Balada Pak Coke, Penjaga WC Rusak di Pasar Lasoani

0
223

“Don’t judge book by its cover” ternyata idiom itu masih relevan di era millennial ini. Meski usianya sudah menginjak 77 tahun, tapi penampilannya tampak cukup terawat, rambut tersisir rapi, kemeja parlente dengan aksesoris ala pemuda masa kini.

Pria ini bernama Pak Coke, mengaku lahir dan besar di Kelurahan Lasoani, bagian Timur Kota Palu, Sulawesi Tengah. Sejak empat tahun terakhir ini, saban hari pasar ia terlihat di Pasar Lasoani. Apa yang dilakukan di pasar itu…? Fotografer Hajar Wisnu Dwiputra menceritakannya dalam rangkaian foto berikut ini ;

(Foto: Hajar Wisnu Dwiputra)

“Dulu bertani dan berkebun, sekarang fisik tidak mampu lagi nak,” ujar Pak Coke memulai percakapan. Ia tak sungkan-sungkan mengungkap latar belakang kehidupannya hingga banting setir menjadi penjaga WC Umum di pasar tersebut.

(Foto: Hajar Wisnu Dwiputra)

Pak Coke menghisap dalam-dalam rokok filternya lalu menghembuskannya. “Anak saya banyak, cucu juga banyak, lupa berapa..,” imbuhnya sembari tersenyum. Ketidakmampuan fisik ditambah beban keluarga itu menjadi alasan paling masuk akal baginya untuk memulai pekerjaan itu sejak empat tahun lalu.

(Foto: Hajar Wisnu Dwiputra)

Pak Coke tak pernah mengkhawatirkan bakal terjadi fluktuasi tajam pada pendapatannya, karena ia meyakini punya pangsa pasar khusus di pasar itu. “Pengunjung pasar mayoritas di sini adalah mereka yang belum menunaikan hajatnya di rumah, buru-buru ke pasar biar tidak panas, atau yang kebanyakan sarapan di lokasi pasar,” urainya setengah bercanda.

(Foto: Hajar Wisnu Dwiputra)

Dari pekerjaan itu, sehari Pak Coke bisa mengantongi pendapatan hingga Rp 65 ribu. Nilai sebesar itu menurutnya sudah cukup, terutama untuk memenuhi kebutuhan jarian yang tidak dapat dibendungnya.

(Foto: Hajar Wisnu Dwiputra)

Pak Coke menyadari, merokok adalah kebiasaan yang buruk. Namun hingga di usianya yang sudah senja itu, kebiasaan itu belum mampu juga ditinggalkannya. Kebiasaan ini harus dibayarnya sendiri. “Masa beli rokok harus minta sama anak,” ujarnya sambil menyeruput kopi yang selalu berada di dekatnya.

(Foto: Hajar Wisnu Dwiputra)

Empat tahun menjalani pekerjaan itu, Pak Coke memiliki banyak cerita unik dan juga menggelikan. Dengan gaya khasnya pak Coke menggambarkan bagaimana ekpresi wajah konsumennya yang sedang menunggu antrean masuk WC sambil menahan hajatnya. “Kalau sudah keluar WC baru enak kelihatan mukanya,” ujarnya sambil terkekeh-kekeh…

(Foto: Hajar Wisnu Dwiputra)

“Klosetnya rusak Pak? Hanya bisa buang air kecil di lantai,” tiba-tiba salah seorang pengguna WC Umum itu komplain. Pak Coke pun melongok ke dalam WC dan dengan sikap bersahaja memberikan penjelasan kepada pengguna itu bahwa dari dua kloset itu, hanya satu yang bisa digunakan, itu pun sering tersumbat. WC yang dijaganya itu juga tidak direkomendasikan untuk buang air besar, kecuali air kecil.

(Foto: Hajar Wisnu Dwiputra)

Sebenarnya, rusaknya fasilitas umum yang cukup vital ini sudah dilaporkan pak Coke kepada pihak terkait, dalam hal ini pengelola pasar. Namun hingga kini belum mendapat respon., “Mungkin belum ada anggarannya,” duga Pak Coke. Pak Coke maklum, mengalokasikan anggaran untuk hal-hal yang tidak menjadi prioritas tidak semudah menjentikkan jari.

(Foto: Hajar Wisnu Dwiputra)

Waktu menujukkan pukul 11.00 Wita, pasar akan segera berakhir. Pak Coke mulai menata kembali perlengkapan berjaganya untuk kemudian pulang ke rumahnya. Bersamaan dengan itu, pengunjung pasar pun sepi. ***

Naskah dan Foto : Hajar Wisnu Dwiputra
Editor: Basri Marzuki

Leave a Reply