Digulung Tsunami, Haris Tetap Berusaha Berdiri Tegak

0
564

PALU, beritapalu | Panas terik yang membakar bukan sesuatu yang sepantasnya dikeluhkan. Jangankan itu, gulungan gelombang tsunami yang memporak-porandakan rumah dan peralatan melautnya, tak menghentikannya untuk tetap tegak berdiri menjalani hidup.

Haris, berdiri di dekat perahu bantuan dermawan di pantai Kampung Lere, Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (8/3/2019). ( Foto: Basri Marzuki/bmzIMAGES)

Demikianlah sosok Haris, seorang pria 50 tahun yang tak luput dari terjangan tsunami 28 September 2018.

Ia sedang membungkus baling-baling mesin perahunya yang berjejer di antara puluhan perahu di pantai Kampung Lere ketika beritapalu.com menyapanya, Jumat (8 Maret 2019). Perahu hasil sumbangan dari seorang dermawan itu baru saja dicat putih, membuat silau diterpa matahari siang itu.

“Alhamdulillah, sudah bisa melaut kembali,” ujarnya.

Haris adalah salah seorang korban tsunami di pantai itu. Rumahnya yang terletak tidak jauh dari pantai nyaris habis. Selama sepekan ia sempat mengungsi ke halaman Masjid Agung, namun tidak betah, dan lagi pula ibunya sakit.

Ia kembali ke rumah dengan kondisi apa adanya. Lantai yang terbelah, dinding yang retak dan yaris rubuh.

“Mau tidak mau harus kembali ke rumah. Di tenda tidak mungkin, apalagi kondisi ibu saya sedang sakit. Tidak mungkin bisa merawatnya di dalam tenda,” sebutnya.

Bukan alasan itu saja yang menguatkan Haris balik ke rumah. Di tenda menurutnya bikin pusing, dan hanya berharap bantuan.

“Sulit rasanya hanya berharap dari bantuan. Lebih baik pulang dan berusaha sendiri,” tegasnya.

Ia tegar menghadapi cobaan hidup itu. Dalam banyak keterbatasan, ia berusaha tetap bangkit.

Ketika pulang di rumah, pikirannya terus melayang ke laut untuk menghidupi keluarganya. Perahu yang sudah compang-camping akibat tsunami ditambalnya dan dipakai kembali untuk memancing ikan. Tak banyak yang dapat ditangkap, tapi sekali lagi, pendiriannya teguh, dapur keluarga harus tetap mengebulkan asap.

Hingga suatu hari seorang dermawan melihatnya memakai perahu compang-camping itu pulang melaut.

“Orang itu meminta dibawa ke rumah saya juga. Yah saya bawalah. Lalu dia menangis melihat rumah saya. Orang itu bertanya, kenapa kamu tetap tinggal di rumah yang tidak layak begini? Saya jawab, saya harus bagaimana lagi. Saya tidak bisa berharap dari bantuan, saya harus bisa berusaha sendiri,” cerita Haris.

Tanpa banyak tanya lagi, sang dermawan langsung menyatakan akan memberikan sebuah perahu dan perahu itu telah digunakannya untuk melaut kembali dan menghidupi keluarganya.

Persoalan tidak selesai sampai disitu karena perahu saja tak cukup. Beruntung seorang rekan Haris juga memercayainya, sehingga satu unit mesin katinting dipinjamkan kepadanya agar perahu bantuan itu bisa dioperasikan.

“Selalu ada jalan jika kita mau berusaha. Alhamdulillah, teman itu pinjamkan mesin perahunya, dan sekarang sudah saya pakai,” sebut Haris sumringah.

Sejak perahu lengkap dengan mesin itu berada di tangannya, saban hari Haris terlihat di laut. Tanggungjawabnya terhadap keluarga menjadi sangat prioritas.

Lumayan katanya, sehari bisa mendapatkan sampai Rp50.000 dari hasil penjualan ikan-ikan hasil pancingannya. Nilai itu belum diperkurangkan dengan ongkos bahan bakar dan biaya-biaya lainnya. Tapi kata Haris, sedikitnya Rp30.000 setiap hari sudah menjadi setoran pokok untuk keberlanjutan hidup keluarga.

Nilainya memang tidak banyak, tapi bagi Haris, kesyukuran itu tetap harus dipanjatkan karena masih ada yang bisa diusahakan dan tidak semata mengharap bantuan yang kerap kali mengabaikan sisi martabat kemanusiaan.

Haris kembali mengelus perahunya dengan dada telanjang di bawah terik sinar matahari. Ia tak peduli, matanya yang tajam sesekali memandangi pantai yang masih meninggalkan jejak tsunami. Sesekali pula melihat ke laut lepas Teluk Palu, di sana hidupnya dipertaruhkan. (bmz)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here