Kapan Lembah Palu Mulai Dihuni?

0
225
Jefrianto (dok pribadi)

TEMUAN paling tua tentang migrasi di kawasan lembah Palu, dimulai dengan penemuan sentra pembuatan gerabah di wilayah Duyu, oleh Arkeolog Museum Negeri Sulteng, Iksam. Jejak pemukiman tua di kawasan Duyu, terletak sekitar satu kilometer di bawah Stadion Gawalise.

Foto lembah Palu jaman dulu.. (foto: dokumentasi Komunitas Historia Sulawesi Tengah-KHST)

Pemukiman tua itu dulunya dihuni oleh penduduk yang bermigrasi dari punggungan Gunung Ulayo (Loeaio). Mereka bermigrasi untuk mencari lokasi hunian yang lebih landai. Penduduk Kaili di masa lalu, kata Iksam, cenderung tidak bermukim di kawasan yang curam atau terjal di Duyu. Mereka cenderung memilih lahan yang lebih landai dan rata, meskipun letaknya di punggungan bukit atau pegunungan.

Menurut Iksam, perkampungan tua tersebut menjadi sentra pembuatan gerabah. Ini menjadi ciri peradaban atau tradisi Megalitik muda, yang mulai berkembang pada sekitar abad 9 Masehi.

Kawasan perkampungan tua tersebut, kata dia, diplih sebagai lokasi tujuan migrasi dari pegunungan, karena dinilai relatif lebih aman dari lokasi lainnya di Duyu. Sebab lokasi tersebut terletak di antara dua aliran sungai dan terletak di antara dua segmen sesar. Sesar tersebut melewati kawasan Pengawu di sebelah timur dan di punggung perbukitan sebelah barat Duyu.

Tertulis tentang migrasi ke lembah Palu di awal abad ke-20 terdapat di buku Ethnographical Studies in Celebes vol 2: Migrations of the Toradja in Central Celebes. Buku itu ditulis oleh etnografer asal Swedia, Walter Kaurdern.

Ia menulis berdasarkan catatan pejabat Kontroliur Palu antara tahun 1907-1909, Hissink, dalam “Nota van toelichting betreffende de zelfbesturende landschappen Paloe, Dolo, Sigi en Beromaroe yang terbit tahun 1912”.

Saat itu, ada empat suku yang tinggal di Lembah Palu, yakni To Palu, To Biromaru, To Sigi, dan To Dolo. To Palu menghuni bagian utara lembah di sisi Sungai Palu. To Biromaru dan To Sigi tinggal di sebelah selatan wilayah To Palu di tepi kanan Sungai Palu dengan pengecualian area kecil di utara Sungai Wuno. Kemudian To Dolo tinggal di selatan Palu di tepi kiri sungai Palu.

Hissink juga mencatat keterangan penduduk asli yang tinggal di lereng gunung timur lembah Palu. Bahwa di pegunungan, bersebelahan dengan lembah, orang-orang secara alami meninggalkan tempat tinggalnya serta yang lainnya dievakuasi.

Populasi yang tertinggal, kini sangat sedikit, dan umumnya disebut oleh To ri Lare (orang yang mendiami kawasan punggungan gunung) oleh penduduk lembah.

Di samping To ri Lare ini yang hidup di lereng gunung di tepi timur Sungai Palu, ada penduduk asli lainnya yang tidak memiliki hubungan dekat dengan empat entitas yang tinggal di lembah. Seperti penduduk Petimbe di Palolo yang merupakan keturunan To Balinggi dari Tana Boa di Teluk Tomini. Atau mungkin To Pebato, suku yang tinggal di Sungai Puna bagian bawah.

Kaurdern juga menuliskan, lebih jauh ke utara, di timur Sungai Palu, ada juga sebuah distrik kecil bernama Lalanggonaoe atau Raranggonau. Menurut Hissink, penduduk daerah itu berasal dari Dolago di Teluk Tomini.

Hissink menuliskan, ada sebuah desa besar di Dolago, yang disebut Korentu’a, dibakar habis akibat perang. Dalam pertempuran ini, sejumlah besar orang Parigi terbunuh dan diusir. Jadi Toramengganau (Raranggonau) yang sekarang tinggal di pegunungan sebelah timur Biromaru, berasal dari Dolago.

Kaurdern menulis, di samping entitas yang disebutkan oleh Hissink, ada entitas lain yang tinggal di bagian paling selatan lembah. Yakni di sekitar mulut Sungai Gumbasa, Miu, dan Sakuri.

Dalam sudut yang dibentuk oleh Sungai Gumbasa dan Miu, didiami To Pakuli. Sebelah barat bagian bawah Sungai Miu ada distrik Bangga yang penduduknya berbicara dengan bahasa yang sama dengan To Pakoeli.

Berbeda dengan Hissink yang mengklasiifkasikan suku-suku berdasarkan letak geografisnya, ahli linguistik N Adriani membagi klasifikasi suku-suku di lembah Palu berdasarkan aspek linguistik.

Menurut Adriani, hanya ada tiga bahasa asli di lembah Palu, yakni bahasa Palu atau Ledo dengan dialeknya Dori, bahasa Sigi atau Idja, dan bahasa Pakuli atau Ado dengan dialek bernama Edo.

Dari keterangan ini, Kaurdern menyimpulkan, Ledo digunakan oleh To Palu dan To Biromaru, Idja oleh To Sigi dan To Dolo, dan bahasa Ado oleh To Pakuli, To Bangga dan To Sibalaya.

Adapun To Sidondo berbicara dengan dialek Ado yang disebut Edo, sedangkan dialek Dori dituturkan oleh sekitar 1800 penduduk asli yang tinggal di timur Teluk Palu.

Kemudian, terkait proses migrasi, pola migrasi penduduk le lembah Palu dilakukan secara bertahap, turun dari gunung ke lembah.

Di lembah Palu, Hissink yang di masa itu menjabat sebagai Kontroliur Palu, mendengar sejumlah cerita menarik tentang kisah perang antar entitas di lembah Palu di masa lalu dan pergeseran pemukiman mereka pascaperang tersebut.

Penduduk wilayah Palu, sebagaimana ditulis oleh Hissink, tinggal di pegunungan sebelah timur lembah Palu. Di sini mereka memiliki pemukiman besar yang disebut Volo Vatu Palu. Volo Vatu Palu adalah sejenis bambu kecil, yang tumbuhnya merunduk.

Hissink memperkirakan, leluhur To Palu dan To Biromaru berasal dari wilayah yang sama dan berpisah saat migrasi. Penyebab berpisahnya kelompok migrasi ini tidak diketahui, tetapi pada akhir abad ke-17, Francois Valentijn dalam karyanya Oud en Nieuw Oost-Indien pada 1724, telah menyebutkan Palu dan Biromaru.

Kemudian, terkait migrasi To Sigi dan To Dolo, Kaurdern mengutip catatan perjalanan Kruijt dan Adriani di Sigi tahun 1897. Kaurdern menduga To Sigi dan To Dolo berasal dari entitas yang sama.

Mengutip Hissink, pemukiman awal To Sigi terletak di pegunungan sebelah utara Danau Lindu. Permukiman yang teridentifikasi adalah kampung Lewoe (Lewu), Silonga, Wololaoe (Wululau), Oee Malei (Uwe Malei) dan Sigi Poeloe (Sigi Pulu).

Lebih ke utara, To Dolo tinggal di Dolo, Maro, dan Pompewajo. Dari catatan ini, kaurdern memperkirakan, wilayah Sigi yang disebutkan di atas, seharusnya terletak di wilayah Palolo atau di sekitarnya, sedangkan kawasan Dolo di wilayah Sigi saat ini.

Menurut Hissink, To Sigi dan To Dolo tampaknya di masa lalu telah bertarung dengan sengit. Suatu ketika To Dolo dihina oleh To Sigi yang menyulut perang melawan To Sigi.

Dalam perang ini To Dolo muncul sebagai pemenang. Tetapi To Sigi memutuskan untuk membalas dendam dengan mengerahkan serangan penuh dengan bantuan aliansinya yakni To Kulawi, To Benahu, To Bada, To Napu, To Behoa, dan To Tawaelia. To Dolo kemudian berhasil dikalahkan dan terusir dari wilayahnya.

Hissink menulis, To Dolo tidak dapat mengatasi bencana ini, di mana desa-desa mereka dibakar dan mereka melarikan diri ke arah barat, di mana mereka mendirikan pemukiman baru di bukit Pandjopolaki.

Mereka diusir oleh To Sigi dengan cara ini hingga tujuh kali. Dalam pelariannya, To Dolo kemudian tiba di mulut Sungai Wuno, tempat mereka mendirikan kampung yang sekarang, yakni Kota Rindau.

Dari sini mereka menyebar ke Kota ri Pulu, Sibonu, Pewunu, Kaleke dan Pesakoe. Di saat bersamaan, To Sigi juga telah bermigrasi di tempat tinggal mereka saat ini.
Proses migrasi ke lembah itu tidak diketahui, tetapi Valentijn, ketika berbicara tentang Palu dan Biromaru juga menyebutkan Sigi serta Dolo, sebagai wilayah yang independen.

Dari hal ini dapat ditarik kesimpulan, To Sigi dan To Dolo bermigrasi ke lembah pada abad ke-16 atau pada awal abad ke-17.[KabarSultengBangkit/Jefrianto]

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here