Rencana Induk Pemerintah Belum Muat 48 Sesar Aktif di Sulteng

0
237

PALU, beritapalu | Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) meminta Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) untuk menunda pelaksanaan Rencana Induk Pembangunan Sulawesi Tengah pascabencana 28 September 2018.

Seorang ayah menggandeng tangan anaknya berlari menghindari reruntuhan bangunan saat terjadi gempa susulan di Kelurahan Pengawu, Palu, Sabtu (29/8/2018). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

IAGI telah mengirimkan surat kepada Bappenas pada 7 Januari 2019. Reza Permadi dari IAGI, mengatakan, lembaganya meminta penundaan karena peta-peta yang menjadi dasar penyusunan Rencana Induk tersebut belum mengakomodasi potensi bencana di Sulteng secara keseluruhan.

Peta dalam Rencana Induk hanya mendasarkan pada potensi bencana dari Sesar Palu-Koro. Padahal katanya, Sulawesi Tengah memiliki 48 sesar aktif dalam sejumlah segmen. Sesar-sesar itu menjadi potensi bencana bagi masyarakat Sulteng, termasuk Kota Palu, di masa akan datang.

“Sesar Palu Koro itu hanya sesar utama. Banyak sesar-sesar lain di sekitarnya yang tidak diakomodasi dalam Rencana Induk,” kata Reza Permadi di Palu, Senin 14 Januari 2019.

Menurut Reza, pemerintah harus memperbaiki peta dengan menampilkan zonasi mikro yang lebih detil dengan menampilkan sesar-sesar di kedua sisinya, termasuk sesar yang lebih kecil.

Selain itu, peta dalam rencana induk juga tidak memuat peta topografi yang detil dan terbaru serta tidak memakai Peta Geologi Kuarter. Padahal peta Geologi Kuarter itu memuat sebaran jenis batuan, sesar aktif, endapan sungai purba, longsoran purba, mata air, hidrogeologi, dan kedalaman muka air tanah.

IAGI, kata Reza, juga meminta agar Bappenas membuat Rencana Induk atas dasar pemetaan dan memanfaatkan teknologi pengurangan resiko serta mitigasi bencana terbaru.

Ketua Ekspedisi Palu Koro, Tri Nirmala Ningrum, mengatakan, 48 sesar aktif di Sulawesi Tengah punya potensi sama dengan sesar Palu Koro. Sehingga idealnya harus terakomodasi di dalam peta kerawanan bencana.

“Pemerintah sebenarnya bisa melibatkan universitas lokal untuk membuat peta yang lebih detil dan memasukkan seluruh sesar, termasuk sesar-sesar minor,” katanya.

Dengan pemetaan sesar yang detil, kata Tri Nirmala, akan menentukan bagaimana penerapan teknologi untuk mitigasi seperti untuk merancang bangunan tahan gempa.[KabarSultengBangkit]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here