Optimis Menjalani Hidup dengan Jualan Hasil Kebun Sendiri

0
124

IBU Dince sibuk menuang cabainya ke dalam literan di atas meja kayu di pondok jualannya. Ia harus mengisi kembali literan itu, karena baru saja seorang pelintas membeli seliter untuk dibawa  ke  Palu. Seliter cabai atau rica itu dijual seharga Rp 20.000,-.

Menjual cabai atau rica bagi ibu Dince adalah pekerjaan yang dilakoninya sejak beberapa tahun lalu. Namun ia mengaku, berjualan seperti itu tidak setiap hari dilakukan, hanya pada waktu-waktu tertentu, terutama jika ada hasil kebun yang bisa dijual lagi.

Perempuan 60 tahun itu menjual hasil kebunnya di pinggir jalan Trans Palu-Kulawi, Desa Salua. Letaknya tidak jauh dari Gapura perbatasan Kecamatan Gumbasa-Kulawi, Kabupaten Sigi, tepat sebelum tikungan menanjak bekas longsoran.

Ia tidak sendiri menjual di  tempat itu, melainkan beberapa orang yang kesemuanya adalah ibu-ibu. Bangunan tempat menjualnya sangat sederhana, terbuat dari  potongan-potongan kayu dengan atap dari bahan daun rumbia.

Selain menjual rica, ada pula buah manggis dan langsat.

“Kalau manggis dan langsat dijual kalau lagi musim, tapi kalau tidak musim, cuma rica saja,” sebut ibu Dince.

Semua buah yang dijual itu adalah hasil dari kebunnya sendiri.

Belakangan, intensitas menjual di tempat yang sejuk dengan pepohonan rindang nan sejuk itu semakin intens dilakukan. Katanya, itu dilakukan sejak gempa 28 September 2018 lalu.

“Rumah kami juga rusak, tapi masih bisa diperbaiki, tapi yang rusak berat itu kebun coklat. Banyak pohon coklat yang mati karena tanahnya bergerak dan terangkat,” akunya.

Awalnya ia sempat mengungsi ke lapangan di desanya ketika goncangan bermagnitude 7,4 SR itu. Namun hanya beberapa hari kemudian ia bersama keluarganya memutuskan untuk kembali ke rumahnya dengan tentu saja lebih dulu memperbaiki bagian-bagian yang rusak.

Sebelumnya, ia bersama sang suami lebih banyak menghabiskan waktu  di kebun coklat itu. Namun sejak bencana itu melanda, tidak banyak lagi yang bisa diharapkan dari pohon-pohon coklat yang satu per satu mati dan mengering itu.

“Makanya sekarang kami lebih banyak  jualan di sini, beruntung masih ada kebun rica dan beberapa pohon buah lainnya yang tidak rusak sehingga bisa kami menjualnya. Kalau tidak begitu, mau makan dari mana kami,” ujarnya lirih.

Menurutnya, berjualan di tempat itu sedikit banyaknya bisa membantu mengebulkan asap dapurnya. Paling tidak katanya, dari  hasil jualan itu ada yang bisa dibelanjakan untuk kebutuhan pangan lainnya seperti beras, atau gula.

“Lumayanlah, kan selalu ada orang yang lewat dan berhenti di sini,” ujarnya.

Meski tekanan hidup terus menderanya, namun sedikit pun ibu Dince tidak memperlihatkan kerisauan mendalam atas kondisi itu. Di tengah hilir mudiknya kendaraan di jalur yang kerap longsor itu, ia tetap menancapkan optimsme dalam dirinya.

Dengan senyum ramahnya ia selalu menyapa para pelintas yang mampir di tempatnya.

Naskah dan Foto: Basri Marzuki

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here