Pertahankan Jembatan Pamona di Tentena, Poso!!!

0
413

Aliansi Penjaga Danau Poso Tolak Pengerukan dan Reklamasi Sungai Danau Poso

Foto aerial Sungai Danau Poso. Di atasnya membentang Jembatan Pamona yang memiliki nilai sejarah. Jembatan itu akan dibongkar agar pengerukan danau dan sungai dapat dilakukan oleh PT Poso Energy guna meningkatkan debit air bagi keperluan turbin PLTA Sulawena. (Foto: Aliansi Penjagau Dana Poso).

POSO, beritapalu | Aliansi Penjaga Danau Poso dengan tegas menyatakan menolak pengerukan dan reklamasi Sungai Dana Poso yang akan dilakukan oleh PT Poso Energy.

Penegasan itu disampaikan Ketua Aliansi Penjaga Danau Poso, Christian Bontinge seperti dalam rilisnya yang disampaikan ke redaksi beritapalu.com, Senin (7/10/2019).

Christine menyebutkan, Danau Poso adalah satu dari 10 danau Purba di dunia. Tapi, sejarah, kebudayaan dan ekosistem akan rusak dan hilang jika pengerukan yang cakupannya mencapai 12,8 kilometer, selebar 40 meter, dan dalam 4-6 meter, serta mereklamasi wilayah Kompo Dongi puluhan hektar.

Ia menegaskan, sangat tidak bijak jika perusakan itu dilakukan hanya untuk kepentingan meningkatkan debit air agar dapat memutar turbin PLTA Sulewana milik PT Poso Energy.

Ironisnya katanya, karena untuk itu, Jembatan Pamona yang selama ini menjadi ikon kota Tentena juga akan dibongkar untuk memuluskan rencana pengerukan sungai itu.

“Aliansi Penjaga Danau Poso mempetisi Bupati Poso untuk membatalkan rencana tersebut. Bukan hanya bupati Poso, Aliansi Penjaga Danau Poso melalui platform change.org juga mengajukan petisi ke Dirjen Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan , dan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia,” tegasnya.

Sejumlah elemen warga dari berbagai asal menyayangkan rencana itu. Sungai Danau Poso dan jembatan yang ada di atasnya adalah warisan budaya yang seharusnya dijaga, bukan malah dirusak.

“Alam tidak boleh dirusak hanya karena kepentingan sepihak, listrik masih bisa didapatkan dengan cara yang lebih mengamankan alam tidak harus merusaknya,” komentar Kristina Yacob dalam petisi di change.org itu.

Sedangkan Linda Tagie mengomentari, Danau Poso adalah salah satu warisan budaya, merusak Danau Poso sama dengan merusak budaya itu sendiri dan berkhianat kepada semesta yang memberinya.

Petisi itu mengajak orang-orang untuk membantu orang Poso menghentikan rencana pengerukan dan reklamasi di wilayah sungai Danau Poso karena akan menyebabkan hilangnya Jembatan Pamona yang juga bagian dari sejarah Poso.

Jembatan Pamona adalah satu-satunya simbol nilai mesale atau nilai kebudayaan gotong royong, nilai Sintuwu Maroso yang  dimiliki oleh orang Pamona/Poso saat ini. Jembatan Pamona memiliki sejarah tahun 1920an ratusan orang dari berbagai desa di seputaran Danau Poso bersatu, bersama-sama mengangkat kayu dari hutan, memancangkan tiang kayu di jembatan.

Orang-orang dari berbagai desa meninggalkan desa selama hampir satu tahun untuk bekerjasama, membagi pekerjaan setiap beberapa meter untuk membentuk jembatan. Orang-orang dari berbagai desa bekerja sama menyiapkan makanan dan minuman untuk para pekerja. Nilai Sintuwu Maroso-lah yang menyebabkan jembatan kayu pertama kalinya ini terbangun.

Maestro budaya Poso, Almarhum Yustinus Hokey dalam orasi budaya di Taman Tentena tahun 2018 mengatakan, Jembatan Pamona bukan sekedar jembatan penyeberangan. Jembatan Pamona adalah simbol nilai kebudayaan mesale yang masih dimiliki oleh orang Pamona”.

Sejarah dan kebudayaan lainnya yang akan hilang adalah melalui reklamasi wilayah Kompo Dongi, hilangnya tradisi Mosango.  Kompo Dongi  di wilayah hulu sungai Danau Poso merupakan tempat berlangsungnya tradisi kebudayaan Mosango sejak ratusan tahun lalu. Tradisi Mosango adalah tradisi menangkap ikan bersama ratusan orang dari berbagai desa, dengan menggunakan alat khusus bernama sango.

Tradisi Mosango memiliki nilai “motila ri ue” atau saling berbagi air,  yang dilakukan bersama-sama para toposango ( sebutan bagi mereka yang mosango ) dengan kegembiraan.  Kompo Dongi, akan direklamasi/ditimbun oleh PT Poso Energy untuk membuat taman sebagai ganti rugi dari pengerukan sungai Danau Poso untuk alasan lokasi wisata modern.

Tradisi lainnya yang akan hilang adalah tradisi Wayamasapi. Pengerukan sungai Danau Poso akan dilakukan di wilayah dilaksanakannya tradisi Wayamasapi, yaitu tradisi  menangkap ikan melalui pagar yang terbuat dari bambu. Tradisi kebudayaan menangkap ikan ini sudah ada ratusan tahun lalu, memiliki filosofi kesederhanaan dan ketidaksempurnaan manusia di hadapan Pencipta alam, yang disimbolkan dengan angka ganjil pada ikatan  bambu, angka ganjil pada jumlah pemilik Wayamasapi.

Para nelayan menyebutkan “Karena kesempurnaan (angka genap) hanya   ada pada sang pencipta .

Dampak berikutnya adalah biota perairan di sungai dan danau, keberagaman tumbuhan  terganggu bahkan punah. Danau Poso memiliki beragam ikan endemik, termasuk  jenis ikan, siput, kerang endemik. Pengerukan dan reklamasi akan menghilangkannya.

Sungai dan Danau Poso  adalah sumber air minum, dan irigasi yang penting bagi ribuan orang di Poso. Bagi ribuan masyarakat Poso, sungai dan Danau Poso adalah sumber penghidupan. Jika sungai Danau Poso dikeruk dan dibendung, akses air bersih hilang, sumber penghidupan akan musnah.

Aliansi ini ini mendesak  Dirjen Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Bupati Poso untuk menghentikan rencana pembongkaran Jembatan Pamona dan renovasi dengan design PT Poso Energy, dan menghentikan rencana pengerukan dan reklamasi di sungai Danau Poso. (afd/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here