YKMI Distribusikan Air Bersih dan Hygiene Kit Untuk Korban Bencana Sulteng

0
131

PALU, beritapalu | Yayasan Kemanusiaan Muslim Indonesia (YKMI) bekerjasama dengan The United Nations International Children’s Emergency Fund (UNICEF) mendistribusikan perlengkapan kebersihan hidup untuk korban bencana di Sulteng.

Seorang relawan YKMI mengisi tandon dengan air bersih di kamp pengungsi Desa Toaya Vunta, Donggala, Sulawesi Tengah, Jumat (21/12/2018). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Hygiene kit yang didistribusikan itu seperti peluit, deterjen, senter, sabun, pakaian dalam, pembalut pakai ulang dan kain serba guna.

“Pasca bencana di Sulawesi Tengah, perlengkapan kebersihan merupakan hal penting untuk menunjang kesehatan pengungsi yang hidup di tenda-tenda,” ujar penanggung jawab progam Wash YKMI Sulawesi Tengah, Teuku Zulkifli, Jumat  (21/12/2018).

Hingga kini YKMI telah mendistribusikan sebanyak 3.399 perlengkapan kebersihan kepada masyarakat yang terdampak.

“Lima Kecamatan yang menjadi fokus YKMI adalah Kecamatan Banawa, Tanantovea, Labuan, Sindue dan Sirenja,” sebut  Zulkifli.

Rencananya pendistribusian ini akan dilakukan secara berkala. Mulai dari awal November hingga akhir Desember.

“Berdasarkan data yang sudah kami dapatkan  ada sebanyak 13 desa di empat kecamatan di Sulawesi Tengah yang rencanya akan kita datangi untuk memberikan bantuan ini,” sebutnya lagi.

Selain perlengkapan kebersihan, YKMI dan UNICEF juga mendistribusikan air bersih kepada warga secara rutin karena sebagian warga masih kesulitan untuk mengakses air bersih. Hampir  setiap hari distribusi air bersih itudilakukan.

Menurut Zulkifli, Sejak bulan November hingga kini, air bersih telah didistribusikan kepada masyarakat sebanyak 227.500 liter.

Sebelumnya, melalui kerjasama dengan UNICEf sebanyak 88 fasilitas mandi cuci kakus (MCK) telah dibangun oleh YKMI di wilayah Donggala dan Sigi.

Gempa bumi berkekuatan M 7,4 mengguncang Sulawesi Tengah pada Jumat 28 September 2018 disusul tsunami setinggi 2,2-11 meter dengan jangkauan hingga 500 meter, dan likuefaksi di Balaroa, Petobo,  Jono Oge dan Sibalaya Utara.

Berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkirakan sekitar 68.000 rumah telah rusak akibat gempa dan tsunami, sementara sekitar 80.000 orang telah menjadi pengungsi internal sebagai akibatnya. (afd/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here