Pekerja Padat Karya Manfaatkan Puing Rumah Jadi Barang Kerajinan

DONGGALA, beritapalu | Disupport Relawan untuk Orang dan Alam (ROA) dan United Nation Development Programme (UNDP), pekerja padat karya di Desa Tompe Kecamatan Sirenja Kabupaten Donggala memanfaatkan puing-puing rumah yang hancur akibat gempa menjadi barang kerajinan.

Usaha pembuatan gelang dari puing rumah oleh pekerja padata karya di Desa Tompe Donggala. Insert: gelang hasil kerajinan. (Foto: Abal)

Puing rumah yang hancur di wilayah pantai Desa Tompe mencakup sekitar 200 unit. Kesulitan bagi pemiliknya bertambah dengan naiknya air pasang dan menggenangi hunian darurat mereka. Adaptasi dengan kondisi pascabencana seperti makin terasa.

Namun seorang pekerja padat karya, Risnawati (35), menangkapnya sebagai peluang dengan memanfaatkan barang-barang yang berserakan. Bersama rekan lainnya sesame pekerja padat karya, Ia mengumpulkan kain-kain dan diolah kembali menjadi barang kerajinan bernilai ekonomis.

“Saya lihat  banyak kain-kain yang berserakan di sekitar puing-puing dan saya ajak teman lainnya  untuk mengumpulkan dan membersihkannya sehingga mudah untuk memilih mana yang cocok untuk dibuat kerajinan,” ungkap Risnawati.

Karean siang hari harus bekerja, maka Risnawati memanfaatkan waktu malam hari bersama perempuan lainnya membersihkan kain-kain yang mereka kumpulkan dan mulai menyiapkan peralatan seperti gunting dan bahan selang bening. Kain yang telah dibersihkan kemudian dirangkai menjadi kerajinan tangan berupa gelang tangan.

Menurutnya, untuk membuat gelang dari bahan baku kain tidaklah sulit dan membutuhkan waktu yang lama.

”Cara buatnya gampang sekali tapi kita hanya butuh memilih corak-corak yang menarik untuk dipadukan sampai jadi gelang,” ujar ibu dari lima orang anak itu.

Hasil kerajinan yang dihasilkan Risnawati bersama-sama teman senasib sepenanggungan sebagai korban gempa dan tsunami berupa gelang-gelang cantik itu dijual seharga Rp.5.000 per gelang.

Sejauh ini aku Risnawati, ia dan temannya sudah mendapat order 50 gelang masyarakat setempat.

”Saya dan teman-teman berharap agar usaha kami ini bisa mendapat sambutan dari seluruh masyarakat dan mau membeli termasuk membantu memasarkan gelang-gelang kami agar kami bisa mendapatkan tambahan pendapatan,” harapnya.

Risnawati sebelum peristiwa gempa yang tejadi 28 September 2018 silam adalah penjual ikan di Desa Tompe. Namun usaha itu tersendat karena sejumlah nelayan yang ada di Tompe kehilangan perahu, mesin dan alat tangkapnya. (bal)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Dua Pelaku Curanmor di Palu dan Sigi Dibekuk Polisi

Mon Apr 1 , 2019
PALU, beritapalu | Dua pelaku curanmor yang beroperasi di Kota Palu dan Sigi dibekuk jajaran kepolisian Subdit Kejahatan dan Kekerasan (Jatanras) Polda Sulteng. Kedua pelaku itu masing-masing berinisial FB alias RY (21 tahun) dan FM alias F (17 tahun). Keduanya dibekuk setelah adanya laporan kehilangan motor oleh warga pada 22 […]

Recent Post