Pemilik Dua Kontainer Kayu Eboni Resmi Ditahan

0
1446

PALU, beritapalu | Pria berinisial HA resmi ditahan di Rutan Kelas II Palu terkait kepemilikan dua kontainer kayu ebony oleh Penyidik PNS Balai Gakkum Sulawesi & PPNS Direktorat Penegakan Hukum Pidana, Selasa (7 Mei 2019).

Penyidik PNS Balai Gakkum Sulawesi & PPNS Direktorat Penegakan Hukum Pidana. (Foto: istimewa)

Penahanan itu didasarkan hasil pemeriksaan terhadap saksi-saksi dan fakta di lapangan dan diperoleh cukup bukti bahwa  HA  adalah sebagai pemilik dua kontainer kayu eboni tersebut.

Sebelumnya juga pada 28 April 2019 juga dilakukan penahanan terhadap HDR yang merupakan ganis canhut/ganis PKGR atau pejabat penerbit dokumen kayu yang bekerja di industri yang merupakan kepunyaan HA.

Sebelumnya pada 13 Maret 2019 sekitar pukul 11.30 WIB di lokasi perairan Laut Jawa pada koordinat 6°52’143” LS dan 112°49’841” BT Provinsi Jawa Timur kapal patroli Bakamla RI KM Belut Laut mengamankan KM Meratus Minahasa yang berangkat dari pelabuhan Pantoloan Palu yang mengangkut dua kontainer kayu eboni berjumlah hampir 10.000 batang atau sekitar 26,4486 m3 yang akan dikirim ke Shanghai dan Huangpu, Cina.

Setelah dilakukan pemeriksaan oleh personil Bakamla diketahui bahwa KM Meratus ternyata tidak dapat menunjukkan dokumen keabsahan sebagai legalitas yang menyertai kayu tersebut yaitu SKSHH dan dokumen ekspor akhirnya kapal KM Meratus dikawal dan bersandar di pelabuhan Surabaya.

HA dipersangkakan dengan Pasal 78 ayat (5) Jo Pasal 50 ayat (3) huruf e Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan Jo sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 83 ayat (1) huruf b Jo Pasal 12 huruf e dan/atau Pasal 87 ayat (1) huruf a Jo Pasal 12 huruf k dan/atau Pasal 88 ayat (1) huruf a dan b Jo Pasal 14 dan Pasal 16 dan/atau Pasal 109 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP.

Direktur Penegakan Hukum Pidana Kementerian LHK Yazid Nurhuda SH MA menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu proses penyidikan kasus ini terutama informasi awal dari masyarakat yang direspon dengan baik oleh pihak Bakamla RI.

“Dari sisi kerugian negara  nilai jual di pasaran terhadap eboni tersebut ditaksir sebesar Rp1,5 miliar. Namun nilai itu belum termasuk kerugian akibat kerusakan ekologis, ekosistem hutan, air  yang menopang kehidupan masyarakat sekitar dan lingkungan hidup secara keseluruhan yang tidak ternilai harganya,” ujar Yazid Nurhuda.

Ia berharap, proses penyidikan  ini dapat diketahui oleh khalayak ramai sehingga memberi efek jera bagi para pelaku kejahatan lingkungan hidup dan kehutanan.

Yazid juga berharap proses persidangan dapat dilaksanakan secepatnya untuk memberikan kepastian, kemanfaatan dan keadilan hukum dan putusannya nanti memberikan efek jera bagi pelaku dan juga pihak-pihak lain yang selama ini terlibat. (afd/*)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here