Buku Ekspedisi Palu-Koro Diluncurkan di Jakarta

0
134

JAKARTA, beritapalu | Sebuah buku dan film yang mencatat berbagai temuan sebelum terjadi peristiwa bencana 28 September 2018 di Palu, Sigi, dan Donggala diluncurkan di Ruang Serba Guna Pepustakaan Nasional, Jakarta, Selasa (23 April 2019).

Prosesi peluncuran buku Ekspedisi Palu-Koro di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Selasa (24/4/2019). (Foto: istimewa)

Selain memuat rekam jejak gempa di Sulteng, buku itu juga memuat pengalaman-pengalaman masyarakat ketika terjadi gempa yang pernah terjadi, bagaimana respon terhadap bencana tersebut, dan kekayaan alam dan keindahan Sulawesi Tengah, sebagai wilayah tempat bertemunya tiga lempeng.

Seremonial peluncuran dilakukan oleh Daputi I Badan nasional Penanggulangan Bencana, Wisnu B. Wijaya.

Buku yang disusun setelah melalui ekspedisi itu, sejatinya memang akan didokumentasikan dan akan menjadi catatan hasil perjalanan timnya.

Ketua tim Ekspedisi Palu-Koro Trinirmalaningrum yang juga Direktur Skala mengatakan, ekspedisi itu dilakukan dalam rentang waktu 2017 dan 2018. Buku yang kini diluncurkan itu akan menjadi bahan kampanye untuk upaya pengurangan risiko bencana, terutama di Sulteng.

“Tetapi memang gempa tidak bisa diprediksi secara presisi,  peristiwa gempa, tsunami dan likuefaksi datang lebih dahulu. Tentu kami sempat gamang, karena proses pembuatan film dokumentasi serta buku masih berjalan,  yang sebenarnya melalui dua media tersebut, kami ingin mengabarkan ke berbagai pihak, bahwa ada sesar Palu-Koro yang  bisa menjadi pembunuh “mengintai” yang membutuhkan perhatian kita semua. Sayang malang tak bisa ditolak. Padahal catatan tentang peristiwa gempa sudah banyak dikabarkan,” ujarnya.

Dalam buku itu disebut, catatan tertua tentang gempa yang terjadi di Sulawesi tengah adalah yang dibuat oleh Alfred Russel Wallace (Abdullah, MT), dalam buku Tsunami Di Telukpalu dan SesarPalu-Koro, disebutkan saat berkunjung ke Sulawesi Utara pada Juni -September 1859 pukul 20.15, menurut catatan Wallace sedang membaca buku di pondokannya di Rurukan, tiba-tiba tanah bergetar, awalnya getaran lemah, tetapi lama kelamaan menjadi lebih kuat. (The Malay Archipellagi-1869).

Sejarah gempa bumi di Sulawesi Tengah tercatat sejak abad ke 19. Beberapa di antaranya mempunyai magnitude yang cukup besar. Tahun 1968 (6,7 SR) dan 2005 (6,2 SR). Gempa yang terjadi ini juga diikuiti dengan peristiwa tsunami yang cukup tinggi, di bagian SelatMakasar, seperti yang terjadi tahun 1972 di Teluk Palu, dengan ketinggian gelombang mencapai 15 meter, tahun 1968 di Mapaga – 10 meter, dan di Simuntu – Pangalaseang mencapai 4 meter.

Pascagempa dan tsunami di Aceh tahun 2004,  menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat di Sulawesi Tengah, beberapa narasumber yang  ditemui oleh tim ekspedisi menyatakan, gempa dan tsunami mengajarkan untuk mulai waspada bahwa gempa dan tsunami bisa terjadi suatu waktu di wilayah Sulawesi Tengah.

Kesadaran yang mulai tumbuh kemudian dibarengi dengan berbagai program pengembangan yang dilakukan pemerintah, dengan dukungan UNDP melalui program SFDRR  –  Safer Community through Disaster Risk Reduction tahun 2012 – 2014.

“Sayang program ini kemudian tidak dilakukan terus menerus dan berkesinambungan,” sesalnya.

Peluncuran buku itu juga ditandai dengan diskusi yang dinarasumberi sejumlah pihak yang berkompeten seperti Trinirmalaningrum, kedutaan besar New Zealand, Ketua Tim Ekspedisi Palu-Koro, Sukmandaru Prihatmoko, Neni Muhidin, Lian Gogali, Wahyu, dan dari BNPB. (afd/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here