Penuhi Nazar Politiknya, Muthmainnah Korona Tanam Mangrove

0
124

SENIN (9/9/2019) sore sekitar pukul 16.30 Wita, sejumlah warga sudah berkumpul di Pantai Bamba, Kelurahan Mpanau, Palu Utara untuk ikut menanam mangrove di pesisir yang juga terimbas cukup parah akibat terjangan tsunami 28 September 2018 lalu.

Muthmainnah Korona (tengah) menanan bakau usai dilantik menjadi anggota DPRD Kota Palu di Pantai Bamba, Teluk Palu, Sulawesi Tengah, Senin (9/9/2019). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Warga dari berbagai kalangan dan tingkatan usia itu saling berbagi tugas. Ada yang menggali lubang, ada yang menanam bakau, dan ada pula yang bertugas menancapkan potongan bambu sebagai penahan agar bakau yang ditanam tidak tercabut dari gulungan ombak.

Penanaman mangrove yang melibatkan warga dan komunitas Sekolah Mombine itu diinisiasi oleh Muthmainnah Korona, yang juga anggota DPRD Kota Palu. Bahkan, penanaman mangrove itu merupakan nazar politik Muthmainnah Korona yang sebelumnya telah berjanji kepada konstituennya di wilayah itu untuk menghijaukan pesisir pantai dengan bakau.

Usai pelantikan anggota DPRD Kota Palu periode 2019-2024, itu Muthmainnah Korona langsung bergegas menuju lokasi untuk hajatan tersebut untuk melakukan penanaman bakau.

“Ini bukan sekadar nazar politik, tapi juga simbolisasi perjuangan kaum perempuan untuk kehidupan yang lebih baik,” ujar Muthmainnah Korona yang akrab disapa Neng ini usai menanam mangrove.

Ia mengungkapkan, kondisi pantai tersebut pascatsunami sangat memprihatinkan. Tanggul yang sebelumnya berdiri kokoh, kini tinggal serakan tembok tak beraturan di bibir pantai. Jika saatnya pasang dan ombak datang, rasa kuatir menyelimuti warga sekitarnya.

Bagaimana tidak katanya, tidak ada penahan yang bisa membendung ombak tersebut. Tak hanya itu, sejak tsunami lalu, abrasi juga kian menggerogoti pesisir pantai itu.

“Kenapa harus mangrove..? Karena inilah menurut kami yang efektif untuk menahan ombak dan abrasi tersebut, biayanya juga relatif murah dan terpenting adalah warga sekitar juga merasa dilibatkan,” urainya.

Dalam kedudukannya sebagai anggota DPRD Kota Palu yang baru dilantik, ia menegaskan akan tetap berada pada garis kebijakan yang berpihak kepada warga, tak terkecuali upaya-upaya pemberdayaan warga pascabencana.

Ditanya soal kontraversi antara pembangunan tanggul beton versus tanggul mangrove untuk melindungi warga dari terjangan tsunami dan ombak di Teluk Palu, Neng mengatakan, dirinya masih mengkaji kebermanfaatan opsi tersebut.

Walau demikian, Neng menegaskan kembali, satu-satunya pilihan adalah kemaslahatan.

“Kalau ternyata tanggul beton itu banyak masalahnya dan merugikan masyarakat secara sosial, ekonomi, dan juga lingkungan terutama pesisir, tentu kami orang pertama yang menyatakan penolakan,” tandasnya. (afd/beritapalu)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here