Peneliti Ungkap Gerakan Gempa yang Memicu Tsunami di Palu

0
505

PALU, beritapalu | Sebuah hasil penelitian terkait gempa yang memicu tsunami di Teluk Palu pada 28 September 2018 lalu diterbitkan oleh Pure anda Applied Gephysics.

Visualization of the modelled coupled earthquake and tsunami across Palu Bay, from Ulrich et al., 2019: Left: Seismic waves being generated while the earthquake propagates southward in a ‘superfast’ manner. Warm colours denote higher movements across the geological faults and higher ground shaking (snapshot after 15 seconds of earthquake simulation time). Right: The movements of the earthquake beneath the bathtub shaped Palu Bay generate a ‘surprise’ tsunami (snapshot of the water waves aftee 20s of simulation time of the tsunami scenario). Credit: LMU

Penelitian yang melibatkan tim ahli geologi, geofisika, dan matematikawan internasional itu menunjukkan bagaimana model komputer yang digabungkan dapat secara akurat menciptakan kembali kondisi yang mengarah pada bencana alam paling mematikan di dunia pada tahun 2018 yakni gempa bumi dan tsunami Palu.

Tsunami yang mengejutkan itu membuat para ilmuwan itu “kebingungan”. Bagaimana tidak, gempa bumi itu menyebabkan tsunami besar yang sesungguhna tidak perlu terjadi jika gerakannya horizontal dan seharusnya tsunami skala besar biasanya disebabkan oleh gerakan vertikal.

Apa yang terjadi? Bagaimana air yang dipindahkan menciptakan tsunami: oleh tanah longsor, patahan, atau keduanya? Data satelit dari pecahnya permukaan menunjukkan patahan yang relatif lurus dan mulus, tetapi tidak mencakup daerah lepas pantai, seperti Teluk Palu yang terdampak parah.

Para peneliti bertanya-tanya, apa bentuk sesar di bawah Teluk Palu dan apakah ini penting untuk menghasilkan tsunami? Gempa ini sangat cepat. Bisakah kecepatan pecah memperbesar tsunami?

Penelitian itu menggunakan superkomputer yang dioperasikan oleh Leibniz Supercomputing Center, anggota Gauss Center untuk Superkomputer. Tim ini menunjukkan bahwa pergerakan dasar laut yang disebabkan gempa bumi di bawah Teluk Palu sendiri dapat menghasilkan tsunami, yang berarti tanah longsor tidak berpengaruh terhadap terjadinya tsunami.

Tim menyebutkan, kontur dasar teluk miring di teluk. Dalam model mereka, pergeseran terjadi di sebagian besar lateral, dan juga ke bawah sepanjang patahan, menghasilkan perubahan laut vertikal dari 0,8 meter menjadi 2,8 meter yang rata-rata 1,5 meter melintasi area yang diteliti.

Tim itu menyebut, yang penting untuk menghasilkan sumber tsunami ini adalah geometri sesar miring dan kombinasi galur lateral dan ekstensional yang diberikan pada wilayah tersebut oleh tektonik kompleks.

Para ilmuwan sampai pada kesimpulan ini menggunakan model gempa-tsunami berbasis fisika yang mutakhir. Model gempa, yang didasarkan pada fisika gempa, berbeda dari model gempa berbasis data konvensional, yang sesuai dengan pengamatan dengan akurasi tinggi dengan potensi ketidakcocokan dengan fisika dunia nyata.

Para peneliti mengevaluasi skenario gempa-tsunami terhadap beberapa set data yang tersedia. Kecepatan pecah supershear yang berkelanjutan, atau ketika bagian depan gempa bergerak lebih cepat dari gelombang seismik di dekat sesar yang tergelincir, diperlukan untuk mencocokkan simulasi dengan pengamatan.

Amplitudo gelombang tsunami yang dimodelkan sesuai dengan pengukuran gelombang yang tersedia dan ketinggian genangan yang dimodelkan (didefinisikan sebagai jumlah ketinggian tanah dan ketinggian air maksimum) secara kualitatif sesuai dengan pengamatan lapangan. Pendekatan ini menawarkan evaluasi cepat berbasis fisika dari interaksi gempa-tsunami selama rangkaian peristiwa yang membingungkan ini.

“Menemukan bahwa perpindahan gempa mungkin memainkan peran penting dalam menghasilkan tsunami Palu sama mengejutkannya dengan pergerakan yang sangat cepat selama gempa itu sendiri,” kata Thomas Ulrich, Ph.D. mahasiswa di Universitas Ludwig Maximilian Munich dan penulis utama makalah ini sebagaimana ditulis dalam phys.org.

“Kami berharap bahwa studi kami akan meluncurkan pandangan yang lebih dekat pada pengaturan tektonik dan fisika gempa yang berpotensi mendukung tsunami lokal dalam sistem patahan yang serupa di seluruh dunia,” harap Ulrich. (afd/phys.org)

Naskah penelitian ini dapat dibaca pada: Coupled, Physics-Based Modeling Reveals Earthquake Displacements are Critical to the 2018 Palu, Sulawesi Tsunami

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here