ICRC Gelar Pelatihan Manajemen Jenazah Korban Bencana

0
215

PALU, beritapalu | International Committee of the Red Cross atau Komite Internasional Palang Merah (ICRC) menggelar pelatihan tentang manajemen penanganan jenazah korban bencana di Palu selama tiga hari, mulai Selasa (26 Februari 2019) dan akan berakhir Kamis.

Seorang peserta memeragakan cara mengenakan perlengkapan sebelum melakukan evakuasi jenazah korban bencana pada pelatihan Manajemen Jenazah Korban Bencana yang digelar ICRC di Palu, Rabu (27/2/2019). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Pelatihan itu melibatkan beberapa institusi yang secara aktif dan memiliki perhatian khusus pada upaya penanganan jenazah pasca bencana gempa bumi, tsunami dan likuifaksi tahun lalu, seperti TNI, Polri, Dinas Sosial, BPBD, akademisi, Palang Merah Indonesia (PMI), Dompet Dhuafa, dan beberapa istitusi dan organisasi lain berjumlah 49 orang.

Rangkaian kegiatan ini difasilitasi oleh pakar forensik ICRC, Eva Bruenisholz, dan dihadiri oleh Kepala Delegasi Regional ICRC untuk Indonesia dan Timor-Leste, Alexandre Faite.

Hari pertama kegiatan diisi dengan diskusi dan sharing tentang penanganan korban saat bencana 2018 lalu dan dilanjutkan dengan sesi praktik pencarian dan pemulihan jenazah pada hari kedua dan ketiga.

Dalam acara pembukaan yang juga dihadiri oleh Muhammad Muas, Pengurus Pusat Bidang Relawan PMI, dan dibuka secara resmi oleh Mohammad Faizal, Asisten I Bidang Kesra Pemda Provinsi Sulawesi Tengah, Alexandre Faite mengungkapkan apresiasi mendalam atas upaya dan kerja keras semua pihak terkait penanganan jenazah pasca bencana di Palu. Dia menekankan bahwa diskusi dan sharing ini penting bagi ICRC untuk mendengar pengalaman dari semua pihak yang terlibat di lapangan.

“ICRC mengadakan kegiatan seperti ini bukan untuk menggurui tetapi untuk belajar dari pengalaman respon bencana Sulawesi Tengah. Dari pengalaman itu, kami berharap untuk bisa bekerja sama dalam mengembangkan dan merumuskan kembali beberapa panduan tanggap bencana berskala besar di bidang manajemen jenazah,” kata Alexandre Faite.

Sementara itu, sesi praktik pencarian dan pemulihan jenazah pada hari kedua dan ketiga didasarkan pada panduan yang disusun bersama-sama oleh beberapa organisasi internasional, termasuk ICRC dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Sesi ini diikuti oleh para relawan dan memperkenalkan kepada peserta tentang praktik dan standar pencarian dan pemulihan jenazah yang sudah diterima secara internasional.

Menurut Eva Bruenisholz, sesi ini penting bagi responden pertama karena mereka adalah aktor penting di lapangan pada saat bencana.

“Peran responden pertama sangat penting karena keberhasilan untuk mengidentifikasi korban, terutama ketika korban dalam jumlah yang sangat besar, sangat bergantung pada langkah-langkah yang ditempuh oleh perespon pertama,” papar Eva.

Dalam beberapa dekade terakhir, forensik, terutama manajemen jenazah, menjadi perhatian ICRC. Sebagai organisasi yang bergerak di bidang kemanusiaan, ICRC hendak memastikan agar jenazah orang-orang yang meninggal pada saat konflik atau bencana, atau ketika bermigrasi, diperlakukan dengan penuh hormat dan secara bermartabat. (afd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here