah jalan terang bagi upaya membakaukan Teluk Palu,” kata Hamzah Tjakunu, aktivis lingkungan dan juga Ketua Relawan Mangrove Tomini (Remot) di sela-sela penanaman 5.000 mangrove oleh Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) bekerja sama dengan Mangroves Kota Palu, Minggu (27/10/2019).

Terangnya jalan menuju hal itu makin benderang setelah dikabarkan bahwa Pemerintah Kota Palu menyetujui permohonan aliansi lembaga pecinta mangrove untuk meminjam pakaikan lahan untuk pembibitan bakau yang berlokasi di Taman Ria Palu seluas lebih dari satu hektar.

Lokasi itu menurut Hamzah sangat cocok untuk pembibitan bakau, dan jika itu benar-benar disetujui Pemkot Palu, maka persoalan pemilihan bibit dan jenisnya bukan hal yang sulit lagi.

“Kita mengidentifikasi, sedikitnya ada 24 jenis bakau, dan yang bisa ditanam di Teluk Palu ada 14 jenis. –Tidak semua jenis bakau cocok untuk daerah pesisir tertentu,” terang Hamzah.

Seandainya lokasi dimaksud benar-benar diwujudkan adanya, maka lahan pembibitan itu selain dapat menyuplai kebutuhan bibit untuk penanaman mangrove di Teluk Palu, sekaligus menjadi laboratorium bakau untuk keperluan pendidikan.

Ia berharap, jalan terang itu makin terbuka sejalan dengan kesadaran dan pemahaman warga tentang pentingnya mangrove tersebut.

Dalam konteks yang lebih luas lagi imbuh Hamzah, menanam mangrove sekaligus berkontribusi bagi upaya mencegah pemanasan global yang sudah di depan mata. Mangrove menurutnya adalah pengikat karbon agar tidak terlepas ke udara. (afd)

Sejumlah relawan dan pecinta lingkungan menanam mangrove di Pantai Dupa, Teluk Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (27/10/2019). Penanaman mangrove itu merupakan rangkaian dari upaya untuk membentengi pesisir Pantai Teluk Palu yang rusak berat akibat terjangan tsnumai pada 28 September 2018 lalu. bmzIMAGES/Basri Marzuki

 

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

%d bloggers like this: