Pasigala Center Sarankan Bangun Pusat Studi Bencana Geologis di Palu

0
189

PALU, beritapalu | Pemerintah Pusat disarankan bangun Pusat Studi Bencana Geologis di Kota Palu mengingat daerah ini memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap bencana geologis seperti gempa bumi, tsunami, likuiefaksi, penurunan permukaan, tanah Longsor dan banjir.

Palu, Central Sulawesi, INDONESIA, (5th Jan 2019): The rob water inundated the shopping complex and roads in Taman Ria, Lere, Palu, Central Sulawesi, Indonesia, on Saturday (1/5/2019). The 7.4 magnitude earthquake that occurred on September 28, 2018 caused a land subsidence (down lift) in the area to reach 1.5 meters. The earthquake also caused a tsunami that killed more than 2,100 people. bmzIMAGES/Basri Marzuki

Sekretaris Jenderal Pasigala Center Andika mengatakan, mengatasi bencana alam hanya dua, yakni mengulang kepanikan dan ketakutan yang sama atau belajar mitigasi dan mengantisipasinya di masa depan.

“Palu merupakan daerah dengan tingkat kerawanan tinggi terhadap bencana yang bersifat geologis, solusi yang paling tepat pemerintah pusat mendirikan Pusat Studi Nasional Bencana Geologis di sini,” kata Andika.

Menurut Andika, dalam rekaman sejarah kurang dari 100 tahun sejak tahun 1927 hingga 2018, Sulawesi Tengah telah 11 kali diguncang gempa bumi dan 3 kali dilanda tsunami. Frekuensi bencana geologis tinggi seperti itu, harus menjadi peringatan bagi negara untuk belajar banyak hal berkaitan dengan soal-soal mitigasi.

Bagi Andika, proses belajar bencana geologis tidak bisa hanya sekedar tiba masa tiba akal. Maka dari itu, kata Andika, Pemerintah pusat perlu memikirkan Pusat Studi Nasional bencana geologis yang berkedudukan di Kota Palu yang berfungsi menyusun modul hidup pelatihan kebencanaan, penelitian kebijakan kebencanaan, strategi mitigasi, dan juga berfungsi memberikan masukan-masukan dan nasehat pada negara berkaitan dengan penanggulangan bencana alam.

Apalagi kata Andika, Data Bank Dunia menyebutkan bahwa lebih dari 110 juta penduduk tinggal di sekitar 60 kota, sebagian besar terletak di dekat laut yang rentan terhadap bahaya seperti gempa bumi, banjir dan penyakit menular. Kepadatan penduduk yang tinggi serta perkembangan kota-kota besar yang terlalu cepat telah meningkatkan kerentanan penduduk terhadap bencana berskala besar.

“Bangkit dari bencana dan membangun kerangka mitigasi itu kuncinya cuma satu: belajar. Sebab kalau tidak, kita yang diajar: diajar pakai Taso dan Kalsibort; diajar menjernihkan air minum; diajar menyalurkan air; diajar memenuhi kebutuhan dasar; diajar bangun infrastruktur dengan pandu dana hutang,” ujar Andika. (afd/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here