ACT Telah Bangun 1.200 Unit Huntara di Sulteng

0
106

PALU, beritapalu | Lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) telah membangun sedikitnya 1.200 unit hunian sementara (Huntara) sejak bencana gempa bumi, likuefaksi, dan tsunami yang melanda Palu, Sigi, Donggala, dan Parigi Moutong 28 September 2018.

Overseas Director Peace Winds Japan Rika Yamamoto (kiri) menyerahkan kunci seacar simbolis kepada Staf Ahli Gubernur Sulteng Norma Mardjanu (tengah) didampingi Kepala Cabang Aksi Tanggap Cepat (ACT) Sulteng Nurmarjani Loulembah pada peresmian Hunian Sementara (Huntara) terintegrasi di Kelurahan Tondo, Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (25/4/2019). (Foto: Basri marzuki/bmzIMAGES)

Jumlah huntara itu tersebar di 13 titik di wilayah terdampak bencana dan seluruhnya menggunakan konsep terintegrasi atau Integrated Community Shelter (ICS).

“Seluruh huntara yang dibangun itu adalah hasil kolaborasi beberapa lembaga kemanusiaan lainnya, baik di dalam negeri maupun luar negeri,” ungkap Kepala Cabang ACT Sulawesi Tengah, Nurmarjani Loulembah pada peresmian 160 unit ICS yang terletak di Kelurahan Tondo, Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (25 April 2019).

Menurut Nurmarjani, meskipun pemerintah sudah menyetop pembangunan Huntara dan beralih ke hunian tetap (Huntap), namun pihaknya tetap melakukan pembangunan, karena masih banyak di antara korban bencana yang hingga kini masih hidup di tenda-tenda pengungsian dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.

Sama dengan Huntara yang dibangun di tempat lainnya, Huntara yang didirikan ACT di Kelurahan Tondo yang jumlahnya 160 unit ini, juga menggunakan konsep terintegrasi yang dilengkapi dengan sarana ibadah, WC umum, taman bermain anak, dan sejumlah fasilitas pendukung lainnya.

Huntara yang dibangun di Tondo tersebut dikolaborasikan dengan Peace Winds Japan yang dikenal sebagai salah satu lembaga yang cukup aktif dalam gerakan kemanusiaan di sejumlah negara.

Overseas Director Peace Winds Japan, Rika Yamamoto yang berkesempatan hadir langsung dalam seremoni peresmian itu mengatakan, dirinya sangat memahami kondisi para korban bencana di Sulawesi Tengah. Betapa tidak katanya, Japan juga akrab dengan bencana.

“Kita belajar dari pengalaman masing-masing, dan berbagi agar bencana yang tidak kita tahu kapan datangnya, sedikitnya membuat kita menjadi waspada dan bisa membuat antsipasi jika benar-benar terjadi,” sebutnya.

Yamamoto yang saat itu disertai stafnya, Kaori Honda bahkan mempresentasikan pengalaman-pengalaman tersebut di hadapan para undangan yang hadir tentang langkah-langkah penanganan ketika Jepang dilanda bencana gempa bermagnitude 9.0 pada 2011 lalu.

“Bantuan yang kami berikan ini adalah bantuan dari rakyat Jepang. Kami semua prihatin dengan bencana yang melanda saudara-saudara kita di daerah ini,” sebut Yamamoto.

Peresmian huntara ICS tersebut ditandai dengan penandatanganan prasasti dan penyerahan simbolis kunci huntara dari Rika Yamamoto kepada Gubernur Sulteng yang diwakili staf ahli Siti Norma Mardjanu dan disaksikan langsung oleh Kepala Cabang ACT Nurmarjani Loulembah. (afd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here