Menyongsong 1 Juni kembali Ke semangat Pancasila

0
137
Mirza

Oleh : Mirza,S.Kom

Pelaksanaan Pemilihan Presiden (Pilpres) yang baru saja usai telah membagi kita dalam dua klasifikasi dukungan terhadap Pasangan Jokowi-Ma’aruf Amin dan pasangan Prabowo-Sandi, yang baik dalam masa kampanye sampai pada di umumkannya pasangan Jokowi-Ma’aruf Amin sebagai  Presiden dan wakil presiden terpilih telah menenggelamkan Kita rakyat Indonesia dalam Isu-isu yang  sangat Sensitif yang bisa saja memicu perpecahan di antara kita.

Penggiringan Opini oleh elit-elit Politik telah menimbulkan banyak gejolak sosial di banyak daerah di bangsa ini. Kerusuhan pada 21-22 mei pekan lalu yang telah menelan korban jiwa adalah satu dari pada dampak penggiringan Opini yang Mengarahkan Kita Pada Posisi menegasikan semangat para pendiri bangsa dalam membangun dan memperjuangan bangsa Ini di masa revolusi fisik pada 1945. Semangat kebangsaan yang termaktub dalam poin ketiga Pancasila yakni Persatuan Indonesia telah diciderai dengan paradigma-paradigma rasis yang di jadikan bahan kampanye pada Pilpres harus kembali di revitalisasi pada peringatan kelahiran Pancasila 1 Juni 2019 yang akan di laksanaan Pada pekan mendatang.

Revitalisasi Semagat Pancasila

Peringatan hari lahirnya Pancasila pada 1 juni pekan mendatang harus kita jadikan sebagai mementum merajut kesatuan dan persatuan Kebangsaan sebagaimana dalam proses lahirnya (Pancasila) yang ditandai oleh Pidato Bumg Karno pada Sidang BPUPKI yang secara substansi menekankan pada Point semangat kebangsaan Sebagai awal dan dasar pembangunan bangsa ini.

Secara Substansi Bung Karno memandang bahwa kepentingan kebangsaan adalah hal yang paling urgent di atas kepentingan-kepentingan yang lainnya. Hal ini yang kemudian pada pelaksanaan Pilpres lalu telah diabaikan sehingga telah memprovokasi kita untuk terjun bebas dan menenggelamkan diri pada perdebatan-perdebatan yang Menegasikan semangat kebangsaan ini. Alhasil kita terpecah-pecah di atas kepentingan masing-masing golongan dan talah bergerak jauh dari pada Proses pengamalan Pancasila sebagaimana yang telah di wariskan ke kita dari para Pendiri bangsa.

1 juni Medatang harusnya menjadi alarm keras buat kita untuk menanggalkan segala perdebatan dan kembali pada semangat dan peng-amalan yang seharusnya. terkait pedoman berbagsa dan bernegara yang di dasari oleh falsafah Pancasila sebagaimana seharusnya.

Nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila adalah realitas Sosio-Kultural yang di gali dari kebiasaan masyarakat indonesia sejak lama, dapat di simpulkan bahwa pancasila merupakan representasi daritataran realitas dan tataran Idea masyarakat Indonesia yang seharusnya jika di jadikan Pedoman dapat meminimalisir tindakan-tindakan provokatif yang memicu Perpecahan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Belajar Semangat Persatuan dari Parigi Moutong di masa lalu pada saat bangsa Indonesia masih dalam Proses perjuangan menentukan jati dirinya dan eksistensinya. Di wilyah teluk Tomini yang saat ini menjadi kabupaten Parigi Moutong. Juga semangat kebangsaan dan persatuan tersebut termaktub dalam Perlawanan terhadap kolonialisme yang merupakan satu bagian Perjuangan dari perjuangan di daerah-daerah lain di Bangsa ini.

Daerah yang masih mengenal sistem kerajaan dan di setiap wilayah di kepalai oleh kepala suku yang di sebut Ologian, pada dasarnya upaya mempraktekan penepatan kepentingan bersama (Kebangsaan) di atas semua kepentingan dalam Menghalau ambisi Kolonialisme belanda untuk menguasai daerah ini  sudah sudah termanifestasikan dalam sejarah perlawanan perang terhadap kolonialisme di masa lampau.

Pada saat itu ambisi Kolonialisme belanda untuk menguasai daerah teluk Tomini ini di sambut dengan perlawanan Perang oleh masyarakat Teluk Tomini. Bahkan Perlawanan Perang tersebut telah mengundang solidaritas dari daerah daerah tetangga di antaranya adalah Ologian sojol, ologian dondo, Magau Balaesang, magau Dampelas ( dari daerah Toli-toli ), dari kepualauan Walea dan kepulauan Togean bahkan solidaritas tersebut datang dari daerah Balantak. bukti bahwa solidaritas dan kebudayaan gotong royong masih sangat kental sebagai asas dan pedoman hidup.

Tercatat bahwa semangat persatuan masyarakat teluk Tomini dan solidaritas daerah daerah tetangga sebagai representasi dan pengamalan semangat gotong royong termaktub dalam penggalan syair berikut;

“Berjuang Bahu Membahu, Sehidup semati. Sojol Dampelas Balaesang Bersatu Hati.

Ologian Pepitu Penguasa Adat Tomini, Bersatu tekad Mengusir Kompeni.

Boinampal Bolano Lambuni di sayap Kiri. Siavu Sipayo Sipande Sidole Sudah Berdiri.

Sempurna Sudah Persatuan Putra Tomini, Polu Posamatului menjadi saksi “.

Substansinya bahwa falsafah kebangsaan dapat di lihat dari pada Praktek Persatuan di atas segala kepentingan. Harusnya di era ini Konsentrasi Kita sebagai bangsa Indonesia adalah menempatkan segala perdebatan dalam komentum Pilpres sebagai upaya menjaga bangsa Indonesia tetap pada koridor falsafah Pancasila sebagaimana merupakan warisan dari pada para Pendiri banga dan para Pendahulu kita di masa lampau dan menhindari Perpecahan serta ambisi berlebih dan menjadikan persatuan dan semangat kebangsaan Sebagai tumbal untuk Ambisi kekuasaan.

Pilpres telah usai semangat kebangsaan dalam pancasila harus kembali kita Hidupkan dalam pengamalan kita sebagai warga Negara dan momentum 1 juni mendatang harus menjadi alarm buat kita untuk merajut kesatuan dalam Bingkai Semangat kebangsaan Untuk bangsa Indonesia yang mandiri dan berdaulat.

*) Penulis Adalah ketua Jaringan kemandirian Nasional Kab. Parigi Moutong

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here